Adab di Dalam Masjid

Adab di Dalam  Masjid
Oleh : Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani

Masjid Adalah "Rumah" Allah  atau rumah khusus untuk menghadap dan bertemu dengan Allah SWT, Maka kita harus beradab dengan baik, yaitu :
1. Niat i'tikaf (ibadah dengan dzikrullah, baca Alquran dll).
2. Melangkah masuk dimulai dengan kaki kanan, dengan penuh khusyuk dan tadhorru' (merendahkan diri sendiri di hadapan Allah SWT.)
3. Seraya selalu berdoa;
اللهم افتح لي ابواب رحمتك، وعزائم مغفرتك ، وسلامة من كل إثم ، وغنيمة من كل بر، والفوز بالجنة ، والنجاة من النار. برحمتك يا ارحم الراحمين
4. Sholat tahiyatal masjid 2 rokaat. Sholat-sholat wajib atau Sunnah
5. Dzikrullah: dengan kalimat-kalimat thayyibat, dzikrullah Sirri, jahri, berdoa dan munajat atau baca Al Quran dan Tafakur.
6. Diskusi dan mudzakarah ttg ilmu, perjuangan dan agama.
7. Tidak membicarakan kesenangan duniawi, dan bisnis pribadi, atau gurauan serta kesia-siaan.
8. Menjaga sikap badan yang baik; tidak tidur atau tidur-tiduran, tidak duduk sembarangan, seperti selonjoran ke arah kiblat, jongkok dengan membuka aurat.
9. Tidak melewati hadapan orang yang lagi dzikrullah, sholat dan berdoa. Kecuali di luar batas sujudnya.
10. Tidak makan dan minum, kecuali dengan tetap menjaga adab dan kebersihan.
11. Mengenakan pakaian yang baik, sopan, suci dan indah.
Warna putih, atau tidak bertulis, berlukis.
12. Mengenakan perhiasan (serban, kopyah, cincin, arloji) dan juga memakai parfum.


Madinah, 10 September 2018,
Abdulloh Kharisudin Aqib Al Kelutani
Read more…

Sufisme Ibadah Haji

Sufisme Ibadah Haji
Oleh: Abdullah Kharisudin Aqib.



Yang dimaksud dengan sufisme ibadah haji adalah sebuah penghayatan terhadap hakekat dan makna yang terkandung dalam perjalanan dan Amaliah rukun Islam yang ke lima (ibadah haji).
Haji (Al Hajji) adalah sebuah perjalanan yang sengaja dilakukan dalam rangka memenuhi perintah dan panggilan Allah SWT untuk melakukan ritual (manasik) tertentu sebagai perwujudan penghambaan diri seseorang kepada Allah SWT.

Oleh karena itu orang-orang yang melakukan ibadah haji adalah para tamu Allah (dhuyuufurrohmaan). Sebagai calon para tamu Allah, seorang yang akan melaksanakan ibadah haji harus mempersiapkan diri dengan baik, diantara nya :
1. Persiapkan pakaian terbaik ( libasut taqwa).
2. Membersihkan jiwa (tazkiyatun nafsi).
3. Memakai baju terbaik dan terbaru.
4. Berjalan menuju ke baitullah dengan penuh semangat dan harapan dan kerinduan.

1. Menyiapkan "Pakaian" Terbaik.
Pakaian terbaik bagi Ruhani kita adalah taqwallaah. Dan untuk bisa mencapainya kita harus mengkaji dan belajar tentang ilmu-ilmu pokok agama Islam (ilmu Ushuluddin) dengan baik dan benar. Setidaknya kita belajar ilmu tauhid, ilmu syariat dan ilmu tasawuf. Karena memang akidah, syariah dan akhlak kita harus benar. Mengerti siapa Tuhan kita, dan harus tahu bagaimana kita harus beribadah, menyembah serta berakhlak kepada-Nya.
2. Membersihkan jiwa
Pada hakikatnya, berhaji adalah mengantarkan jiwa untuk mendatangi panggilan Tuhannya. Agar pantas dan bisa diterima oleh Allah sebagai tamunya Yang Maha Mulia, jiwa kita harus kita bersihkan dan kita mandikan dengan serius (tazkiyatun nafsi). Kita bersihkan dari 'noda hitam' dan dosa-dosa yang berbau busuk dan beraura suram. Noda hitam yang berupa egoisme dan kesombongan baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan. Noda hitam yang berupa kekufuran dan kemusyrikan serta kemunafikan. Yang senantiasa menyertai kita baik siang maupun malam. Juga noda hitam yang berupa hubbuddun-ya, iri hati dan kedengkian. Yang juga seringkali menempel di relung hati yang paling dalam.


 Ini pergerakan pengasahan kecerdasan spiritual menjadi makarimal akhlaq.

Ini keseluruhan perjalanan ibadah haji.
3. Menyiapkan Pakaian Terbaik (Pakaian Taqwa).
Agar ketaqwaan kita menjadi sempurna (dhohir dan batin), maka penting diperhatikan ilmu agama Islam yang merupakan inti ajarannya yaitu; ilmu tauhid, ilmu syariat dan ilmu tasawuf. Agar dapat melaksanakan ajaran Islam (perintah dan larangan Allah SWT) berikut dengan anjuran-anjurannya, dengan keyakinan dan penghayatan yang benar. Serta bisa berakhlak dan bersikap yang mulia, baik dengan Allah SWT maupun dengan sesama manusia maupun dan alam sekitarnya. Wujud dari persiapan pada pakaian adalah pembiasaan pada kebiasaan dan akhlak dhohir manusia. Sehingga taqwallaah menjadi sesuatu sesuatu yang melekat pada diri kita.
4. Mandi Lil Ihrom
Persiapan secara fisik yang berupa mandi ini, sangat penting untuk meneguhkan dan menegaskan hati, bahwa kita akan sowan menghadap kepada Allah SWT yang maha kuasa. Kita harus bersih, suci dan bahkan harus harum dan wangi. Kalau bisa sebelum mengguyurkan air mandi Lil ihrom ini, didahului dengan mandi taubat. Taubat dari segala macam dosa dan moda. Sehingga keberangkatannya menuju panggilan Allah SWT benar-benar telah bersih dan suci, baik pada badan jasmani maupun badan rohani.
5. Memakai Baju Ihram.
Baju Ihram adalah perwujudan dari pakaian taqwa kita, juga adalah perwujudan dari pakaian para malaikat dan para ruh suci. Warna putih pakaian ihram ihrom adalah wujud fisik gambar cahaya malaikati yang suci dan murni. Sedangkan dua helai nya adalah lambang penutup jasmani dan rohaninya, sekaligus melindungi dan menutupi aurat (bagian bawah tubuh) dan Asrar (rahasia dan kehormatan) bagian dada manusia. Sedangkan tidak bolehnya memakai pakaian yang berjait sebagai isyarat tidak bolehnya ada rekayasa dan manipulasi diri dalam menghap ilahi.
6. Selalu Membaca Talbiyah.
Talbiyah atau ungkapan 'labbaiik Allahumma labbaiik' adalah sahutan ruh seorang hamba Allah atas panggilan Tuhannya. Talbiyah ini penting untuk selalu dibaca oleh seorang yang berangkat menuju baitullah. Hal ini dimaksudkan agar jiwa seseorang tidak terkecoh oleh panggilan nafsu badaniyahnya. Seperti untuk kepentingan nafsu syahwatnya untuk dipuji orang, untuk mendapatkan keuntungan materi harga diri, kesuksesan dan lain-lain. Sehingga berangkat haji nya tidak ikhlas (murni) karena Allah.
Dengan pembacaan Talbiyah yang lengkap
لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك ، لا شريك لك.

Dengan penuh semangat dan penghayatan yang mendalam seseorang akan dapat melaksanakan ibadah haji tersebut dengan baik dan benar (murni karena Allah, tidak bercampur dengan kepentingan hawa nafsu), yang disebut dengan istilah haji mabrur.
7. Thowaf Qudum
Thowaf Qudum ini ibaratnya seperti sholat tahiyatal masjid atau laporan kehadiran seorang seorang tamu Yang Maha Mulia. Dengan thowaf ini seorang haji telah termandikan rohani nya dengan Nurullah (sinyal-sinyal ilahiah) yang terpancar melalui tower agung (baitullah). Apalagi jika towaf ini dilakukan dalam paket lengkap umroh wajib sebagai bagian dari paket haji tamattu'.
8. Wukuf di Arafah
Wukuf atau berdiam diri di Padang Arafah adalah prosesi pertemuan dan perkenalan (ta'aruf) antara para tamu (para haji) dengan tuan rumah (Al Rahman). Karena Arofah memang bermakna 'makaanun litta'aaruf' (tempat untuk perkenalan). Para haji harus mengheningkan cipta mulai bakda dhuhur sampai Maghrib tgl 9 dhulhijjah di padang Arafah ini, agar dirinya mengenal dirinya sendiri dan juga mengenal Tuhannya dengan baik (ma'rifah). Dengan ma'rifah itu para haji lebih segar Ruhaniah nya.
10. Mabit (bermalam) di Muzdalifah.
Muzdalifah adalah tempat untuk para haji lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lebih menghayati sifat-sifat dan akhlak-Nya, sehingga terjadi proses internalisasi sifat-sifat ketuhanan dalam diri seorang hamba Allah dan Khalifah-NYA. Sifat-sifat Allah yang mereka telah 'kenal' selama di Padang Arafah.
11. Mabit (bermalam) di Mina.
Mina adalah tempat bagi para haji atau tamu Allah untuk ber 'tamanni' (berangan-angan), khususnya untuk rencana tindak lanjut setelah menunaikan ibadah haji. Menyusun rencana kerja dan daftar keinginan untuk nanti diajukan kepada Allah SWT, ketika kembali menghadap Allah SWT di pelataran rumah-NYA (Baitullah). Setelah prosesi 'romyul jamaraat' (melempar tiga jumrah).
Tempat wuquf dan mabit itu semua adalah merupakan tempat syi'ar keberadaan Allah SWT (masy'aril harom). Tempat-tempat pusat sinyal Allah (Nurullah), yang sangat penting untuk meneguhkan hati dan keimanan seseorang. Sehingga di tiga tempat itulah (Arofah, Muzdalifah dan Mina), jiwa seseorang ditempa dan dididik agar menjadi tercerahkan dan dewasa. Sebagai persyaratan bagi para pelanjut perjuangan Rasulullah Saw. Para da'i dan tokoh pemimpin dan pengayom umat.
12. Melempar (Romyu) al-Jamaraat.
Melempar jamaraat (ula, wustha dan 'aqabah) dilakukan dengan cara berjalan kaki mulai dari tempat menginap (tenda) ke tempat tugu jamaraat. Berulang 4× pulang pergi, dari tenda ke jamaraat. Perjalanan menuju ke jamaraat mengisyaratkan sebuah perjuangan (jihad) yang harus dilakukan oleh seorang hamba yang menginginkan ke ridhoan Tuhannya. Khususnya perjuangan melawan setan-setan yang bersembunyi di dalam jamaraat nafsu. Yaitu nafsu amarah, lawwamah, dan nafsu mulhimah.
Melempar jumroh berarti menghancurkan jaringan setan sekaligus menyambung jaringan Allah Arrohman.
Batu kerikil yang tujuh (7) adalah perwujudan kristal-kristal kotoran dari tujuh lapisan jiwa manusia.Baik yang berupa pikiran buruk, kemaksiatan dan penyakit hati, yang harus dilemparkan kembali kepada setan, sehingga Allah ridho kepadanya.
رجما لإهلاك الشياطين،
ورجما لإرضاء الرحمن .
Suatu lemparan untuk menghancurkan setan-setan, dan sebuah lemparan untuk membanggakan ar-Rahman (Allah SWT).
Seorang haji harus betul-betul faham tentang bahayanya setan sebagai penghalang sukses dirinya untuk menggapai ridho Allah. Setan-setan yang bersembunyi dibalik nafsu amarah, lawwamah dan mulhimah dalam dirinya. Karena di balik nafsu tersebut tersembunyi tabiat rendah manusia, yakni kebinatang jinakkan, ke binatang buasan dan keiblisan. Melalui tabiat-tabiat tersebut setan-setan (baik jin maupun manusia), mempengaruhi jiwa manusia untuk tidak patuh dan taat kepada Allah SWT.
13. Thowaf Ifadhah
Perpindahan seseorang yang melaksanakan ibadah haji, dari mabit dan melempar jumroh menuju thawaf Ifadhah adalah berangkat menuju ke baitullah (pendopo agung Allah). Yang merupakan hotspot area spiritual. Dengan Ka'bah sebagai Mega towernya. Sinyal-sinyal terpancarkan selain dari Ka'bah sendiri, juga dari 'WiFi' besar yang dipasang di sekelilingnya. Seperti: rukun Yamani, Multazam, hijir Ismail, maqam Ibrahim, dan dua bukit di sebelahnya ( Shofa-marwah).
Thowaf Ifadhah dengan memutari Ka'bah 7x dengan arah kebalikan gerak putar jarum jam. Seseorang akan terisi energi spiritualnya dengan sinyal-sinyal ilahiah yang terpancar melalui baitullah (Ka'bah), energi baitullah adalah matsabatan Lin mas wal amna (menjadi tempat berkumpulnya orang banyak dan rasa aman). Sehingga seorang yang thawaf nya baik dan benar akan terbentuk pribadi bisa menjadi pengayom dan pelindung banyak orang.
Area Rukun Yamani dan Multazam merupakan area tempat berdoa untuk memancarkan sinar dan suara batin kepada Allah SWT sehingga resonansi suara batin kita (doa), yang telah sampai kepada pusat energi (Allah SWT) akan bersinergi dengan alam semesta yang terkait dengan doa dan harapan kita menjadi kenyataan (terkabulkan).
Sedangkan area Maqom Ibrahim (petilasan bekas tapak kaki suci Nabi Ibrahim), adalah area sholat, ibadah menyembah Allah SWT. Yang manfaat psikologisnya adalah tanha 'anil fakhsya' wal mungkar (mencegah dari perbuatan keji dan mungkar), disamping pembentukan kepribadian dan karakter Ibrahimiyah.
Yaitu karakter seperti nabi Ibrahim sang kekasih Allah (Khalilullah).
Aura sinyal (Nurullah) yang terpancar pada Maqom Ibrahim seharusnya mengisi setiap lapisan jiwa kita, sehingga menjadi seorang yang dermawan, patuh dan taat penuh hanya kepada Allah SWT. Mengutamakan perintah Allah diatas perintah yang lain-NYA, tidak pernah susah dan keberatan untuk menerima tugas dari Allah dan tidak makan (pagi-sore) kecuali bersama tamu.
Situs bi'ru zam-zam (sumur zam-zam), adalah situs atau petilasan (maqam), seorang putra idola, yang patuh kepada orangtuanya lagi santun (Halim). Mukjizat munculnya sumur zam-zam inilah yang menjadi sebab pertama kali dan utama dalam proses terkabulnya doa nabi Ibrahim as, merubah Makkah (lembah tandus berbatu), menjadi kota super metropolis. Sumur zam-zam sebagai Maqom Ismail sang anak idola.
Sikap mental dan akhlak mulia seorang anak idola (Nabiyullah Ismail as), ini seharusnya menjadi do'a, harapan dan sekaligus cita-cita setiap orang yang menunaikan ibadah haji. Dengan meminum airnya sumur zam-zam, diharapkan aura akhlak Ismail akan merasuk ke dalam jiwa dan raga kita semua. Disamping ilmu yang bermanfaat, Rizki yang luas dan bebas dari berbagai macam jenis penyakit.
14. Bukit Shafa dan Marwah.
Diantara syiar-syiar (lambang kebesaran) Allah SWT. Adalah bukit Shafa dan bukit Marwah.
Seorang yang melaksanakan ibadah haji harus mengerjakan Sa'i yaitu lari-lari kecil dari bukit Shafa ke bukit Marwah bolak-balik sebanyak tujuh kali. Ritual ini (manasik) sa'i ini merupakan penanaman akhlak dan karakter unggul seorang ibu dan istri teladan, yakni Hajar istri nabi Ibrahim as, dan ibu Nabi Ismail as. Di samping pengabadian jasa-jasa monumental beliau. Nurullah (sinyal-sinyal ilahiah), yang terpancar dari bukit Shafa dan Marwah diharapkan mengisi seluruh lapisan jiwa manusia yang tujuh, dengan melakukan ibadah sa'i yang baik dan benar. Karakter seorang wanita Sholehah yang siap berkorban untuk keridhaan suami dan Tuhannya. Seorang ibu yang Sholihah yang siap berkorban untuk kehidupan anaknya dan keridhaan Tuhannya.
Sa'i hanya dilakukan untuk satu paket ibadah haji dan umrah. Tidak disyariatkan melakukan ibadah sa'i tersendiri. Karena secara psikologis penanaman nilai-nilai keibuan dibutuhkan sebagai nilai pelengkap dalam kehidupan, sedangkan nilai utama yang harus diperhatikan dan dibangun adalah nilai kebapakan, yang terpancar dari Ka'bah (matsabatan Lin naas wal amna) dan maqam Ibrahim (loyal kepada Allah, sportif dan dermawan).
Dengan melakukan thawaf (mengelilingi Ka'bah 7× putaran) dan sholat (shalat dan munajat) di maqam Ibrahim.
Matsabatan Lin naas wal amna = mengayomi dan melindungi masyarakat.
15. Tahallul
Tatacara penyelesaian ibadah haji dan umrah adalah dengan istilah tahallul (proses penghalalan atau pembebasan), maksud nya pembebasan diri dari ikatan paket rangkaian kegiatan ibadah haji, sebagai mana SALAM pada ibadah shalat. Tahallul dalam ibadah haji dan umrah adalah dengan menggunting atau mencukur rambut kepala. Sebagai isyarat, bahwa seorang haji atau umrah adalah telah siap memotong rambut kedholiman dan kegelapan yang ada pada dirinya. Baik yang berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan. Siap keluar, minadh dhulumaat ilan nur...
16. Tindak Lanjut Ibadah Haji dan Umroh
Tindak lanjut dari keberhasilan melaksanakan ibadah haji adalah meninggikan kalimat Allah dan meratakan rahmat-Nya bagi seluruh alam. Melanjutkan perjuangan Rasulullah Saw. Dengan berbekal ilmu ma'rifah (dari Arofah), semangat berjuang dari Mina untuk melempar jumroh nafsu yang tiga (amarah, lawwamah dan mulhimah) dengan dzikrullah sehingga bisa mengusir setan untuk menggapai ridho Allah SWT. Dengan berkarakter agung sebagai pengayom dan pelindung umat , seperti Ka'bah. berakhlak mulia seperti Ibrahim sang kekasih Allah (yang loyal taqwallaah, dan dermawan serta murah hati), berkarakter keibuan dan istri Sholehah seperti Siti Hajar, yang taat penuh kepada Allah dan suaminya. Dan berkarakter seperti Nabi Ismail sang anak Sholeh. Beberapa karakter unggul tersimpulkan dalam pribadi agung Rasulullah Muhammad Saw sang manusia sempurna (Al insan Al Kamil). Sehingga profil idial seorang Haji atau Hajjah adalah 'manusia sempurna' atau Insan Kamil tanpa AL.

Seorang haji selalu berjuang membangun bangsanya. Menjadi bagi lingkungan masyarakatnya. Menjadi Uswatun Hasanah bagi umatnya. Serta menjadi da'i untuk kaum dan komunitasnya.
Pribadi yang selalu menghiasi diri dengan delapan permata diri haji Indonesia.

GRAPIYAK.

G. Gemar berdzikir
R. Rajin belajar
A. Aktif kegiatan sosial.
P.  Pandai bergaul
I.  Ikhlas dalam berjuang dan berderma.
Y. Yakin dan mengamalkan firman-firman Allah.
A. Amanah dalam melaksanakan tugas-tugas.
K. Kreatif dan inovatif.



TTD.
Abdullah Kharisudin Aqib Al kelutani.
Read more…

Kriteria dan Persyaratan Seorang Mursyid 2

Kriteria dan Persyaratan Seorang Mursyid 2
Oleh : Abduloh Kharisudin Aqib Al Kelutany 

Rasulullah Saw bersabda: 

عليكم بسنتى وسنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي، عضواعليها بالنواجذ.رواه البخاري

Hendaknya kalian melaksanakan Sunnah-sunnahku dan Sunnah para Khalifah yang terbimbing dan selalu mendapatkan hidayah setelah diriku. Hendaknya kalian pegangi sunnah itu erat-erat, dengan gigi geraham kalian. HR. Imam Bukhari, dll.

Pengertian Sunnah, secara bahasa berarti adalah kebiasaan, tradisi, ketetapan dan keputusan.
Sehingga yang dimaksud dengan Sunnah Rasulullah adalah amaliyah, kebiasaan, atau tradisi serta ketetapan Rasulullaah pada umatnya. Begitu juga apa yang menjadi Sunnah para pengganti yang melanjutkan peran dan fungsi beliau seharusnya juga mengikat dan diikuti oleh orang-orang yang beriman. Lalu siapakah para Khalifah Rasulullaah Saw. Sebanarnya Secara garis besar Rasulullah memiliki tiga macam penerus atau Khalifah, yaitu;  generasi (biologis) atau nasab yaitu para habaib, pelanjut perjuangan spiritual keagamaan yakni para ulama' dan Mursyidun, dan pelanjut pengendali pemerintahan yaitu para umaro'. Karena memang Rasulullaah meninggal dunia dengan meninggalkan: anak- cucu, jabatan kepala agama dan juga meninggalkan jabatan kepala pemerintahan atau politik. Seorang yang memiliki tiga peran kekhilafan tersebut (dzurriyah, Diniyah dan siasah) sekaligus adalah Khalifah Rasulullaah yang paling agung dan sempurna.
Dari tinjauan ini maka Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib adalah khalifaturrosul yang paling sempurna. Tetapi Berdasarkan ayat 40 surat Al Ahzab, yaitu:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
 [Surat Al-Ahzab 40]
Yang artinya: tidaklah dia, Muhammad itu seorang ayah dari salah satu dari kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Sedangkan Allah itu adalah maha mengetahui terhadap segala sesuatu".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita mengetahui, bahwa jabatan terpenting Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Sedangkan jabatan sebagai ayah maupun sebagai kepala negara adalah jabatan -jabatan yang tidak esensial. Sehingga yang betul-betul perlu dilanjutkan dan membutuhkan Khalifah adalah fungsi kerasulannya.
Para pelanjut tugas kerasulan, adalah para ulama' pengajar dan pendidik keagamaan dan kerohanian. Rasulullah mengangkat dan mengutus pembimbing umat yang mewakili beliau (Khalifah), di tempat-tempat yang jauh dari Madinah, atau untuk waktu-waktu yang sulit bertemu dengan beliau. Para Khalifah itulah kepanjangan tangan beliau untuk mengajarkan agama Islam yang kaaffah. Yakni; iman, Islam dan Ihsan. Melalui kajian Al-Qur'an, hikmah dan tazkiyatun nafsi. Sebagai tugas utama seorang utusan Allah. Pembimbing umat yang demikian itulah yang disebut Mursyid. Dia adalah Khalifah Rasulullaah, atau khalifahnya, Khalifah, Khalifah dst. Khalifah Rasulullaah Saw. Sehingga para guru atau Wali Mursyid sampai dengan yang ada  sekarang ini pada dasarnya adalah Khalifah Rasulullaah yang hendaknya Sunnahnya diikuti oleh orang-orang yang beriman. Mereka, Para Mursyidun pasti memiliki sanad atau silsilah ke*khalifahan*nya yang sambung menyambung secara talaqqi (dengan pertemuan langsung antara guru-murid) sampai dengan Rasulullah Muhammad Saw. Inilah yang dimaksudkan oleh ayat 17 surat Al Kahfi. Dan al kholafa' Al Rosyidin oleh hadis nabi di depan, in syaa'a Allah.

Wallaahu a'lam bisshowaab.
Read more…

Kriteria dan Persyaratan Seorang Mursyid



Kriteria dan Persyaratan Seorang Mursyid
Oleh : Abduloh Kharisudin Aqib Al Kelutany


Wali Mursyid adalah Khalifah Rasulullaah yang Harus kita Ikuti Sunnah-sunnahnya

 ...ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا


..., Barang siapa yang Allah berikan petunjuk, maka dialah orang yang betul-betul mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan 'Wali Mursyid' untuknya".(Surat Al-Kahfi 17)

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:

1. Mengetahui bahwa ada tiga tiga macam manusia, yaitu; Al Muhtadi (yang betul-betul baik, karena mendapatkan hidayah Allah), mudhlil (betul-betul jelek, karena disesatkan oleh Allah), dan wali Mursyid (orang mendapatkan tugas dari Allah sebagai pembimbing umat), dan pelanjut tugas kerasulan.
2. Memahami dan menghayati penting posisi wali Mursyid dan bahayanya murka Allah yang berupa penyesatan terhadap kehidupan seseorang.
3. Senantiasa memohon petunjuk dan dipertemukan oleh Allah  dengan seorang guru Mursyid.

A. Pengetahuan Tentang Wali.

Secara bahasa wali (waliyyun) berarti berarti; pemimpin, teman dekat,  pengayom, pengasuh, pembimbing, atau kekasih, atau yang dikasihi, atau terbimbing. Sehingga ada istilah waliyullah, wali kota, wali murid,  waliyussyaiton, wali murod, wali Majdzub, wali songo, dll. Sehingga arti term Wali mengandung makna keseluruhan. Yaitu seseorang yang terkasih dan atau yang mengasihi,  terbimbing dan/membimbing,  terlindungi dan/melindungi. Oleh karena itu, waliyullah  dalam kajian ini berarti adalah orang yang dikasihi, dilindungi dan selalu dalam bimbingan Allah SWT. Kewalian adalah dasar dari jabatan spiritual, yang bertumpu diatasnya kenabian dan kerasulan. Sehingga pasca masa kerasulan nabi Muhammad Saw, sampai dengan akhir zaman yang ada hanyalah jabatan kewalian dengan karakteristik sebagai mana para nabi dan rasul terdahulu.
Waliyullah ada yang berkarakter seperti Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad dll. Disamping kesamaan karakteristik khusus antara para waliyullah dengan para Nabi dan Rasulullaah, juga adanya karakteristik khusus antara kewalian dan kenabian atau kerasulan. Hanya saja kwalitas dan ketajaman nya yang berbeda. Sebagai mana para nabi atau rasul, seorang waliyullah juga memiliki kelebihan yang luar biasa yang disebut karomah yang di kalangan nabi atau rasul disebut mu'jizat. Kalau para rasul atau nabi selalu mendapatkan penjagaan dari Allah yang dikenal dengan istilah ma'shum kalau wali disebut Mahfud.  Jika nabi atau rasul mendapatkan bimbingan atau firman  dari Allah langsung yang disebut Wahyu, maka bagi para wali disebut Ilham. Tetapi kaduanya memiliki perbedaan dalam hal, bahwa Nabi dan Rasulullaah harus mengumumkan kenabian dan atau kerasulannya, tetapi justru wali harus menyembunyikan kewaliannya.
Secara garis besar seseorang menjadi waliyullah melalui dua jalur; jalur murid dan jalur murod.
Dari jalur murid (seorang yang memiliki kehendak atau irodah) dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan keridloan dan kecintaan Allah terhadap dirinya. Orang tersebut berjuang keras (mujahadah) dengan sabar dan istiqamah. Melaksanakan perintah Allah (yang wajib dan fardlu) bagi dirinya, berikut dengan segala sesuatu yang disenangi oleh Allah (Yg sunnah-sunnah). Meninggalkan yang dilarang (yang diharamkan), berikut dengan yang dibenci oleh Allah (yang makruh-makruh), dengan sangat disiplin dan penuh perhitungan. Serta melakukan yang boleh (mubah) dengan tidak berlebihan. Juga meninggalkan sesuatu yang munadzir dan sia-sia. Orang yang bisa istiqamah dalam pola hidup seperti ini, yang disebut waliyul Muttaqin atau wali murid. Yang bertaqwa diantara mereka itulah yang paling mulia disisi Allah SWT.
Mereka mengambil jalan hidup dan tradisi ahli shuffah (sahabat nabi yang mukim samping masjid Nabawi, dan meninggalkan kehidupan masyarakat pada umumnya. Mereka sehari-hari hanya menyertai nabi dalam, sholat berjamaah, ngaji kepada Nabi dan berjuang di jalan Allah.
Mereka itulah para murid tarekat yang secara istiqamah suluk (berjalan mencari ridlo Allah), dengan meninggalkan pola hidup mewah dan hidonistik.
Jalur yang kedua adalah jalur murod (dikehendaki oleh Allah) untuk dekat dan bisa istiqamah di dalam kenal  dan cinta kepada Allah. Orang ini kebanyakan adalah seorang wali Majdzub (wali yang tidak terikat hati dan kesadarannya dengan kehidupan duniawi), dia hampir sepenuhnya dalam kesadaran transendental. Yakni kesadaran dalam cinta dan Ma'rifah kepada Allah, kesadarannya tenggelam dalam keindahan, keagungan dan atau kemaha sempurnaan Allah SWT. Sehingga dia tidak bisa sempurna kesadarannya dengan lingkungan sekitar.
Guru pembimbingnya biasanya adalah rijalul ghoib (wali misterius, atau nabi Khidir).
Dan diantara wali murid dan wali murod, ada yang disebut wali Mursyid (waliyyan Mursyidan), dia adalah berasal dari wali murid yang mendapat tugas dari Allah melalui gurunya untuk menjadi penerus tugas kemursyidan gurunya. Sehingga setiap Mursyid adalah Khalifah dari guru Mursyid sebelumnya dan seterusnya sambung menyambung, sampai dengan Rasulullah Saw.
Sehingga dapat dikatakan, bahwa pada hakikatnya seorang Mursyid adalah Khalifah dari Rasulullah Saw. Sebagai Khalifatur Rasulullaah, maka seorang Mursyid haruslah seorang yang Kaamilun mukammilun.
Yang dimaksudkan dengan "kaamilun mukammilun" (sempurna lagi menyempurnakan) Adalah; seorang guru yang tlh mengikuti pendidikn kerohanian (suluk) dengan sempurna. Dalam pandangan guru Mursyidnya.
Memiliki karakter (Akhlak) mulia yang lengkap (Kamil) Sebagai cerminan al-Asma' Al Husna dan sifat wajib para rasul. Setidaknya lima asma' Al Husna, dan satu sifat wajib Rasullullah, yaitu: 'alim (pakar), rahim (penyayang), Halim (santun), hakim (bijaksana), Karim (murah hati), dan Amiin (terpercaya).  Serta berjiwa pendidik (murobbi) dan bisa mendidik, atau menguasai ilmu tarbiyah, serta mendapat mandat sebagai Mursyid oleh Mursyid sebelumnya.

Wallahu'a'lam bis showab
Read more…

Belajar Tasawuf Versi Para Sufi


Belajar Tasawuf Versi Para Sufi
Oleh : Abdulloh  Kharisudin Aqib


A. Tujuan belajar ilmu tasawuf adalah agar menjadi seorang sufi.

Yaitu orang yang 'suci' hatinya dari sifat-sifat dan karakter yang tercela. Bahkan berakhlak mulia sebagai mana dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sehingga menjadi orang yang Ridlo kepada Allah, dan diridhoi oleh Allah SWT.
Belajar Tasawuf juga bertujuan untuk menyempurnakan keagamaan dan  keislaman yang utuh dan menyeluruh. Atau Islam yang kaaffah. Keislaman yang memiliki tiga dimensi sekaligus, yakni; aqidah, ibadah dan akhlak. Aqidah dipelajari dalam ilmu tauhid, ibadah dalam ilmu syariat dan Akhlak dalam ilmu tasawuf. Sehingga agar keislaman menjadi sempurna, maka dia harus belajar Tasawuf.

B. Tatacara belajar Tasawuf.

1. Mencari guru pembimbing (Mursyid).
Mencari guru pembimbing dengan cara memohon petunjuk kepada Allah  sebagai mana  Rasulullaah, sehingga  Allah memberikan pembimbing beliau Malaikat Jibril.  Atau seperti para sahabat, misalnya Salman Al farisi, yang mengembara untuk mencari guru dan kemudian ketemu dengan Rasulullaah.
Guru pembimbing atau Mursyid haruslah orang yang memiliki sanad dan silsilah keilmuan dan keberkahan yang bersambung dengan Rasulullaah. Dengan kata lain, beliau adalah kepanjangan tangan visi dan misi pendidikan dan dakwah Rasulullah SAW.
Guru pembimbing haruslah berangkat dari seorang murid, yang telah lulus dan tuntas mengikuti pendidikan 'formal' oleh guru Mursyid sebelumnya. Sehingga dia seorang yang sempurna dalam hal Akhlak dan kepribadian nya.
Seorang guru pembimbing (Mursyid) yang dipilih adalah seorang murid yang diberikan tugas atau otoritas mutlat oleh gurunya untuk menjadi pembimbing umat.
Seorang guru pembimbing tidak mengajarkan suatu ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam dan atau Sunnah Rasulullah sebagai Mursyid agung yang sesungguhnya.
2. Berbai'at Kepada Guru Mursyid.
Setelah menemukan guru Mursyid yang sesuai dengan kriteria tersebut, sebaiknya segera berbai'at kepadanya. Berbai'at dalam arti menyatakan setia untuk menjadi seorang murid yang baik. Bai'atan khofiyah (secara sembunyi2) atau bai'atan jahriyah (secara terang-terangan atau terbuka). Baiat untuk selalu ta'at untuk menjadi murid yang Shodiq. Baiat merupakan pengunci ikatan hubungan Ruhani antara murid dan guru. Baru setelah itu guru Mursyid memberikan talqin (bimbingan teknis dzikrullah).

3. Berguru kepada Guru Mursyid.
Berguru kepada guru Mursyid adalah:
- Dengan cara mengamalkan bimbingan Dzikir dan amalan-amalan keruhanian yang diajarkannya, dengan yakin dan penuh harap.
- Mendengarkan pengajaran ilmu2 serta hikmah2 kehidupan yang disampaikan dengan penuh khusyu' dan berharap untuk bisa mengamalkannya.
-Serta berguru dalam arti meniru tindak-tanduk (Akhlak dan kepribadian) nya dengan senang hati dan bangga.

4. Berkhidmat kepada Guru Mursyid.
Seorang murid harus ada niat dan upaya untuk berkhidmat kepada guru Mursyidnya,  khususnya membantu beliau dalam usaha-usaha perjuangannya. Perjuangan dalam meninggikan kalimat Allah dan meratakan rahmat-Nya bagi seluruh alam.
Berkhidmat kepada guru Mursyid sebaiknya adalah berdasarkan kesadaran kita untuk berkontribusi (urunan) dalam mensukseskan program perjuangan beliau dan keridloan beliau terhadap diri seorang murid atau Salik. Dengan jiwa raga dan harta benda. Sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh seorang murid atau Salik.

5. Beradab kepada Guru Mursyid.
Seorang mutashawwif (orang yang belajar Tasawuf) harus senantiasa menjaga adab kepada guru Mursyidnya, sebagai mana para sahabat kepada Rasulullah Saw. Baik dalam berbai'at, belajar, berkhidmat berkomunikasi sehari-hari. Karena memang hubungan murid dengan Mursyid adalah manifestasi atau perwujudan adanya hubungan antara para sahabat dengan Rasulullaah. Mursyid berperan sebagai mana Rasulullaah dan murid berperan sebagai para sahabatnya.
Di antara adab seorang murid kepada Mursyidnya adalah;
a. Secara  batin.
- Selalu berhusnudhon (berprasangka baik).
-  Selalu menjaga mahabbah (cinta) sebagai orang tua ruhani.
- Selalu ta'dhim (mengagungkan), Ikrom (memuliakan) diri dan keluarganya.
b. Secara dhohir.
-  Mengistimewakan dalam pelayanan dan perlakuan.
- Mendahulukan dan menomorsatukan.
- Menggunakan bahasa yang indah, rendah dan berfaedah.
- Menjaga perasaan, harga diri dan kehormatan diri, harta dan keluarganya.

C. Manfaat Belajar Tasawuf.

Jika seseorang orang belajar Tasawuf dengan cara-cara para sufi tersebut dengan baik dan istiqamah,  maka seseorang akan mendapatkan diantara manfaat-manfat berikut:
1. Akan terjadi proses perjalanan Ruhani taroqqi (proses naik), dan dia akan mengalami perubahan karakter dan kelas spiritual (maqomat dan ahwal), sehingga terbentuk Akhlak mulia sebagai mana yang dicita-citakan oleh Rasulullaah Saw.
2. Akan terjadi proses pendewasaan diri.Hal itu terjadi karena kecerdasan emosional dan spiritualnya semakin semakin meningkat. Emosinya akan semakin tertata. Stabil, bisa sabar, syukur, pema'af dan toleran (lapang dada).
Kecerdasan spiritual akan meningkatkan. Kemampuan memaknai fenomena kehidupan, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun yang terjadi pada alam sekitar, akan terus meningkat. Sehingga mampu membaca ayat-ayat Allah berupa apa saja. Baik ayat qauliyah (dalam kitab suci), insaniyah (kehidupan sosial), maupun kauniyah (alam semesta), dengan baik. Sehingga dia menjadi manusia yang pluralis-transendental (menyaksikan kemahaesaan Allah dalam keragaman di alam semesta.
3. Akan terjadi tajalliyatullaah dalam dirinya.
Karakter Allah dalam Al Asma' Al Husna dalam jiwa seseorang yang dengan sabar dan istiqamah belajar Tasawuf dengan cara para sufi tersebut. Dia akan menjadi seorang yang sangat: pengasih, Penyayang, Suci, sejahtera dan seterusnya.
4. Menggapai bahagia yang hakiki dan abadi.
Bahagia yang hakiki yaitu bahagia yang benar-benar menyentuh jiwa. Kedamaian jiwa yang tidak tercampuri rasa takut dan gelisah. Sedangkan kebahagiaan abadi yang dimaksudkan adalah kebahagiaan yang berkelanjutan mulai dari dunia sampai di alam keabadian (alam baqa').
5. Mencapai Puncak Spiritualitas (Mahabbah dan Ma'rifah).
Dengan istiqomah belajar Tasawuf dengan cara para sufi,  seseorang akan mencapai puncak spiritualitas yang disebut Mahabbah dan Ma'rifah (cinta- kenal), cinta kepada Allah dan dicintai oleh Allah. Mengenal diri sendiri dan mengenal Allah juga dikenal oleh Allah.
Read more…

Tatacara mandi taubat dan sholat taubat.


Tatacara mandi taubat dan sholat taubat.
1. Mandi taubat

a. Berniat :  saya berniat mandi dalam rangka bertaubat kepada Allah dari semua dosa saya karena Allah.
b. Meratakan air ke seluruh tubuh, mulai dari ubun2 sampai ujung kaki berikut dengan bagian yang tersembunyi.
Catatan: sebaiknya mandi taubat tidak menggunakan sabun dan sampo. Cukup digosok-gosok,  Serta didahului dengan wudlu.


2. Sholat Taubat

a. Niat sholat:
Saya niat sholat , dalam rangka taubat atas segala dosa, dua rokaat karena Allah.
b. Takbir dan seterusnya seperti biasanya.
c. Surat yang dibaca; rokaat pertama idzaa jaa'a Nasrullah. Dan rokaat kedua surat Al ikhlas.
d. Setelah salam membaca istighfar: (astaghfirullaahal 'adhiim, Alla dzii laa ilaaha Illa hual hayyul qoyyuum wa atuubu ilaih, taubata 'abdin dholimiin laa yamliku Li nafsihi dhorron wa laa naf'an Walaa Mautan wa laa hayaatan wa laa nusyuuroo )11×
Read more…

SHOLAWAT ULUL ALBAB