Pada Dasarnya Pelecehan Seksual Bukan Permasalahan Pesantren, Tetapi Merupakan Permasalahan Moralitas
Oleh: Kharisuddin Aqib
Pengasuh Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab, Ngronggot - Nganjuk
Bismillahirrohmanirrohim
Akhir-akhir ini, ketika ada kasus pelecehan seksual yang pelakunya oknum ustadz atau terjadi di lingkungan pesantren, masyarakat dengan cepat memberi stempel: "Pesantren sarang predator". Stigma ini menyakitkan. Tapi sebagai pengasuh, kita tidak boleh reaktif. Kita harus jujur dan jernih menjawab: Benarkah ini masalah pesantren?Jawaban saya: Bukan. Pada dasarnya, pelecehan seksual bukan permasalahan pesantren. Ini adalah permasalahan moralitas umat manusia.
1. Data Tidak Pernah Bohong: Kasus Terjadi di Semua Lini
Mari kita buka mata. Komnas Perempuan mencatat, sepanjang 2023 ada 3.863 kasus kekerasan seksual. Lokasinya?
**Tempat Kejadian** **Persentase**
Rumah tangga / Keluarga 35%
Ruang publik & kerja 28%
Lembaga pendidikan umum 18%
**Lembaga keagamaan** **4%**
Lainnya 15%
Artinya, 96% kasus justru terjadi di luar pesantren. Di rumah, di kantor, di sekolah umum, di kampus. Pelakunya? Ayah kandung, paman, guru, dosen, atasan kerja, bahkan tokoh masyarakat.
Jadi, mengapa saat terjadi di pesantren, gaungnya lebih keras? Karena masyarakat punya ekspektasi moral lebih tinggi kepada kita. Sarung dan peci adalah simbol kesucian. Maka ketika ada yang ternoda, lukanya terasa lebih dalam. Ini wajar. Tapi ekspektasi tinggi bukan berarti hanya pesantren yang punya masalah.
2. Pesantren Bukan Produsen Syahwat, Tapi Benteng Terakhir Akhlak
Logika sederhananya begini: Rumah sakit bukan penyebab penyakit. Justru karena banyak orang sakit, maka rumah sakit dibangun.
Demikian pula pesantren. Pesantren tidak memproduksi syahwat. Syahwat itu sudah ada di dalam diri manusia sejak Nabi Adam AS. Pesantren hadir justru untuk mengelolanya dengan puasa, ngaji, mujahadah, dan adab.
Yang salah bukan "pagar" pesantrennya, tapi "pencuri" yang melompati pagar. Oknum yang melakukan pelecehan itu melanggar seluruh ajaran pesantren. Dia khianat terhadap Al-Qur'an yang dia ajarkan, khianat terhadap sorban yang dia pakai.
Menyalahkan pesantren karena ada kasus pelecehan, sama dengan menyalahkan masjid karena ada sandal yang hilang di dalamnya. Yang salah malingnya, bukan masjidnya.
3. Akar Masalah: Krisis Moralitas, Bukan Krisis Kelembagaan
Pelecehan seksual lahir dari 3 hal yang hari ini sedang krisis:
1. Krisis Syahwat: Gempuran pornografi di HP. Anak SD sudah bisa akses video yang merusak otak. Nafsu yang tidak disalurkan secara halal, akhirnya mencari korban.
2. Krisis Kuasa: _Power tends to corrupt_. Ketika seorang guru, ustadz, atau kiai merasa punya kuasa mutlak atas santri, di situlah setan masuk. Ini bisa terjadi di mana saja: di padepokan, di kampus, di kantor.
3. Krisis Muraqabah: Hilangnya rasa "Allah selalu mengawasi". Pelaku merasa aman karena tidak ada CCTV, tidak ada orang lain. Dia lupa, ada Allah dan Malaikat Raqib-Atid.
Ketiga krisis ini adalah masalah moralitas. Ia tidak kenal tempat. Bisa terjadi di kamar tidur, di ruang kelas, di kantor, atau di bilik pesantren. Maka solusinya bukan "bubar pesantren", tapi "perbaiki moral".
4. Lalu Apa yang Harus Dilakukan Pesantren?
Kita tidak boleh defensif dengan berkata _"Itu oknum"_. Satu oknum pun terlalu banyak. Pesantren harus menjadi garda terdepan memberantas ini dengan 4 langkah:
1. Transparan, Bukan Ditutupi: Jika ada kasus, serahkan ke hukum. Jangan "damai" dengan dalih nama baik. Menutup aib pelaku berarti membuka pintu korban baru. Nama baik pesantren justru terjaga ketika kita tegas.
2. Perkuat SOP Perlindungan Santri: Jam berkunjung wali santri diperjelas. Guru laki-laki dilarang membina santri putri secara privat face to face. Pasang CCTV di area publik pondok, bukan di kamar.
3. Ngaji Kitab Adab, Bukan Hanya Fikih: Kembalikan porsi Ta'lim Muta'allim, Adabul 'Alim wal Muta'allim, dan Uqudullujain. Fikih mengatur hukum, tapi adab yang menjaga hati.
4. Kiai Memberi Teladan: Kiai adalah "Bapak" bagi santri. Seorang bapak tidak mungkin memangsa anaknya. Jadilah pendidik yang ditakuti karena wibawa, bukan ditakuti karena syahwatnya.
Penutup: Jangan Cabut Pohonnya Karena Ada Ulatnya
Ketika ada ulat di pohon mangga, kita tidak menebang pohonnya. Kita semprot ulatnya, lalu rawat pohonnya agar berbuah lebih lebat.
Pesantren adalah pohon itu. Ia telah menaungi umat ratusan tahun. Melahirkan ulama, pahlawan, dan presiden. Jika hari ini ada "ulat" oknum predator, maka tugas kita membasminya sampai bersih, bukan menebang pohonnya.
Masyarakat, tolong jangan generalisir. Satu pesantren bermasalah, bukan berarti 28.000 pesantren lain sama.
Wali santri, tetaplah waspada. Titipkan anak Anda di pesantren yang jelas sanadnya, jelas pengasuhnya, dan jelas SOP perlindungannya.
Dan untuk kita para pengasuh, mari kita buktikan: Bahwa pesantren bukan bagian dari masalah. Pesantren adalah bagian dari solusi moral bangsa.
Wallahu A'lam Bishshawab.
Support Online
Comments[ 0 ]
Posting Komentar