Bullying dan Kekerasan di Dunia Pendidikan... Adalah Kuman Premanisme yang Terbawa dari Luar
Oleh: Kharisuddin Aqib
Pengasuh Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab, Kelutan - Ngronggot - Nganjuk- Jatim.
Bismillahirrohmanirrohim
Setiap kali ada berita siswa dipukul senior, santri di-bully teman sekamar, atau guru dikeroyok murid, kita selalu cepat menuding: "Sekolahnya gagal mendidik", "Pesantrennya tidak punya akhlak".
Pada dasarnya, bullying dan kekerasan di dunia pendidikan bukan lahir dari dalam kelas. Ia adalah kuman premanisme yang terbawa dari luar, lalu menjangkiti anak-anak kita.
1. Sekolah / Pesantren Bukan Pabrik Preman, Tapi Ruang Steril yang Dijebol
Logika warasnya begini: Rumah sakit tidak memproduksi virus. Rumah sakit justru tempat paling steril. Tapi jika ada pasien membawa virus dari pasar, maka seisi rumah sakit bisa tertular.
Demikian pula dunia pendidikan. Kurikulum kita tidak pernah mengajarkan "Bab Memalak Teman". Kitab Ta'limul Muta'allim tidak ada pasal "Cara Menindas Yuniormu". *Di atas kertas, sekolah dan pesantren adalah ruang paling ideal untuk adab.
Lalu kuman itu datang dari mana? Dari luar pagar. Ia terbawa masuk oleh anak-anak kita melalui 3 pintu:
○ Pintu Masuk Kuman
○ Wujud Premanisme
○ Anak Menirunya Jadi
1. Keluarga Bapak membentak ibu, kakak memukul adik, masalah diselesaikan dengan teriakan. "Oh, jadi kalau mau menang harus galak & main tangan"
2. Tontonan / Gadget YouTube & TikTok penuh konten prank jahat, game perang, sinetron anak durhaka. "Bullying itu lucu, dapat like banyak"
3. Lingkungan Nongkrong lihat geng motor, orang tawuran, "damai" setelah bayar uang. "Yang kuat yang berkuasa. Hukum bisa dibeli"
Anak tidak lahir sebagai pem-bully. Ia tertular. Sekolah dan pesantren hanya lokasi kejadian, bukan sumber penyakit.
2. Ciri Khas Kuman Premanisme: Hukum Rimba Masuk ke Kelas
Apa bedanya kenakalan biasa dengan premanisme?
Kenakalan: Usil, nyembunyiin sandal, itu masih "childish".
Premanisme: Sudah ada 3 unsur ini:
1. Kuasa: "Aku senior, kamu yunior harus tunduk". "Aku anak orang kaya, kamu miskin diam saja".
2. Komplotan: Tidak berani sendirian. Selalu "ngajak geng" untuk mengintimidasi satu anak.
3. Ekonomi: Ada unsur memalak, "bayar keamanan", "kalau nggak kasih uang jajan, kamu saya pukuli".
Ini persis cara kerja preman di terminal Yai. Bedanya, seragamnya saja yang masih putih-abu-abu atau sarung. Mentalnya sudah mental preman pasar. Dan mental itu tidak diajarkan di bangku sekolah.
3. Mengapa Kuman Ini Betah di Dunia Pendidikan?
Karena 3 Kelemahan ini dimanfaatkan:
1. Sistem Senioritas Buta: Adab "hormat pada kakak kelas" dipelintir jadi "kakak kelas boleh semena-mena". Di pesantren, istilah "ngalap barokah khidmah" disalahgunakan jadi "perbudakan gratis".
2. Budaya "Damai" yang Salah Kaprah: Guru/ustadz sering menyuruh "Sudah, salaman. Jangan lapor orang tua. Jaga nama baik lembaga". Akibatnya, korban bungkam, pelaku ketagihan. Preman paling senang kalau korbannya diam.
3. Minimnya "Muraqabah": Anak zaman sekarang krisis rasa _"diawasi Allah"_. Adanya CCTV. Tapi dia lupa, Allah Maha Melihat tanpa CCTV. Ketika rasa ini hilang, setan gampang membisiki: "Hajar saja, tidak ada yang lihat".
4. Vaksinnya Apa Yai? 4 Langkah Melawan Kuman Premanisme
Kita tidak bisa mensterilkan seluruh "luar pagar". Tapi kita bisa perkuat "imunitas" di dalam pagar dengan ini:
1. Bongkar, Bukan Ditutupi: Kasus bullying harus dibuka dan diproses. Panggil orang tua pelaku & korban. Libatkan kepolisian jika sudah pidana. Menyembunyikan preman berarti memelihara preman. Nama baik lembaga justru naik ketika kita tegas.
2. Ajarkan "Adab Kuasa": Ulang-ulang doktrin ini: "Semakin tinggi posisimu, semakin rendah hatimu. Senior itu untuk mengayomi, bukan menindas. Kiai saja mencuci piringnya sendiri". Ini bunyi Kitab Al-Hikam.
3. Hidupkan Sistem "Lapor Aman": Buat kotak saran anonim, atau tunjuk 1 ustadz/guru BP yang tidak akan menghakimi korban. Pastikan anak tahu: "Lapor itu bukan pengecut. Lapor itu menyelamatkan teman lain".
4. Libatkan "Ayah" dari Rumah: Undang wali murid/santri. Katakan jujur: "Bapak/Ibu, 70% karakter anak dibentuk di rumah. Tolong, jangan ajari anak menyelesaikan masalah dengan membentak. Kita jaga anak kita sama-sama".
Penutup: Jangan Bakar Lumbungnya Karena Ada Tikusnya
Pesantren dan sekolah adalah lumbung padi bangsa ini. Ia yang memberi makan otak dan akhlak anak-anak kita selama berabad-abad.
Jika hari ini ada "tikus" premanisme masuk ke lumbung, tugas kita pasang perangkap, basmi tikusnya. Bukan malah membakar lumbungnya.
Wahai orang tua, mari kita jujur: Anak kita adalah fotokopi kita. Sebelum menuntut sekolah, lihat dulu apa tontonan di HP-nya, bagaimana kita menyelesaikan konflik di rumah.
Wahai guru dan ustadz, kita adalah dokter di ruang gawat darurat moral. Jangan lelah mengobati. Satu anak yang selamat dari premanisme, bisa menyelamatkan satu kampung kelak.
Karena melawan bullying bukan tugas guru saja. Ini jihad moral satu kampung.
Jika kita kompak, kuman premanisme itu tidak akan betah di dunia pendidikan. Ia akan mati dengan sendirinya.
Wallahu A'lam Bishshawab.
Support Online
Comments[ 0 ]
Posting Komentar