URGENSI THORIQOH BAGI ORANG BERIMAN: ANALISIS STRUKTURAL-FUNGSIONAL DENGAN PENDEKATAN ANALOGI TEKNOLOGI INFORMASI

 URGENSI THORIQOH BAGI ORANG BERIMAN: ANALISIS STRUKTURAL-FUNGSIONAL DENGAN PENDEKATAN ANALOGI TEKNOLOGI INFORMASI 

Oleh: Dr. H. Kharisuddin Aqib, M.Ag.

Jajaran Rois Idaroh Wustho JATMAN Jatim. 


ABSTRAK

Tulisan ini mengkaji urgensi Thoriqoh  bagi orang beriman melalui pendekatan URGENSI THORIQOH BAGI ORANG BERIMAN: ANALISIS STRUKTURAL-FUNGSIONAL DENGAN PENDEKATAN ANALOGI TEKNOLOGI INFORMASI, yakni dengan menggunakan analogi struktur dan fungsi Teknologi Informasi. Tesis utamanya adalah bahwa Thoriqoh Mu'tabaroh merupakan sebuah sistem operasi spiritual yang terstruktur, memiliki sanad sebagai infrastruktur jaringan, dan Mursyid sebagai system administrator. Tanpa sistem ini, keberagamaan seseorang berisiko mengalami disconnected spirituality, yaitu keterputusan dari sumber otoritatif yang menyebabkan kerentanan terhadap distorsi dan stagnasi ruhani. Analisis ini menunjukkan bahwa Thoriqoh bukan sekadar pilihan asketis, melainkan kebutuhan sistemik untuk optimalisasi taqarrub ila Allah di era disrupsi.



Kata Kunci
: Thoriqoh, Sanad, Mursyid, Tazkiyatun Nafs, Sistem Spiritual, Wasilah


A. PENDAHULUAN: PROBLEMATIKA KONEKTIVITAS SPIRITUAL ERA KONTEMPORER

Di era Revolusi Industri 4.0, ketergantungan manusia terhadap konektivitas digital menjadi sebuah keniscayaan antropologis. Ironisnya, pada saat yang sama terjadi fenomena _spiritual disconnection_, yaitu terputusnya individu dari sumber-sumber nilai transendental yang otoritatif. Al-Qur'an secara eksplisit memberikan solusi atas problematika ini melalui konsep wasilah:  

{ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوۤا۟ إِلَیۡهِ ٱلۡوَسِیلَةَ وَجَـٰهِدُوا۟ فِی سَبِیلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ }

"Yā ayyuhā al-ladzīna āmanū ittaqū Allāha wabtaghū ilayhi al-wasīlah..." QS. Al-Maidah: 35

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah/perantara untuk mendekatkan diri kepada-Nya..."

Mayoritas mufassir, termasuk Al-Qurthubi dan Ibnu Katsir, menafsirkan al-wasilah dalam ayat ini mencakup ketaatan dan amal yang mendekatkan diri kepada Allah. yang dalam tradisi Islam diaktualisasikan secara sistematis melalui institusi Thoriqoh. Oleh karena itu, kajian ini berargumen bahwa Thoriqoh berfungsi sebagai infrastruktur wasilah yang esensial bagi keberlanjutan iman.


B. KERANGKA ANALISIS: THORIQOH SEBAGAI SISTEM INFORMASI SPIRITUAL

Untuk memudahkan pemahaman, digunakan pendekatan analogi fungsional dengan Sistem Teknologi Informasi sebagai berikut:

Komponen Sistem IT

■ Komponen Sistem Thoriqoh

■ Fungsi Teologis dan Epistemologis

1. Internet Service Provider (ISP)

Thoriqoh Mu'tabaroh Thoriqoh  berperan sebagai penyedia layanan konektivitas ruhani yang legal dan terverifikasi. Sebagaimana ISP menyediakan akses ke internet global, Thoriqoh menyediakan akses metodologis kepada Khazanah Ilahiyah. Status mu'tabaroh yang ditetapkan oleh Jam'iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu'tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) berfungsi sebagai regulasi dan sertifikasi, untuk mencegah malpraktik spiritual dari ajaran yang tidak bersanad.

2. Jaringan Fiber Optic & BTS Sanad dan Silsilah Sanad adalah  infrastruktur jaringan primer yang bersifat point-to-multipoint dan tidak terputus, menyambungkan seorang salik kepada Rasulullah SAW secara berantai. Ia menjamin otentisitas data dan  keamanan transmisi  nilai-nilai kenabian. Silsilah berfungsi sebagai network topology map yang memverifikasi integrity dan latency jalur transmisi spiritual tersebut. Ketiadaan sanad menyebabkan unauthorized access yang rentan terhadap spiritual malware berupa bid'ah dan penyimpangan.

3. Router & System Admin Mursyid Kamil Mukammil. Mursyid berperan ganda sebagai Router dan System Administrator. Sebagai Router, ia melakukan bandwidth management terhadap warid atau limpahan karunia spiritual agar tidak terjadi spiritual overload yang berakibat pada madzjub. Sebagai System Administrator, ia menjalankan fungsi firewall untuk menangkal virus riya', ujub, dan sum'ah, serta melakukan troubleshooting terhadap problematika keruhanian murid.

4. Protokol Login & Enkripsi Bai'at & Talqin Dzikir Bai'at  merupakan  protokol otentikasi dan autorisasi dua arah. Murid menyatakan komitmen, dan Mursyid memberikan privileged access. Talqin Dzikir adalah proses enkripsi dan aktivasi akun. Dzikir khusus yang ditalqinkan berfungsi sebagai unique encryption key yang mengaktifkan secure channel antara salik dengan sumber energi Ilahiyah.

5. Data Plan & FUP Wirid, Awrod, Hizib Wirid harian adalah data plan yang harus dikonsumsi secara konsisten. Prinsip istiqomah dalam wirid analog dengan Fair Usage Policy (FUP). Pelanggaran terhadap komitmen ini menyebabkan penurunan bandwidth spiritual, yang termanifestasi dalam bentuk futurel, kegersangan hati, dan kesulitan merasakan kehadiran Allah dalam ibadah. Hizib dapat dipahami sebagai paket data unlimited dengan spesifikasi khusus, misalnya untuk proteksi.

6. System Update & Cloud Sync Suhbah & Tawajjuh Suhbah adalah mekanisme system update dan patching. Melalui interaksi langsung dengan Mursyid, seorang salik memperbarui operating system kalbunya, memperbaiki bug karakter, dan meng-*install* aplikasi akhlak *mahmudah*. **Tawajjuh** merupakan proses **cloud synchronization**, yaitu penyelarasan frekuensi kalbu *murid* dengan kalbu *Mursyid* yang telah tersambung dengan Rasulullah SAW7. Helpdesk 24/7 Rabithah Mursyid Rabithah adalah protokol koneksi jarak jauh yang bersifat permanen. Ia memungkinkan seorang salik untuk mengakses bimbingan dan madad Mursyid secara non-fisik ketika menghadapi system error ruhani seperti krisis keimanan, godaan maksiat, atau kondisi qabd.

C. ARGUMENTASI URGENSI THORIQOH BAGI ORANG BERIMAN

Berdasarkan kerangka di atas, urgensi Thoriqoh dapat dirumuskan dalam empat argumen utama:

1. Argumen Sistem Operasi (Operating System Argument): Iman dan amal ibadah adalah software. Agar dapat berjalan optimal, software tersebut memerlukan operating system yang kompatibel. Thoriqoh menyediakan OS Tazkiyatun Nafs yang berfungsi melakukan disk cleanup terhadap dosa, defragmentation terhadap hati yang pecah, dan installasi firewall ketakwaan. Tanpa OS ini, software ibadah berjalan lambat,error, dan tidak  compatible dengan hardware kemanusiaan.

2. Argumen Keamanan Siber (Cybersecurity Argument): Tantangan spiritual kontemporer telah berevolusi. Jika dahulu gangguan bersifat offline dan kasat mata, kini serangan bersifat online, sistemik, dan menyusup melalui user interface kehidupan modern: hedonisme digital, relativisme nilai, dan krisis makna. Thoriqoh dengan sistem sanad dan bimbingan Mursyid berperan sebagai antivirus premium berlisensi yang memiliki  database ancaman terbaru dan real-time protection.

3. Argumen Optimalisasi Bandwidth (Bandwidth Optimization Argument): Tujuan puncak keimanan adalah ma'rifatullah dan mahabbatullah. Kualitas koneksi ini sangat ditentukan oleh bandwidth kalbu. Praktik Thoriqoh seperti dzikir, muraqabah,_dan mujahadah secara empiris berfungsi memperlebar bandwidth tersebut, sehingga data berupa ilham, kasyf, dan futuh dapat diunduh tanpa mengalami buffering atau lag.

4. Argumen Manajemen Risiko Eskatologis (Eschatological Risk Management Argument): Kematian adalah forced logout yang waktunya tidak terprediksi. Thoriqoh menyediakan sistem automatic backup and recovery. Melalui bai'at, seorang salik terdaftar dalam server silsilah. Melalui rabithah, ia memiliki connection yang always-on. Maka, ketika forced logout terjadi, proses hisab akan dibantu oleh Mursyid sebagai advocate di hadapan Allah SWT, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits tentang syafa'at orang-orang saleh.

D. KESIMPULAN

Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa Thoriqoh bukan merupakan entitas pinggiran dalam Islam, melainkan arsitektur sentral dari sistem operasi keberagamaan yang komprehensif. Ia adalah manifestasi institusional dari perintah wabtaghū ilayhi al-wasīlah. 

Di era di mana manusia menginvestasikan sumber daya besar untuk memastikan konektivitas digitalnya tidak terputus, menjadi sebuah anomali jika konektivitas spiritualnya dibiarkan dalam mode airplane atau mengandalkan sinyal yang lemah dan tidak stabil.

Oleh karena itu, bagi orang yang beriman, ber-Thoriqoh bukanlah pilihan esoterik, melainkan kebutuhan strategis untuk memastikan bahwa sistem keimanan dan ibadahnya berjalan di atas infrastruktur yang aman, bersanad, teroptimalisasi, dan memiliki garansi pertanggungjawaban hingga ke hadirat Rasulullah SAW. Mengabaikannya berarti mengambil risiko besar berupa system failure eskatologis. Wallāhu a'lam bi al-shawāb.

Read more…

ANALOGI SISTEM KERJA TEKNOLOGI INFORMASI DALAM KOMUNIKASI SPIRITUAL TAREKAT: ETIKA MU'ASYARAH MURSYID-MURID UNTUK MENCAPAI _NATAIJ AL-TARBIYAH AL-QUSHWA

 MAKALAH ILMIAH 

ANALOGI SISTEM KERJA TEKNOLOGI INFORMASI DALAM KOMUNIKASI SPIRITUAL TAREKAT: ETIKA MU'ASYARAH MURSYID-MURID UNTUK MENCAPAI NATAIJ AL-TARBIYAH AL-QUSHWA  

Oleh:  

Dr. H. Kharisuddin Aqib. M.Ag.

Pembina Majelis Dzikir Ulul Albab

Jajaran Rois Idaroh Wustho Jam'iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) Jawa Timur


ABSTRAK

Makalah ini mengkaji paralelisme antara arsitektur Teknologi Informasi dengan sistem komunikasi spiritual dalam Tarekat Mu'tabarah. Dengan pendekatan library research dan analisis deskriptif terhadap Ihya’ Ulumuddin serta kitab-kitab tarekat, ditemukan bahwa efektivitas tarbiyah ruhiyah sangat bergantung pada kepatuhan terhadap protokol mu'asyarah antara Mursyid sebagai server dan murid sebagai client. Ketidakpatuhan terhadap adab menyebabkan disconnection spiritual yang berakibat pada kegagalan tazkiyatun nafsi. Makalah ini menawarkan formulasi etika mu'asyarah berbasis analogi TI untuk diimplementasikan oleh para Mursyid dan murid guna mencapai hasil tarbiyah yang maksimal di era digital.


Kata Kunci
: Mu'asyarah, Mursyid-Murid, Tarekat Mu'tabarah, Teknologi Informasi, Ihya’ Ulumuddin

A. PENDAHULUAN

Firman Allah: _"Fas-alu ahladz-dzikri in kuntum la ta'lamun"_ QS. An-Nahl: 43 menjadi basis teologis relasi Mursyid-Murid. Di era disrupsi digital, relasi ini menghadapi tantangan _distraksi_ dan pemutusan sanad. Di sisi lain, generasi muda justru lebih akrab dengan logika sistem Teknologi Informasi. Maka, melakukan taqrib / pendekatan pemahaman melalui analogi TI menjadi _manhaj_ dakwah yang relevan. Tarekat pada hakikatnya adalah  Operating System ruhani yang memiliki server, jaringan, firewall, dan user [^1].

B. PEMBAHASAN

1. Arsitektur Sistem: Tarekat sebagai Jaringan Ruhani

Sistem kerja Tarekat identik dengan TI. Kegagalan transfer data ruhani terjadi bukan karena server-nya rusak, tetapi karena protokol diabaikan.

Elemen TI

● Elemen Tarekat

● Urgensi dalam Mu'asyarah

Server Pusat Allah & Rasulullah SAW Sumber segala Nur & Syariat. Mursyid hanya perpanjangan.

Fiber Optic Silsilah Sanad Masyayikh Al-Isnadu minad din. Memastikan data barokah tidak corrupt[^2].

Router/Admin Mursyid Kamil Mukammil Mengatur bandwidth wirid sesuai kapasitas hardware ruhani murid.

Client/User Murid Shadiq Harus dalam kondisi online hati, update adab, dan bebas virus ujub.

Firewall Syariat & Adab Melindungi sistem dari malware hawa nafsu & bid'ah. Lihat Rubu' Muhlikat[^3].

2. Etika Mu'asyarah Maksimal: SOP untuk Mursyid & Murid 

Berdasarkan _Ihya’ Ulumuddin_ Juz 1 _Bab Adab al-Muta'allim wa al-Mu'allim_[^4], maka:

a. Kewajiban Mursyid (_Admin Server_):  

1. Tadrij fit Tarbiyah: Tidak memberikan file wirid berat di awal. Ini prinsip bandwidth management.  

2. Sabar 'ala Adza al-Murid: Murid yang error harus di-scan & di-debug dengan kasih sayang, bukan langsung di-banned.  

3. Isnad ar-Ruhi ila Rasulillah: Mengorientasikan hati murid bukan kepada dirinya, tapi kepada Rasulullah SAW. Mursyid adalah router, bukan server pusat.  

4. Ad-Du'a' li al-Murid: Menjaga koneksi _batiniyah_ 24/7 melalui doa ghaib. Disconnect doa = server down.

b. Kewajiban Murid (_Client Shadiq_): 

1. Tafrigh al-Qalb: Mengaktifkan _airplane mode_ dari urusan dunia saat ber-tawajjuh. Hati yang penuh _cache_ dunia tidak bisa download barokah.  

2. Husnudzan Muthlaq: Ini adalah antivirus utama. Su'udzan kepada Mursyid = file corrupt seketika[^5].  

3. 'Adamut Tanqil baina al-Masyayikh: Gonta-ganti Mursyid tanpa alasan syar'i menyebabkan konflik sistem dan data bentrok di batin.  

4. Al-Muwadhabah 'ala al-Aurad wa al-'Ardh: Rutin update dengan setor wirid & lapor keadaan ruhani. Client yang tidak pernah sinkronisasi akan out of date.

c. Protokol Bersama (_Two-Way Handshake_): _Ar-Rabithah

Rabithah bukan sekadar membayangkan wajah guru, melainkan upaya menyamakan frekuensi hati melalui mahabbah dan khidmah [^6]. Ini adalah  protokol yang memastikan data dari Mursyid tidak  loss di tengah jalan.

3. _Nataij al-Tarbiyah al-Qushwa_: Hasil Maksimal 

Jika SOP di atas dijalankan, maka akan tercapai:  

1. Bagi Murid: Wushul ila Allah, tazkiyah sempurna, dan lahirnya akhlaq karimah secara otomatis.  

2. Bagi Mursyid: Kesempurnaan maqam irsyad karena berhasil menghantarkan murid.  

3. Bagi NU & Umat: Lahirnya kader Aswaja yang alim, amil, kamil, dan bersanad, sebagai benteng dari  tatharruf & liberalisme.

C. PENUTUP

Tantangan terbesar era digital adalah disconnect sanad. Maka, Mursyid harus menjadi server yang welas asih dengan bandwidth mahabbah, dan murid harus menjadi client yang selalu mengisi baterai ruhaninya melalui suhbah, bukan melalui powerbank dunia. Wallahu a'lam bish-shawab.

DAFTAR PUSTAKA 

[^1]: Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihya’ Ulumuddin. Beirut: Dar al-Fikr, tt. Juz 1, Kitab al-'Ilm.  

[^2]: Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya.  

[^3]: Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz 3, Rubu’ al-Muhlikat.  

[^4]: Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz 1, Bab Ats-Tsani fi Adab al-Muta'allim wa al-Mu'allim.  

[^5]: Al-Kalabadzi, Abu Bakar. _At-Ta'arruf li Madzhab Ahlit Tasawwuf_. Kairo: Maktabah al-Kulliyat al-Azhariyyah, 1969. Bab Adab al-Murid ma'a asy-Syaikh.  

[^6]: Al-Kurdi, Muhammad Amin. Tanwirul Qulub fi Mu'amalati 'Allamil Ghuyub. Surabaya: Al-Hidayah, tt. Bab Rabithah.

Read more…

Bullying dan Kekerasan di Dunia Pendidikan... Adalah Kuman Premanisme yang Terbawa dari Luar

 Bullying dan Kekerasan di Dunia Pendidikan... Adalah Kuman Premanisme yang Terbawa dari Luar

Oleh: Kharisuddin Aqib

Pengasuh Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab, Kelutan - Ngronggot - Nganjuk- Jatim. 

Bismillahirrohmanirrohim

Setiap kali ada berita siswa dipukul senior, santri di-bully teman sekamar, atau guru dikeroyok murid, kita selalu cepat menuding: "Sekolahnya gagal mendidik", "Pesantrennya tidak punya akhlak". 


Stop. Berhenti menyalahkan sekolah dan pesantren
. Kita sedang salah diagnosa penyakit.

Pada dasarnya, bullying dan kekerasan di dunia pendidikan bukan lahir dari dalam kelas. Ia adalah kuman premanisme yang terbawa dari luar, lalu menjangkiti anak-anak kita.

1. Sekolah / Pesantren Bukan Pabrik Preman, Tapi Ruang Steril yang Dijebol

Logika warasnya begini: Rumah sakit tidak memproduksi virus. Rumah sakit justru tempat paling steril. Tapi jika ada pasien membawa virus dari pasar, maka seisi rumah sakit bisa tertular.

Demikian pula dunia pendidikan. Kurikulum kita tidak pernah mengajarkan "Bab Memalak Teman". Kitab Ta'limul Muta'allim tidak ada pasal "Cara Menindas Yuniormu". *Di atas kertas, sekolah dan pesantren adalah ruang paling ideal untuk adab.

Lalu kuman itu datang dari mana? Dari luar pagar. Ia terbawa masuk oleh anak-anak kita melalui 3 pintu:

○ Pintu Masuk Kuman

○ Wujud Premanisme

○ Anak Menirunya Jadi

1. Keluarga Bapak membentak ibu, kakak memukul adik, masalah diselesaikan dengan teriakan. "Oh, jadi kalau mau menang harus galak & main tangan"

2. Tontonan / Gadget YouTube & TikTok penuh konten prank jahat, game perang, sinetron anak durhaka. "Bullying itu lucu, dapat like banyak"

3. Lingkungan Nongkrong lihat geng motor, orang tawuran, "damai" setelah bayar uang. "Yang kuat yang berkuasa. Hukum bisa dibeli"

Anak tidak lahir sebagai pem-bully. Ia tertular. Sekolah dan pesantren hanya lokasi kejadian, bukan sumber penyakit.

2. Ciri Khas Kuman Premanisme: Hukum Rimba Masuk ke Kelas

Apa bedanya kenakalan biasa dengan premanisme? 

Kenakalan: Usil, nyembunyiin sandal, itu masih "childish".  

Premanisme: Sudah ada 3 unsur ini:

1. Kuasa: "Aku senior, kamu yunior harus tunduk". "Aku anak orang kaya, kamu miskin diam saja".

2. Komplotan: Tidak berani sendirian. Selalu "ngajak geng" untuk mengintimidasi satu anak.

3. Ekonomi: Ada unsur memalak, "bayar keamanan", "kalau nggak kasih uang jajan, kamu saya pukuli".

Ini persis cara kerja preman di terminal Yai. Bedanya, seragamnya saja yang masih putih-abu-abu atau sarung. Mentalnya sudah mental preman pasar. Dan mental itu tidak diajarkan di bangku sekolah.

3. Mengapa Kuman Ini Betah di Dunia Pendidikan?

Karena 3 Kelemahan ini dimanfaatkan:

1. Sistem Senioritas Buta: Adab "hormat pada kakak kelas" dipelintir jadi "kakak kelas boleh semena-mena". Di pesantren, istilah "ngalap barokah khidmah" disalahgunakan jadi "perbudakan gratis".

2. Budaya "Damai" yang Salah Kaprah: Guru/ustadz sering menyuruh "Sudah, salaman. Jangan lapor orang tua. Jaga nama baik lembaga". Akibatnya, korban bungkam, pelaku ketagihan. Preman paling senang kalau korbannya diam.

3. Minimnya "Muraqabah": Anak zaman sekarang krisis rasa _"diawasi Allah"_. Adanya CCTV. Tapi dia lupa, Allah Maha Melihat tanpa CCTV. Ketika rasa ini hilang, setan gampang membisiki: "Hajar saja, tidak ada yang lihat".

4. Vaksinnya Apa Yai? 4 Langkah Melawan Kuman Premanisme

Kita tidak bisa mensterilkan seluruh "luar pagar". Tapi kita bisa perkuat "imunitas" di dalam pagar dengan ini:

1. Bongkar, Bukan Ditutupi: Kasus bullying harus dibuka dan diproses. Panggil orang tua pelaku & korban. Libatkan kepolisian jika sudah pidana. Menyembunyikan preman berarti memelihara preman. Nama baik lembaga justru naik ketika kita tegas.

2. Ajarkan "Adab Kuasa": Ulang-ulang doktrin ini: "Semakin tinggi posisimu, semakin rendah hatimu. Senior itu untuk mengayomi, bukan menindas. Kiai saja mencuci piringnya sendiri". Ini bunyi Kitab Al-Hikam.

3. Hidupkan Sistem "Lapor Aman": Buat kotak saran anonim, atau tunjuk 1 ustadz/guru BP yang tidak akan menghakimi korban. Pastikan anak tahu: "Lapor itu bukan pengecut. Lapor itu menyelamatkan teman lain".

4. Libatkan "Ayah" dari Rumah: Undang wali murid/santri. Katakan jujur: "Bapak/Ibu, 70% karakter anak dibentuk di rumah. Tolong, jangan ajari anak menyelesaikan masalah dengan membentak. Kita jaga anak kita sama-sama".

Penutup: Jangan Bakar Lumbungnya Karena Ada Tikusnya

Pesantren dan sekolah adalah lumbung padi bangsa ini. Ia yang memberi makan otak dan akhlak anak-anak kita selama berabad-abad.

Jika hari ini ada "tikus" premanisme masuk ke lumbung, tugas kita pasang perangkap, basmi tikusnya. Bukan malah membakar lumbungnya.

Wahai orang tua, mari kita jujur: Anak kita adalah fotokopi kita. Sebelum menuntut sekolah, lihat dulu apa tontonan di HP-nya, bagaimana kita menyelesaikan konflik di rumah.

Wahai guru dan ustadz, kita adalah dokter di ruang gawat darurat moral. Jangan lelah mengobati. Satu anak yang selamat dari premanisme, bisa menyelamatkan satu kampung kelak.

Karena melawan bullying bukan tugas guru saja. Ini jihad moral satu kampung. 

Jika kita kompak, kuman premanisme itu tidak akan betah di dunia pendidikan. Ia akan mati dengan sendirinya.

Wallahu A'lam Bishshawab.

Read more…

Pada Dasarnya Pelecehan Seksual Bukan Permasalahan Pesantren, Tetapi Merupakan Permasalahan Moralitas

Pada Dasarnya Pelecehan Seksual Bukan Permasalahan Pesantren, Tetapi Merupakan Permasalahan Moralitas

Oleh: Kharisuddin Aqib

Pengasuh Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab, Ngronggot - Nganjuk


Bismillahirrohmanirrohim

Akhir-akhir ini, ketika ada kasus pelecehan seksual yang pelakunya oknum ustadz atau terjadi di lingkungan pesantren, masyarakat dengan cepat memberi stempel: "Pesantren sarang predator". Stigma ini menyakitkan. Tapi sebagai pengasuh, kita tidak boleh reaktif. Kita harus jujur dan jernih menjawab: Benarkah ini masalah pesantren?


Jawaban saya: Bukan. Pada dasarnya, pelecehan seksual bukan permasalahan pesantren. Ini adalah permasalahan moralitas umat manusia.


1. Data Tidak Pernah Bohong: Kasus Terjadi di Semua Lini


Mari kita buka mata. Komnas Perempuan mencatat, sepanjang 2023 ada 3.863 kasus kekerasan seksual. Lokasinya?

**Tempat Kejadian** **Persentase**

Rumah tangga / Keluarga 35%

Ruang publik & kerja 28%

Lembaga pendidikan umum 18%

**Lembaga keagamaan** **4%**

Lainnya 15%

Artinya, 96% kasus justru terjadi di luar pesantren. Di rumah, di kantor, di sekolah umum, di kampus. Pelakunya? Ayah kandung, paman, guru, dosen, atasan kerja, bahkan tokoh masyarakat.

Jadi, mengapa saat terjadi di pesantren, gaungnya lebih keras? Karena masyarakat punya ekspektasi moral lebih tinggi kepada kita. Sarung dan peci adalah simbol kesucian. Maka ketika ada yang ternoda, lukanya terasa lebih dalam. Ini wajar. Tapi ekspektasi tinggi bukan berarti hanya pesantren yang punya masalah.

2. Pesantren Bukan Produsen Syahwat, Tapi Benteng Terakhir Akhlak

Logika sederhananya begini: Rumah sakit bukan penyebab penyakit. Justru karena banyak orang sakit, maka rumah sakit dibangun. 

Demikian pula pesantren. Pesantren tidak memproduksi syahwat. Syahwat itu sudah ada di dalam diri manusia sejak Nabi Adam AS. Pesantren hadir justru untuk mengelolanya dengan puasa, ngaji, mujahadah, dan adab.

Yang salah bukan "pagar" pesantrennya, tapi "pencuri" yang melompati pagar. Oknum yang melakukan pelecehan itu melanggar seluruh ajaran pesantren. Dia khianat terhadap Al-Qur'an yang dia ajarkan, khianat terhadap sorban yang dia pakai.

Menyalahkan pesantren karena ada kasus pelecehan, sama dengan menyalahkan masjid karena ada sandal yang hilang di dalamnya. Yang salah malingnya, bukan masjidnya.

3. Akar Masalah: Krisis Moralitas, Bukan Krisis Kelembagaan

Pelecehan seksual lahir dari 3 hal yang hari ini sedang krisis:

1. Krisis Syahwat: Gempuran pornografi di HP. Anak SD sudah bisa akses video yang merusak otak. Nafsu yang tidak disalurkan secara halal, akhirnya mencari korban.

2. Krisis Kuasa: _Power tends to corrupt_. Ketika seorang guru, ustadz, atau kiai merasa punya kuasa mutlak atas santri, di situlah setan masuk. Ini bisa terjadi di mana saja: di padepokan, di kampus, di kantor.

3. Krisis Muraqabah: Hilangnya rasa "Allah selalu mengawasi". Pelaku merasa aman karena tidak ada CCTV, tidak ada orang lain. Dia lupa, ada Allah dan Malaikat Raqib-Atid.


Ketiga krisis ini adalah masalah moralitas. Ia tidak kenal tempat. Bisa terjadi di kamar tidur, di ruang kelas, di kantor, atau di bilik pesantren. Maka solusinya bukan "bubar pesantren", tapi "perbaiki moral".


4. Lalu Apa yang Harus Dilakukan Pesantren?

Kita tidak boleh defensif dengan berkata _"Itu oknum"_. Satu oknum pun terlalu banyak. Pesantren harus menjadi garda terdepan memberantas ini dengan 4 langkah:

1. Transparan, Bukan Ditutupi: Jika ada kasus, serahkan ke hukum. Jangan "damai" dengan dalih nama baik. Menutup aib pelaku berarti membuka pintu korban baru. Nama baik pesantren justru terjaga ketika kita tegas.

2. Perkuat SOP Perlindungan Santri: Jam berkunjung wali santri diperjelas. Guru laki-laki dilarang membina santri putri secara privat face to face. Pasang CCTV di area publik pondok, bukan di kamar.

3. Ngaji Kitab Adab, Bukan Hanya Fikih: Kembalikan porsi Ta'lim Muta'allim, Adabul 'Alim wal Muta'allim, dan Uqudullujain. Fikih mengatur hukum, tapi adab yang menjaga hati.

4. Kiai Memberi Teladan: Kiai adalah "Bapak" bagi santri. Seorang bapak tidak mungkin memangsa anaknya. Jadilah pendidik yang ditakuti karena wibawa, bukan ditakuti karena syahwatnya.


Penutup: Jangan Cabut Pohonnya Karena Ada Ulatnya


Ketika ada ulat di pohon mangga, kita tidak menebang pohonnya. Kita semprot ulatnya, lalu rawat pohonnya agar berbuah lebih lebat.


Pesantren adalah pohon itu. Ia telah menaungi umat ratusan tahun. Melahirkan ulama, pahlawan, dan presiden. Jika hari ini ada "ulat" oknum predator, maka tugas kita membasminya sampai bersih, bukan menebang pohonnya.


Masyarakat, tolong jangan generalisir. Satu pesantren bermasalah, bukan berarti 28.000 pesantren lain sama. 


Wali santri, tetaplah waspada. Titipkan anak Anda di pesantren yang jelas sanadnya, jelas pengasuhnya, dan jelas SOP perlindungannya.


Dan untuk kita para pengasuh, mari kita buktikan: Bahwa pesantren bukan bagian dari masalah. Pesantren adalah bagian dari solusi moral bangsa.

Wallahu A'lam Bishshawab.

Read more…

SHOLAWAT ULUL ALBAB