PENERIMAAN SISWA/SANTRI BARU SMP ISLAM ULUL ALBAB NGRONGGOT

SMP ISLAM ULUL ALBAB  NGRONGGOT


-Berada di lingkungan PESANTREN TERPADU DARU ULIL ALBAB  Kelutan Ngronggot Nganjuk, yang di asuh oleh, DR.KH. KHARISUDIN AQIB, M.Ag.( Wakil Rois Syuriah PCNU NGANJUK. DOSEN UINSA SURABAYA)

*Proses Pendidikan*:

- Setiap hari dipandu dan didampingi oleh guru untuk belajar bahasa Arab, Inggris, Tartil dan TAHFIDZUL QUR'AN, serta kajian kitab kuning (MADIN).

-Santri di latih kewirausahaan ( budidaya sayuran. Beternak dan repecking snack)

- Santri setiap hari makan 3x, tidur di kamar menggunakan ranjang dan  kasur serta Kantin d dekat lokasi asrama

- Santri bisa di jenguk/sambang  sesuai dengan jadwal, di dampingi musyrif/musyifah insyaallah aman. Dan bisa dibuat referensi pilihan pendidikan putra putri BPK/Ibu. ..Nomor kordinasi WA : , *Zainuddin* , *S.Pd.I* .- 0852-5990-5490


📲Medsos Aktif ;

 

Link Ig : https://www.instagram.com/invites/contact/?i=f98zmkb3vkvy&utm_content=kbz8fy0


Link fb : https://www.facebook.com/smpislam.ululalbab?mibextid=ZbWKwL


Link tik tok

https://www.tiktok.com/@smpiua?_t=8Z9vR5hPvAg&_r=1


Link youtube : https://youtube.com/channel/UCQlgOntkB9DRjojyhLPVQOQ


Links  Likee : https://l.likee.video/p/rC47tZ


Berikut kami lampirkan  BROSUR PPDB SMP ISLAM ULUL ALBAB :





Read more…

Aktualisasi Tasawuf dalam Pendidikan Modern (Part III)



Dunia Pendidikan  Modern

Dalam keyakinan Islam, berbagai krisis yang terjadi  merupakan fasad (kerusakan) yang ditimbulkan oleh karena tindakan menusia  sendiri. Ditegaskan oleh Allah :

ظهرالفساد فى البر والبحر بما كسبت أيدالناس ليذ يقهم بع  ض الذي عملوا لعلهم يرجعون

“Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan oleh karena tangan–tangan manusia  supaya mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, barangkali mereka mau kembali ” (QS. ar rum, 30:41)

Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitab Shafwatu al-tafasir menyatakan bahwa yang dimaksud dengan bi ma kasabat aydinnas dalam ayat itu adalah “oleh karena kemaksiyatan-kemaksiyatan dan dosa–dosa yang dilakukan manusia (bi sababi ma’ashi al-naas wa dzunubihim)”. Maksiyat adalah setiap bentuk pelanggaran terhadap hukum Allah, yakni melakukan yang dilarang dan meninggalkan yang diwajibkan. Dan setiap bentuk kemaksiatan pasti menimbulkan dosa .

Selama ini terbukti di tengah–tengah masyarakat, termasuk dalam penataan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, banyak sekali kemaksiatan dilakukan . Dalam sistim sekuler, aturan–aturan islam memang tidak pernah secara sengaja selalu dilakukan. Agama islam, sebagai mana agama dalam pengertian barat, hanya ditempatkan urusan individu dengan Tuhan saja. Sementara dalam urusan sosial kemasyarakatan, agama (islam) ditinggalkan .

Maka di tengah- tengah sistim sekuleristik tadi lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama .Yakni tatanan ekonomi yang kapitalistik, perilaku politik yang oportunistik, budaya hedonistik, kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik, sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialistik. Dalam tatanan ekonomi kapitalistik, kegiatan ekonomi digerakkan  sekedar demi meraih perolehan materi tanpa memandang apakah kegiatan itu sesuai dengan aturan islam atau tidak. Aturan islam yang sempurna dirasakan justru menghambat. Sementara dalam tatanan politik yang oportunistik, kegiatan politik tidak didedikasikan untuk tegaknya nilai –nilai melainkan sekedar demi jabatan dan kepentingan sempit lainnya.

Dalam tatanan budaya yang hedonistik, budaya telah berkembang sebagai bentuk ekspresi pemuas nafsu jasmani. Dalam hal ini, Barat telah menjadi kiblat ke arah mana “kemajuan” budaya harus diraih. Ke sanalah dalam musik, mode, makanan, film , bahkan gaya hidup ala barat orang mengacu. Buah lainnya dari kehidupan yang materialistik–sekuleristik adalah makin menggejalanya kehidupan sosial yang egoistik dan individualistik .Tatanan bermasyarakat yang ada telah memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada pemenuhan hak dan kepentingan setiap individu. Koreksi sosial hampir-hampir tidak lagi dilihat sebagai tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat.
Sementara itu sistem pendidikan yang materialistik terbukti telah gagal melahirkan manusia shaleh yang sekaligus menguasai iptek. Secara formal kelembagaan , sekurelisasi pendidikan ini telah dimulai sejak adanya dua kurikulum pendidikan keluaran dua departemen yang berbeda., yakni Depag dan Depdikbud.Terdapat kesan yang sangat kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) adalah suatu hal yang berada di wilayah bebas nilai, sehingga sama sekali tak tersentuh oleh standart nilai agama. Sementara, pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurang tergarap secara serius.
Jauh sebelumnya, bahkan Hillliard  (1966) – penulis masalah kekristenan dalam pendidikan (Cristianity in Education ) seperti yang dikutip oleh Husain dan Asharaf (1994) dalam buku Menyongsong Keruntuhan Pendidikan Islam , secara transparan telah menjelaskan, bahwa skularisasi pendidikan memang telah meruncing dan akhirnya benar-benar terbentuk di barat pada abad 15 dan 16, yakni ketika terjadi pemisahan cabang-cabang ilmu skuler  dengan cabang-cabang ilmu yang bersumber dari agama. Cabang-cabang ilmu dinyatakan terputus kaitannya dengan persoalan ilahiyah dan hanya bersumber dari akal manusia semata serta tidak perlu dihubungkan dengan agama.

Skelularisasi ini terus berproses dan akhirnya mendorong munculnya cabang-cabang ilmu pengetahuan yang dikategorisasikan pada tahun 1957. Oleh para rektor universitas-universitas Amerika Serikat sebagai ilmu-ilmu sastra, ilmu-ilmu sosial, dan ilmu-ilmu alam”. Penggolongan ini yang kemudian menjadi populer tidak hanya di Amerika serikat dan Eropa, tetapi juga di dunia Islam.  Bahkan, dalam perencanaan kurikulum, untuk universitas-universitan Amerika Serikat, ilmu bernuansa agama tidak dimasukkan ke dalam pengajaran wajib. Para siswa hanya diharapkan mempunyai pengetahuan dasar mengenai ketiga cabang ilmu tersebut.
Pendidikan yang materialistik memberikan kepada siswa sesuatu yang basis pemikiran yang serba terukur secara material serta memungkiri hal-hal yang bersifat non material. Bahkan hasil pendidikan haruslah dapat mengembalikan investasi yang telah ditanamkan oleh orangtua siswa. Pengembalian itu dapat berupa gelar kesarjanaan, jabatan, kekayaan, atau apapun yang setara dengan nilai materi. Agama ditempatkan pada posisi yang sangat individual. Nilai transendental dirasa tidak patut atau tidak perlu dijadikan sebagai standart penilaian proses pendidikan. Tempatnya telah digantikan oleh etik yang pada faktanya bernilai materi juga.
Pengalaman secara mendalam atas semua hal di atas, membawa kita pada satu kesimpulan yang sangat menghawatirkan: bahwa semua itu telah menjauhkan manusia dari hakekat kehidupannya sendiri.  Manusia telah dijauhkan dari hakekat visi dan misi penciptaannya. Fakta krisis kehidupan, akar permasalahan yang sesungguhnya, berikut solusi ideal yang bersifat fundamental secara skematis dapat dilihat dalam bagan-bagan berikut:



  1. Aktualisasi Ajaran Tasawuf  pada Dunia Pendidikan Modern.
    1. Ajaran tentang hakekat ilmu.
Hal yang sangat perlu diaktualisasikan dalam ajaran tasawuf pada dunia pendidikan modern adalah filsafat ilmu. Bahwa pandangan tasawuf terhadap ilmu jauh lebih mendalam dari pada pandangan kaum skuler pada umumnya. Ilmu dalam  pandangan tasawuf adalah cahaya suci. Karena ilmu adalah sifat dari Tuhan yang Maha Suci itu sendiri.

Pendidikan adalah suatu proses untuk mendapatkan ilmu yang suci tersebut. Oleh karena itu, maka prasyarat bagi seseorang orang yang ingin mendapatkan hakekat ilmu (ilmu apa saja), haruslah menjaga kesucian aspek afeksi dari dirinya.Yakni aspek sebagai wadah rahasia (spirit) ilmu.-ilmu dalam islam ada dua bagian,yaitu materi ilmu dan spirit ilmu- Pencari ilmu  harus membersihkan diri dari dorongan–dorongan nafsu materialistis  dan hedonisme yang mengotori jiwa atau hati sebagai wadah dari ilmu sirr (hakekat) ilmu.

Maka aktualisasi dan sosialisasi ajaran tasawuf ,seperti; zuhud, berdo’a, rajin ibadah  dan  puasa adalah sangat diperlukan dalam dunia pendidikan modern yang cenderung hedonistik dan materialistik, yang jelas-jelas telah melahirkan banyak ilmuwan yang tidak kontributif terhadap perbaikan peradaban umat islam, bahkan cenderung menjadi sebab kehancuran peradaban sebagaimana yang sedang kita saksikan. Dalm hal ini Nabi pernah menyatakan; “Barang siapa yang bertambah ilmunya, tetapi tidak bertambah petunjuknya, maka ia tidak akan bertambah kecuali semakin jauh dari Allah”.

    1. Ajaran Psikologi dan Etika Pendidikan
Pandangan tasawuf yang tidak kalah pentingnya untuk diaktualisasikan pada dunia pendidikan modern ini adalah  masalah psikologis. Yaitu psikologi dalam proses transmisi keilmuan, antara guru dan murid, sebagai suatu yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang untuk dapat menguasasi ilmu (kompeten). Kompeten dalam arti penguasaan yang meliputi aspek kognetif, afektiv dan psikomotoriknya. Artinya dengan pengetahuannya, orang tersebut dapat menghayati dengan baik dan dapat mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang murid harus menjaga kondisi psikologis dirinya dan psikologis gurunya. Dia harus mempersepsikan gurunya dengan baik, mencintai dan mengagungkan, serta senantiasa berprasangka baik dengan  gurunya , dan menjaga persepsi guru terhadap dirinya supaya baik. Karena menejemen persepsi komunikasi psikologis antara guru dan murid adalah menejemen transmisi keilmuan dalam aspek afektiv. Dan ilmu yang dapat masuk pada ranah afeksi inilah yang akan berdampak pada aktual atau tidaknya ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan dasar pemikiran inilah maka, adab (tatakrama /etika guru-murid) sangat penting untuk diaktualisasikan kembali dalam dunia pendidikan modern. Seperti; hormat (merendahkan diri di hadapan guru), ta’dhim (menjunjung tinggi martabat guru), dan khidmah (melayani kepentingan guru)  murid terhadap guru. Demikian juga motifasi dan spirit transfer ilmu guru kepada murid, dengan niat yang tulus dan do’a-do’a yang baik harus senantiasa mengalir kepada murid. Dengan rasa sayang yang tulus terhadap murid, maka ilmu guru akan dapat ditangkap dengan baik oleh afeksi murid.

    1. Menjaga ranah Afeksi sebagaimana menjaga ranah kognesi.
Ranah afeksi sebagai bagian penting dalam   sebuah sistem pendidikan, sangat perlu digalakkan.Orang sering cenderung lupa, bahwa alat untuk dapat menguasai ilmu adalah tiga alat. Yaitu; otak, hati dan anggota badan. Otak sebagai alat untuk menampung dan mengolah data ilmu. Hati adalah alat untuk menampung dan mengolah spirit ilmu, dan anggota badan alat untuk melatih dan mempraktekkan ilmu.  

  1. Penutup.
Demikian,sekilas tentang aktualisasi ajaran tasawuf di dunia pendidikan modern. Semoga bermanfa’at untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang  bertaqwa kepada Allah, berakhlak mulia cerdas dan berketrampilan hidup yang selaras dengan zamannya. Selamat berdiskusi untuk menyongsong kejayaan islam. Semoga mendapat ridlo Allah swt.
Read more…

Profil Yayayan Pondok Pesantren Daru Ulil Albab ( YPP DUA)


YAYASAN PONDOK PESANTREN DARU ULIL ALBAB
(YPP. DUA)
KABUPATEN NGANJUK
Sekretariat: PP.Daru Ulil Albab, Jln.Sungai Brantas No.25 Kelutan-Ngronggot-Nganjuk (0358) 6166610
Pengesahan Yayasan Menteri Hukum dan HAM / Nomor : AHU-3875.AH.01.04. Tgl 21/06/2011
Notaris : Slamet SH / Nomor : 04 / 08 / 2005 jo Nomor 88 Tgl 25/10/2010
Nomor Statistik Pesantren: 512. 351 808 003

PROFILYAYASAN PONDOK PESANTREN DARU ULIL ALBAB
Nama
:
YAYASAN PONDOK PESANTREN DARU ULIL ALBAB
Nomor Statistik
:
512.351.808.003.
Akta Notaris
:
Slamet SH / Nomor: 04/ 08/ 2005 / jo Nomor 88 Tgl 25/10/2010
Pengesahan KEMENHUMHAM
:
AHU-3875.AH.01.04. Tgl 21/06/2011
Tahun Berdiri
:
2005, Agustus, Tanggal. 08.
NPWP
:
21.030.928.2-655.000
NO. Rek
:
Bank BRI : 6413-01-003965-53-9
Pendiri
:
1. K. Muhammad Syakur
2. KH. Maulana Ibrohim.
3. K.Masduki Hamam.
4. K.Muhammad Syakur.
:
2. K. Masduqi
:
3. K.H. Maulana Ibrahim ( Alm)
:
4. DR. KH. Kharisudin Aqib, M.Ag.
Pembina
:
DR. KH. Kharisudin Aqib, M.Ag.
Ketua
:
Abd. Rokhman, M. Pd.
Tujuan
:
Meninggikan Kalimat Allah Dan Meratakan Rahmat-Nya
Bagi Seluruh Alam.
Visi
:
Menjadi Model Pesantren Masa Depan
Misi
:
1. Membangun Pesantren Terpadu Kontemporer
2. Mengupayakan Revitalisasi Syari’at Islam
3. Mengoptimalkan Peningkatan Kuwalitas SDM dan Pem-
berdayaan Umat
Motto
:
Menjaga Tradisi Lama Yang Masih Relevan dan Melakukan
Inovasi Yang Lebih Relevan
Status Lahan
:
Tanah Wakaf
Luas
:
10.699 M2.
Unit Pendidikan
:
3 Unit (8 Sub Unit).
Unit Lembaga
:
10 Lembaga
A. Pendidikan Formal
:
SMP Islam – SMK Islam ( Jurusan TKJ dan MM), MA BL-UA
B. Pendidikan Nonformal
:
- Pesantren, - Diniyah, - TPA
C. Pendidikan Informal
:
- MAJDZUB – METAFISIKA ISLAM
- Lingkaran Studi dan Pemberdayaan Umat Ulul Albab (LISPUL). Lembaga Kursus dan Pengembangan Profesi (LKPP).
D. Unit Lembaga
:
- LAZISUA – LSQUA – LISPUL – LP3UA – LPAY-DUA
- BADAN WAKAF UA – KOPONTREN UA – UA PRESS
- RADIO SUARA ULUL ALBAB – LM3 UA
ABD. ROKHMAN, M. Pd. I
Ketua
M. ARIF BUDI SANTOSO
Sekretaris



DR. KH KHARISUDIN AQIB, M. Ag
Pembina
Read more…

SHOLAWAT ULUL ALBAB