Fadlilah Sholat Berjamaah Sebagai Pembentuk Akhlak Mulia

Fadlilah Sholat Berjama'ah sebagai Pembentuk Akhlak Mulia

Oleh: Abi Kharisuddin Aqib


A. Pengantar  

Sholat adalah bentuk ibadah umat Islam yang paling sakral dan penting. Minimal wajib dilakukan setiap hari 5 kali, maksimal tidak terbatas. 

Dalam sholat (ibadah umat Islam), terdiri dari posisi, gerakan, bacaan dan penghayatan. Posisi, berdiri, ruku', sujud dan duduk. Gerakan takbir dan perpindahan antar posisi. Sedangkan bacaan; takbir, surat Al Fatihah, tasbih, tahmid, tahiyat, tasyahud, dan atau surat atau ayat suci Al Quran. Adapun penghayatan meliputi : mendekat , menghadap, memuji, memohon, mengharap, merajuk dan merayu. 

Sehingga perbuatan yang dinamakan sholat memiliki efek positif atau manfa'at yang sangat besar bagi pelaku dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

B. Manfa'at Sholat

Ditinjau dari berbagai aspek sholat memiliki banyak manfa'at, yang secara detail bisa dilihat dari sisi bagian dari sholat itu sendiri: 

1. Posisi sholat.

- Berdiri, sambil meletakkan lengan dan tapak tangan menempel di perut di atas pusar. Berdiri tegak lurus dan menghadap kiblat, tanpa alas kaki. Manfa'at posisi seperti ini, memungkinkan terjadinya proses grounding terapy atau penyembuhan dari kondisi suntuk dan tidak nyaman secara psikologis karena kondisi listrik statis tubuh berlebihan atau tidak mengalir dengan baik. Juga dengan posisi seperti ini, intuisi (Ilham - Ilham), positif mudah masuk melalui ubun-ubun (Cakra Mahkota), atau lathifatul Qolab.

- Ruku' , membungkukkan badan membentuk sudut 45' , dengan kedua tapak tangan menempel pada kedua lutut, seraya menahan isi perut ke arah dada. Manfa'at posisi ini, seseorang terjaga dari sakit hernia dan ambeien. Begitu juga otot-otot perut akan menjadi sehat, kuat dan aktif. 

- Sujud, menempelkan dahi,  dua tapak tangan, dua lutut dan dua ujung dalam tapak kaki menempel kuat dan rapat pada lantai, pantat diangkat lebih tinggi dari kepala sehingga tubuh membentuk sudut 45'. Manfa'at posisi ini diantaranya, memperlancar peredaran darah dari jantung ke otak, sehingga mekanisme kerja otak dan sistem sarafnya akan menjadi lebih baik. Organ pencernaan dan pembuangan akan tertekan ke arah dada, sehingga prostat dan anus bisa terhindar dari penyakit kanker, pembekuan darah dan pembengkakan. Posisi sujud ini juga sangat bermanfa'at untuk proses grounding terapy, secara pararel. Dahi, dua tapak tangan, dua lutut dan dua tapak kaki sebagai konektor ke ground (tanah). 

- Duduk, ada dua macam duduk; iftirosh dan tawarruk .  Iftirosh atau bersila posisi duduk dengan beralaskan dua tapak kaki. Atau satu tapak kaki, sedangkan tapak kaki yang satunya sebagai konektor ke ground. Sedangkan duduk tawarruk, langsung duduk pada lantai dan tapak kaki kiri disilangkan ke samping kanan, sedangkan kaki kanan dipancatkan pada lantai. Posisi kepala condong ke arah dada kanan bawah.

Diantara manfa'at posisi duduk dalam ibadah sholat adalah relaksasi dan meditasi mendalam (deep relaxation), baik pada titik fokus otak tengah atau otak kanan depan, sebagai bentuk aktifasi.

Dengan efek positif posisi tersebut memungkinkan kecerdasan emosional dan spiritual akan terjadi perbaikan (aktifasi). Apalagi didukung dengan penghayatan atas bacaan-bacaan yang dilakukan pada saat duduk tersebut.


2. Gerakan Sholat 

Gerakan sholat secara garis besar hanya ada dua macam, gerakan takbir dan gerakan peralihan antar posisi. 

- Gerakan takbir, juga meliputi gerakan takbirotul ihram dan takbir intiqol (takbir tanda perpindahan posisi). Takbiratul ihram atau takbir pengharaman atau penutupan atas perbuatan dan perkataan di luar gerakan dan perkataan ritual sholat. Yakni mengangkat kedua tangan ke atas pundak selaras dengan posisi kedua telinga, kemudian menurunkan keduanya dan meletakan keduanya di atas pusar, dengan posisi lengan kiri dipegang oleh tangan kanan, juga Tatacara takbir seperti ini juga dilakukan pada takbir intiqol setelah ruku' dan sujud ke dua pada raka'at selain yang terakhir. Pada takbir yang seperti itu, ada manfa'at meditatif (mental spiritual). Khusus takbir setelah ruku' tangan diangkat ke atas dan diturunkan dengan berayun dan diletakkan lurus ke bawah seraya berdiri tegak. Pada gerakan ini ada manfa'at kesehatan fisik yang sangat bagus. Yakni kelancaran aliran darah pada ruas-ruas tulang tangan dan jari-jari. Dengan demikian beberapa sakit yang terkait dengan aliran darah, bisa disembuhkan atau dihindari. Seperti seperti kolesterol, asam urat dan gula darah juga gangguan tekanan darah.

- - Gerakan dan perpindahan posisi,  semuanya disertai bacaan takbir (takbir intiqol) selain memiliki beberapa meditatif , juga memiliki beberapa manfa'at gymnostic, sebagai mana senam kesegaran jasmani. Mulai dari berdiri, ke ruku' dan sujud, dari duduk ke berdiri. Akan terjadi proses penguatan otot dan urat syaraf, perenggangan dan pelumasan pada persendian (persendian tulang belakang dll), serta pembakaran asam, lemak dan gula darah. Sehingga secara efektif bisa menyehatkan pelakunya,  apalagi jika dilakukan dengan benar-benar mengikuti Sunnah Rasulullah, dengan jumlah yang banyak. 


3. Bacaan Sholat.

Beberapa bacaan sholat meliputi: takbir, do'a Iftitah, surat Al Fatihah, surat atau ayat suci Alquran. Tasbih ruku', ikrar i'tidal, tasbih sujud, do'a dalam diantara dua sujud, bacaan tahiyat, tasyahud dan salam. Adalah sebuah majelis dialog dan komunikasi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Komunikasi dekat dan mendalam. Yang sangat besar pengaruhnya  terhadap kesehatan mental spiritual. 

- Perkataan takbir (Allahu Akbar), adalah sebuah ungkapan ikrar sekaligus sanjungan seorang hamba pada Tuhannya. Dengan ungkapan takbir yang berkali kali, seorang musholli jiwa tauhid nya tumbuh dan berkembang, sehingga akan muncul semangat atau jiwa pemberani. Baginya selain Allah semuanya kecil, termasuk dirinya. Sehingga akan muncul akhlak pemberani namun tidak sombong sebuah kepribadian yang unik dan menarik. Karena biasanya orang yang pemberani adalah orang-orang yang sombong atau takabbur.


- - Bacaan Iftitah, atau bacaan pembuka sholat. Bacaan yang diungkapkan setelah takbiratul ihram dan sebelum baca Al Fatihah. Ungkapan lengkapnya sbb: 

كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا، إني وجهت وجهي للذي فطر السماوات والأرض حنيفا مسلما وما انا من المشركين،  

أن صلاتي، ونسكي ومحيايا ومماتي لله رب العالمين. لا شريك له وبذلك أمرت وانا من المسلمين ،

Bacaan Iftitah ini, merupakan ikrar kesetiaan seorang hamba kepada Tuhan, sebelum dialog lebih lanjut.


Dengan pembiasaan membaca ikrar tersebut akan iman dan militansi tauhid yang kokoh tak tergoyahkan.

- Bacaan Surat Al Fatihah. 

Surat Al Fatihah wajib dibaca pada setiap raka'at shalat apa saja. Sehingga setiap orang Islam tiap hari paling tidak membaca surat Al Fatihah sebanyak 17×. 

{ بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ (1) ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِینَ (2) ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ (3) مَـٰلِكِ یَوۡمِ ٱلدِّینِ (4) إِیَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِیَّاكَ نَسۡتَعِینُ (5) ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَ ٰ⁠طَ ٱلۡمُسۡتَقِیمَ (6) صِرَ ٰ⁠طَ ٱلَّذِینَ أَنۡعَمۡتَ عَلَیۡهِمۡ غَیۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَیۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّاۤلِّینَ (7) }

[Surat Al-Fatihah: 1-7]


Pengulangan bacaan surat Al Fatihah, yang berkali-kali dan Istiqomah akan membentuk karakter atau akhlak Qur'ani. Sebuah karakter yang sehat dan proporsional antara jiwa ketuhanan dan jiwa kehambaan. 

- Bacaan Surat atau Ayat yang lain. 

Selain bacaan surat Al Fatihah, di dalam sholat juga disarankan untuk membaca surat atau ayat suci Al Quran yang lain. Dan diantaranya adalah dalam rangka berfungsi sebagai tadzkirah (peringatan) tentang pesan-pesan moral yang tinggi dari Allah bagi para hamba yang terpelajar. Dan penggetar jiwa untuk menguatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Kebenaran dan keadilan. 

- Bacaan Tasbih Ruku'.

Tasbih dalam ruku' dan sujud berbeda. Tasbih dalam ruku': 

سبحان ربي العظيم وبحمده ٣× 

Pengulangan bacaan tersebut akan berdampak pada pembersihan jiwa dari sifat angkara murka. Dan akan menimbulkan sifat terpuji, suka memuji dan tidak gila pujian. 


- Tasbih I'tidal.

Bacaan tasbih dalam i'tidal; 

سمع الله لمن حمده، ربنا لك الحمد ملؤ السماوات وملؤ الأرض وملؤ ما شئت من شيئ بعد.  

Tasbih ini lebih dekat dengan ikrar. Sehingga jiwa akan terbersihkan dari egoisme dan hidonisme, akan menumbuhkan karakter transendental (kesadaran selalu terikat dengan Allah yang maha kuasa). Suka berbuat terpuji dan suka memuji tetapi tidak gila pujian. 


- Tasbih Sujud.

سبحان ربي الأعلى وبحمده ٣×

Tasbih ini akan jika dilakukan secara rutin, Istiqomah dan penuh dengan penghayatan, akan menimbulkan dampak yang sangat positif. Yaitu akan membersihkan jiwa dari penyakit power sindrom (selalu ingin dihormati dan ditaati, serta menganggap diri sendiri) paling tinggi. Di samping itu juga akan menimbulkan rendah hati dan suka hal-hal yang terpuji, suka memuji dan tidak gila pujian.

- Do'a di antara Dua Sujud. 

Pada posisi duduk di antara dua sujud ini sangat lengkap; 

ربي اغفرلي ، وارحمني ، واجبرني،وارفعني، وارزقني، واهدني وعافني واعف عني ...

Delapan kebutuhan pokok orang yang beriman. Ampunan, kasih sayang, bimbingan, derajat , rizki, kesehatan jiwa dan toleransi dari Allah SWT. 

Dengan Istiqomah dengan do'a tersebut, seseorang akan terjaga kesesatan dan keterpurukan dalam hidup. 

- Bacaan Tahiyat. 

التحية المباركة الصلوات الطيبة لله. السلام عليك ايها النبي ورحمة الله وبركاته ، 

السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين. اشهد ان لا اله إلا الله واشهد أن محمدا رسول الله. 

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد ، كما صليت على سيدنا ابراهيم وعلى ال سيدنا ابراهيم ، وبارك على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد ، كما باركت على سيدنا ابراهيم وعلى ال سيدنا ابراهيم ، في العالمين انك حميد مجيد. 

السلام عليكم ورحمة الله ، السلام عليكم ورحمة الله.

Arti bacaan tahiyat: 

Penghormatan yang penuh berkah dan do'a-do'a terbaik adalah untuk Allah. Selamat atas dirimu wahai sang nabi juga Rahmat dan berkah Allah. Selamat atas kita semua juga para hamba Allah yang Sholih-sholih. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa tuan kita Muhammad itu adalah utusan Allah.

Arti bacaan tahiyat:

Penghormatan yang penuh berkah dan do'a-do'a terbaik adalah untuk Allah. Selamat atas dirimu wahai sang nabi juga Rahmat dan berkah Allah. Selamat atas kita semua juga para hamba Allah yang Sholih-sholih. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa tuan kita Muhammad itu adalah utusan Allah. 

Yaa Allah, beri rahmat yg agung untuk Nabi Muhammad juga keluarga tuanku Muhammad, sebagai mana Engkau memberikan rahmat yg agung kepada tuanku Ibrahim dan keluarga tuanku Ibrahim. Dan berkahilah tuanku Muhammad dan juga keluarga Nabi Muhammad, sebagai mana Engkau telah merahmati tuanku Ibrahim dan Juga keluarga. Di alam semesta ini, sungguh engkau maha terpuji lagi maha pemberi.


4.Penghayatan di waktu sholat:

A. Datang Langsung Menghadap Allah SWT Yang maha besar , untuk melaporkan apa yang telah dikerjakan juga apa saja yang akan kita  lakukan juga yg kita inginkan

Kebesaran Dzat Allah yang maha besar, meliputi semua yang wujud dan yang mungkin wujud. Bahkan seluruh wujud ada di dalam kebesaran Allah SWT. Tidak ada yang maha besar kecuali Allah yang maha besar.

Dengan khusyu' dan tadhorru' , kita memuji dan berjanji untuk patuh dan setia serta tidak mendua. 

Kemudian memuji, memuja dan memohon. Agar selalu berada di dalam jalan hidup yang lurus yang disenangi dan dibanggakan oleh Allah SWT. Seraya membacakan Kalam suci-Nya. Sebagai nyanyian untuk-Nya dan pelajaran untuk kehidupan diri kita. 

B. Mensucikan dan mengagungkan Allah serta meninggikan-Nya. Dengan merendahkan diri sendiri dan menenggelamkan kebesaran diri dan kesombongannya, bersatu dengan bumi yang diinjak oleh semua kaki para abdi dan semua makhluk yang selalu membutuhkan rizki dan kasih sayang abadi.... 

C. Dengan posisi yang hina dan mengiba,memohon dan berdo'a: untuk semuanya kebutuhan hidupnya; ampunan dan kasih sayang Allah yang maha kaya, kuasa dan perkasa. Perlindungan, pengangkatan derajat, pemberian rizki, petunjuk ke jalan yang benar. Ampunan dan toleransi Allah atas segala kecurangan dan kecerobohan.

D. Formasi Barisan dalam Berjama'ah , atau shof-shof dalam barisan sholat, dengan disertai niat mengikatkan diri dalam satu perbuatan (sholat bersama), maka terjadilah persambungan Ruhani (spiritual), antara imam dan semua jama'ahnya, dengan Allah SWT sebagai Dzat yang diajak berkomunikasi dan pusat energi. Dengan niat berjama'ah maka semuanya mendapatkan aliran energi ketuhanan (faidl robbani) yang berdampak membersihkan jiwa dan menguatkannya. Niat berjama'ah dan formasinya yg rapat dan rapi, akan berdampak koneksitas sebagai mana rangkaian listrik paralel. Sehingga selagi masih ada yang khusyuk diantara jama'ah nya, sekalipun hanya satu orang diantara imam dan anggota jama'ahnya, apalagi jika semua atau banyak diantaranya bisa khusyu' maka pasti ibadah sholatnya bisa terkoneksi dengan Allah SWT dengan baik. Sehingga ibadahnya bisa diterima oleh Allah SWT, juga berdampak secara spiritual, psikologis dan sosiologis, khususnya perbaikan Akhlak dan karakter.  Oleh karena itu resep terbaik sholat bisa diterima oleh Allah SWT dan berdampak positif adalah dengan sholat berjama'ah. 

Dengan cara ini juga (sholat berjama'ah), Rasulullah Saw membangun solidaritas Islam (ukhuwah islamiah). Dengan formasi baris yang lurus lagi rapat, sesama jama'ah, akan saling menerima dan memberi auranya masing-masing. Sedangkan aura tubuh tersebut merupakan pancaran sinar, energi dan akhlak jiwa seseorang. Sehingga dengan Istiqomah sholat berjama'ah, antara mereka terjadi proses interaksi dan integrasi psikologi, sehingga jadilah sebuah bangunan kejiwaan diantara jama'ah, sehingga mereka merasa sehati dan saling menyayangi dan mencintai, seperti saudara.

E. Keluar dari Hadapan Allah.Seraya melihat dan menyapa ke tetangga kanan dan kiri, dengan membawa rahmat Allah dan barokah dari Allah SWT. Khususnya saudara yang dekat dan sejalan dengan kita. Saudara yang ada di sebelah kanan diri kita, baru selanjutnya pada saudara yang tidak sejalan dengan keberadaan kita. Itulah makna Ucapan atau bacaan, assalamu'alaikum wrwb, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri...

Read more…

Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia

Ringkasan Sejarah Islam di Indonesia
Oleh; Kharisudin Aqib   
 
 

A. Pengantar

Untuk memahami kondisi umat Islam di Indonesia sekarang, baik secara politik, ekonomi dan sosial budaya termasuk model keislamannya, tidak mungkin bisa memahaminya dengan baik kecuali telah memahami sejarah kedatangan umat Islam dan perkembangannya di Indonesia.
Setidaknya ada tujuh fase historis penting yang mempengaruhi corak dan warna warni serta subur dan kurusnya keislaman umat di Indonesia, ketujuh fase ini adalah; fase dakwah infirodiyah (individual), dakwah rosmiyah (formal); masa kewalian dan masa kesultanan, masa kolonial (penjajahan), masa kebangkitan, masa kemerdekaan dan masa kini (kontemporer).
In syaa'a Allah ke tujuh fase tersebut akan saya tulis  walaupun sekedar ringkasannya saja. Semoga bermanfaat dan berkah untuk semua.
B. Fase Dakwah Individual (abad 7-13 M).
Islam sudah masuk di kawasan Nusantara, sudah cukup lama, yakni sekitar tahun 650 (masa ke khalifahan Sahabat Usman bin Affan). Islam dibawa oleh para pedagang Arab yang telah menguasai peta laut dan navigasi. Juga secara individual dilakukan oleh para sufi dan dzurriyyah Nabi. Sehingga sebenarnya Islam sudah masuk di kawasan Nusantara sangat lama. Akan tetapi belum bisa tumbuh subur dan menjulang tinggi ke permukaan peradaban. Islam hanya menjalar di dalam 'tanah' sebagai akar budaya. Kelas elit politik dan sosial kawasan Nusantara belum bisa menerima Islam lebih karena para da'inya. Dalam pandangan agama Hindu dan Budha, sebagai agama penguasa kawasan ini pada masa itu, para petani, pedagang dan tukang adalah kasta (kelas sosial) yang paling rendah, mereka tidak berhak 'berbicara' perkara sakral dan suci (agama). Sehingga pada era ini (abad 7-13), Islam hanya berwujud agama budaya dalam komunitas proletar (rakyat jelata).
C. Fase Dakwah Resmi (abad 14-16 M)
Sekitar dua setengah abad (14-16 M), meliputi dua era, yakni era kewalian dan era kesultanan. Era ini sempat moncer dan bersinar terang, menerangi seluruh kepulauan Nusantara.
Bersamaan dengan meredupnya pamor kerajaan-kerajaan Hindu Budha di kawasan Nusantara, karena kejahatan dan menguatnya kekuatan hitam (Tantrayana kiri), sehingga wilayah Nusantara, khususnya pulau Jawa, menjadi daerah yang 'suram' jalmo Moro jalmo mati (setiap orang yang datang pasti mati). Maka kekhalifahan Islam di Turki (Khalifah Muhammad 2) mengubah strategi dakwahnya di wilayah Nusantara dengan mengirimkan tim da'i profesional, yang dikenal di Pulau Jawa dengan istilah WALI SONGO. Mereka adalah para ulama' Sufi yang Zuhud lagi memiliki keahlian yang sangat tinggi. Mereka antara lain didatangkan dari Palestina, Maroko, Kamboja dan Mesir. Konon organisasi ini berjalan selama 6 pereode dengan jumlah selalu 9 orang, pada area dakwah 9 daerah kewalian (9 wilayah). Tugas para wali tersebut di samping berdakwah mengajak masyarakat untuk masuk dan memeluk agama Islam, melaksanakan kepemimpinan umat juga membentuk pemerintahan Islam yang resmi di bawah otoritas Kekhalifahan Dinasti Usmaniyah yang berpusat di Turki dan wakil kekhalifahan di Makkah, (Syarif, wali kota Makkah).
Pemerintahan Islam yang dibentuk oleh para Walisongo adalah kesultanan, yang wilayah kerjanya mungkin setara dengan Gubernuran.
Pada era inilah warna keislaman di Nusantara, khususnya Indonesia menjadi sangat jelas, yakni Islam sufistik, yang bermazhab Syafi'i. Sebagaimana marna keislaman Kekhalifahan turki Usmani.
D. Fase Kolonialisme (Abad 17-20 M).
Dalam sejarah Indonesia, abad ini disebut Fase kolonialisme. Dari sisi sejarah Islam Indonesia, fase ini masih masuk fase kesultanan. Karena pada fase ini umat Islam masih di bawah pemerintahan para sultan dan Adipati, khususnya sampai awal abad 19-an. Sekalipun pemerintahan Islam kebanyakan sudah tidak berdaya dan sangat 'tua' menghadapi hegemoni para kompeni (pedagang) dari Belanda, yang lebih maju dalam hal teknologi (tranportasi dan militer), dan cara berfikir. Sehingga pada era ini, umat Islam berada di dalam beberapa kondisi politik; melemahnya politik Islam, penjajahan Belanda, kebangkitan nasionalisme Islam. Kebangkitan nasionalisme Indonesia dan kemerdekaan.
1. Fase melemahnya politik Islam.
Kedatangan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda), di kawasan Nusantara ini sangat besar pengaruhnya terhadap 'kesehatan' politik umat Islam. Dengan taktik 'Devide at Ampera' (memecah belah dan menguasai), secara sistematis kesultanan dan Islam politik bisa dibonsai dan dikuasai, dengan pelan-pelan tetapi pasti. Sehingga Islam di Indonesia belum pernah muncul sebagai kekuatan puncak, tingkat nasional maupun internasional. Pemerintahan Islam di kawasan Nusantara baru bersifat lokal regional saja.
Kekuasaan Sultan Iskandar muda dari Aceh (Samudera Pasei) dan Sultan Agung dari Mataram Surakarta, adalah puncak prestasi politik Islam. Hampir semua kesultanan dan kadipaten, runtuh karena perang saudara, dengan sutradara para politikus licik kompeni Belanda.
2. Era Titik Nadir Sejarah Islam Indonesia.
Sekitar abad 18 -19 M adalah titik nadir kondisi umat Islam di Indonesia, dalam hampir semua kondisinya, (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya). Hampir seluruh kesultanan, dan kadipaten Islam di seluruh wilayah Nusantara berada di dalam cengkeraman dan penindasan kaum penjajah (Belanda, Inggris dan Portugis).
Mulai saat itu, terjadinya dikotomi dan komunitas muslim yang beragam.
Umat Islam yang kurang kuat iman dan ilmunya cenderung mengikuti para penjajah (menjadi pegawai dan karyawan mereka), menjadi kelas bangsawan pro penjajah (budaya, cara berfikir dan agamanya). Sementara yang imannya kuat dan dan berdaya, mengambil peran oposisi, dan mengambil garis demarkasi dengan penjajah, bahkan membuat benteng -benteng pertahanan agama dan budaya yang disebut pesantren. Dari sinilah lahir komunitas santri.  Sedangkan kelompok tengah (para pedagang dan profesi) selanjutnya berkembang menjadi yang keislaman tidak terbina dengan baik, tetapi juga tidak mengikuti agama dan budaya penjajah Belanda. Mereka itu yang di belakang hari disebut kaum abangan.
Terjadi dikotomi pendidikan dan keilmuan, pendidikan agama (pondok pesantren-madrasah) dan umum (sekolah-universitas). Juga menguatnya keberadaan pengaruh agama Kristen dan peradaban Belanda di Indonesia.
Ekploitasi besar-besaran terhadap sumber daya manusia dan sumber daya alam Nusantara dilakukan oleh para penjajah, baik oleh Belanda maupun yang lain. Tanam paksa untuk suplai kebutuhan pasar Eropa, maupun kerja paksa untuk pembangunan infrastruktur pendukung kelancaran roda ekonomi dan pemerintahan pada masa ini selalu dilakukan oleh pemerintah Belanda, atas rakyat kecil, (para petani dan kaum buruh) dari pedesaan.
Pendidikan bagi rakyat biasa tidak difasilitasi oleh pemerintah, kecuali dengan sangat terbatas. Kaum muslimin menyelenggarakan sendiri pendidikannya di pondok, dan masjid serta surau - surau. Itupun hanya masalah agama saja.
3. Era Kebangkitan dan Perlawanan Umat Islam.
Akhir abad 18 dan  abad 19 adalah era kebangkitan Islam dan perlawanan umat terhadap para penjajah Belanda,  khususnya di kawasan Nusantara (termasuk Indonesia).
Ketika umat Islam berada di titik nadir peradabannya, para penjajah Belanda mulai lebih intensif mengembangkan peradabannya, termasuk agamanya (Kristen, baik Katholik maupun protestan). Gereja atau tempat ibadah dan pendidikan, basis peradaban barat, banyak didirikan. Maka mulailah terjadi kebangkitan umat Islam untuk selanjutnya melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Para sultan, pangeran dan ulama' mulai angkat senjata. Mulai dari Sabang sampai Merauke. Sultan Banten, Sultan Syarif Hidayatullah, Sultan Alauddin, Sultan Hasanuddin, Pangeran Diponegoro, dll. Inilah kebangkitan dan perlawanan umat Islam Nusantara, kebangkitan atas dasar semangat keislaman dan primordial bangsa timur vs Barat. Inilah kebangkitan umat Islam Nusantara yang pertama.
Sedangkan kebangkitan dan perlawanan umat Islam terhadap penjajah, mulai abad 19 sampai dengan awal abad 20 adalah abad kebangkitan para pemuda, dari kalangan ilmuwan dan tokoh muda. Khususnya mulai tahun 1908 dan seterusnya. Khususnya di Pulau Jawa (Jawa timur dan Jawa tengah), pasca perang Diponegoro 1825 -1830, telah terjadi kebangkitan nasionalisme kaum santri. Para ulama' dan mantan  pengikut pangeran Diponegoro, banyak sekali yang  mendirikan pesantren, sekaligus Pesanggrahan benteng pertahanan dan perlawanan terhadap penjajah Belanda secara ideologi, agama dan budaya. Pesantren -pesantren inilah yang disebut sebagai Cagar budaya Islam Nusantara.
Seiring dengan runtuhnya sistem pemerintahan Islam (dibubarkannya kekhalifahan Turki Usmani di Istanbul, tahun 1924), terjadilah kebangkitan umat Islam yang ke dua.  Kebangkitan ke dua umat Islam dan  masyarakat terjajah di kawasan Nusantara ini dipelopori oleh para pemuda atau kaum terpelajar muda. Awal tahun 1900an mereka mulai bangkit,  baik dari kalangan santri, priyayi dan abangan, bahkan para tokoh non muslim. Para ulama' alumni timur tengah (Makkah, Yaman dan Mesir) sarjana produk pendidikan barat (dalam dan luar negeri), dan para tokoh pergerakan serta aktifis kemasyarakatan. Semuanya bangkit bersama - sama melawan kolonialisme barat, dan penjajahan Belanda. Tahun 1928 membuat momentum sejarah NKRI, dengan "Sumpah Pemuda". Kebanyakan mereka mendirikan organisasi pergerakan, Perjuangan, dakwah dan profesi. Seperti, Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama', PKI, Masyumi dll. Semuanya mengajak masyarakat untuk bangkit melawan dan melepaskan diri dari penjajahan Belanda.
Melalui prakarsa para santri H. Oemar Said Tjokroaminoto, pemuda Soekarno dkk. Juga segenap tokoh elemen bangsa akhirnya bangsa Indonesia bisa merdeka dan lepas dari penjajahan Belanda.
4. Era Kemerdekaan.
Sumpah pemuda adalah start kebangkitan nasionalisme dan patriotisme sebagai embrio bangsa Indonesia. Dan era kemerdekaan NKRI dimulai dari sini. Semua suku bangsa yang mendiami kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, yang menjadi jajahan kolonial Belanda, sepakat mendirikan satu negara yang disebut Indonesia. Sepakat menyatukan berbagai macam perbedaan dalam satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Dengan semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" (berbeda-beda tetapi tetap satu tujuan).
Era kemerdekaan ini sangat menentukan corak dan warna negara dan pemerintahan Indonesia. Para tokoh perintis kemerdekaan, khususnya 9 'wali songo' Indonesia (Ir. Soekarno, Drs. Moh.Hatta, Mr. Muhammad Yamin, AA.Maramis, KH. Wahid Hasyim, H. Agus Salim, R. Abi Kusno, R. Soebagyo).
Terjadinya saling mempengaruhi di antara tiga ideologi politik umat Islam (nasionalis, nasionalis-relegius dan islamis), dapat kompromikan dalam bentuk konstitusi sangat simpel tapi  meliputi (baligh) yakni UUD 1945, khususnya pada bagian pembukaannya, yaitu Pancasila. Juga bentuk negara yang indah dan harmonis, NKRI, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Konsep negara secara lengkap berhasil dideklarasikan pada tanggal 18 Agustus 1945. Inilah peran penting, kearifan dan jasa monumental, yang luar biasa para 'wali' pendiri negara kesatuan republik Indonesia. Ketidak puasan beberapa pihak minoritas yang ekstrim, khususnya kelompok komunis dan islamis sering kali menjadi  ganjalan dalam perjalanan roda pemerintahan. Dan bisa dibersihkan setelah berakhirnya pemerintahan Republik Indonesia pereode pertama (Orde lama). Berkah Rahmat Allah, dan karomahnya para wali, wilayah negeri ini selalu dalam lindungan Allah SWT dan bimbingan-Nya, dapat istiqamah dalam Islam yang modern dan moderat, sejak awal pendirian hingga saat ini.
 5. Era pasca kemerdekaan.
Pasca kemerdekaan, keberadaan umat Islam dapat dilihat di dalam tiga orde pemerintahan,  yaitu orde lama, orde baru dan orde reformasi.
- Orde Lama.
Pada masa orde lama, umat Islam masih tersibukkan oleh 'rebutan peran politik' untuk mengemudikan pemerintahan,  antara kaum islamis, nasionalis-relegius, dan komunis.
Orde lama ini mulai dari pengangkatan Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta sebagai Presiden dan wakil presiden RI, dan berakhir dengan adanya kudeta berdarah yang gagal yang dilakukan oleh PKI, sehingga keluarnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret 1966).
- Era ode baru.
Era ini dimulai dari diangkatnya Soeharto sebagai presiden, dan berakhir dengan adanya 'kudeta tidak berdarah' yang dipelopori oleh beberapa elemen politik bangsa, khususnya kaum islamis, akademisi dan kaum tertindas.
Pemerintahan pada era ini bergaya represif dan spirit militeristik. Dengan prioritas stabilitas pertahanan dan keamanan, demi tercapainya tujuan pembangunan nasional. Kaum ekstrimis, baik islamis (ektrim kanan) maupun sisa-sisa kaum komunis (ektrim kiri) ditekan dan 'dipenjarakan' , sehingga pembangunan nasional bisa berjalan dengan mulus tanpa hambatan. Sampai menguatnya kelas sosial baru muslim santri sebagai politisi,  pengusaha, dan  akademisi. Dan mereka inilah yang merancang terjadinya reformasi birokrasi dan pemerintahan. Sehingga terjadi era yang disebut era reformasi.
- Era Orde Reformasi.
Orde reformasi ini merupakan pembaharuan orde baru, dan terjadi di masa pemerintahan presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Pada era ini bangsa Indonesia masa perubahan model dan gaya kepemimpinan dan birokrasi. Dari gaya militeristik represif ke dalam pemerintahan sipil liberalistik. Kebebasan terjadi dalam sebagian besar kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Bahkan kelompok - kelompok ektrim kanan dan kiri yang dipenjara oleh orde baru juga dibebaskan untuk hidup dan berkembang biak di negeri ini. Pilar-pilar tirani mayoritas dan feodalisme diruntuhkan. Bahkan egaliterian betul-betul menjadi primadona moralitas bangsa. Sehingga di era ini suara rakyat, suara publik atau suara masyarakat adalah suara 'tuhan' di dunia.
Berbagai sekte dan  aliran dalam Islam, masuk dengan mudah dan nyaman di Indonesia. Sekte dan aliran pemikiran barat modern juga dengan lancar tumbuh subur di negeri ini, bahkan berbagai macam atheisme dan komunisme juga tumbuh dan berkembang kembali di Indonesia ini. Walaupun demikian tidak semua aliran dan sekte tersebut bisa bertahan hidup di negeri ini. Beberapa sekte dan aliran dalam Islam yang kemudian tumbuh subur di negeri ini antara lain; Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, Jam'iyyah Tabligh, Salafi dan Wahabiyah, Serta Syiah. Mereka inilah yang selanjutnya turut mewarnai keislaman bangsa Indonesia. Orde reformasi ini merupakan titik awal pemerintahan sipil dan demokrasi yang sesungguhnya. Sehingga wujud dan keberadaan serta warna baru umat Islam Indonesia masa kini (Islam kontemporer) adalah buah dari tanaman di era reformasi ini. 
6. Kondisi umat Islam Masa kini (kontemporer).
Masa kini atau era kontemporer di sini saya batasi dalam durasi antara pasca era reformasi sampai dengan sekarang.
Sedangkan kondisi umat Islam yang saya maksud adalah kondisi ideologi-politik, ekonomi dan sosial budaya.
 - Ideologi politik
Kondisi umat Islam Indonesia masa kini berbeda spektrumnya dengan kondisi zaman sebelumnya. Pasca reformasi banyak ideologi baru yang bersifat trans nasional,  yang masuk dan berkembang secara massif di Indonesia. Melalui organisasi politik keislaman, seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, Wahabi, Syiah serta Jama'ah Tabligh wal Jaulah. Mereka sedang berjuang keras untuk mendapatkan tempat dan peran sosial di Indonesia.
Sedangkan kelompok umat Islam dengan ideologi nasional relegius yang sudah setel, seperti Nahdlatul Ulama' dan Muhammadiyah dalam posisi yang 'terdesak' dengan berbagai gugatan dan bulian. Sedangkan politik luar negeri, juga sekarang dalam tarik ulur antara kerjasama dengan barat (Amerika) dan dengan timur (China atau Arab). Idealnya, Islam harus mandiri, laa syarqiyyah (tidak barat)  wa laa gharbiyyah (tidak timur) karena memang Islam itu unggul (exelen) dan uniq (beda dengan yang lain). Tetapi kenyataannya Islam masih mahjubun bil muslimin, keunggulan Islam masih terhalang oleh buruknya kwalitas SDM umat ada. Dan banyaknya firqah (kelompok ideologi), yang saat ini semakin marak akan lebih mempersulit proses terjadinya persatuan dan kesatuan umat Islam di Indonesia.
- Ekonomi Umat Islam
Kondisi ekonomi umat Islam Indonesia masa kini, sudah sangat lebih baik dari pada era orde sebelumnya. Hal ini lebih banyak karena keberhasilan program pembangunan nasional pada masa orde baru. Namun demikian dari sisi kondisi ekonomi umat Islam diprediksi akan terus meningkat seiring dengan berjalanya pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan transportasi yang luar biasa hebatnya. Jalan tol, dermaga dan bandara. Serta jaringan internet ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Keberhasilan pembangunan infrastruktur di masa pemerintahan Jokowi akan menjadi pangkal tolak perkembangan perekonomian bangsa. Dan hampir dapat dipastikan  Indonesia akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler. Persoalannya, mampu kah umat Islam, khususnya para pengusaha muslim berkompetisi dengan pengusaha asing di era globalisasi ini ? Kita lihat saja di era yang akan datang.
- Sosial - Budaya.
Kondisi sosial budaya umat Islam di masa kontemporer ini, cukup menggembirakan;  pendidikan, peradaban dan moralitas umat.
Pemerataan layanan pendidikan terus menerus mengalami pertumbuhan yang sangat besar, termasuk pendidikan keagamaan.
Peradaban yang berbasis Islam, juga semakin meningkat, baik dalam masyarakat perkotaan maupun pedesaan. Kuantitas dan kualitas "kaum santri"
(pemeluk Islam taat) semakin meningkat, hal ini lebih banyak disebabkan oleh meningkatnya dakwah Islam, baik oleh kalangan santri lama (NU, MD, LDII, Al Irsyad dan Persis), maupun santri baru (JT, IM, HT, Slfy, dan WHB). Santri jaringan internasional, murid-murid dari Syekh Hasan Al Banna, Syekh Taqiyuddin an Nabhani, Syekh Ilyas, Syekh Abdul Wahab dll.
Sedangkan moralitas, umat sedang banyak dipertanyakan oleh publik, sehubungan dengan banyaknya kasus korupsi dan OTT, khususnya terkait dengan kezuhudan dan penghayatan keagamaan, dari kalangan alumni pendidikan agama dan pesantren.
Demikian ringkasan sejarah umat Islam di Indonesia hingga saat ini.
Wallahu a'lam bis showab.
TTD
Kharisuddin Aqib.
Read more…

KH.Umar Murtojo, Pendiri Pondok Kelutan

KH.Umar Murtojo
[1819 M - 1915 M ]
 (Pendiri Pondok Kelutan)
Oleh; Kharisudin bin Aqib bin Umar Murtojo) 
Nama kecil Mbah KH.Umar Murtojo adalah Murtojo, sedangkan Umar adalah nama hajinya. Beliau adalah seorang kyai pengusaha dan aktifis, bukan kyai yang nglutuk. Usahanya adalah bidang perdagangan (dagang hasil pertanian/agrobisnis, dagang kuda dan kain batik), di samping penulis kitab. Bisnis hasil pertanian sendiri dengan China dan kemudian dibawa ke Surabaya melalui kali Brantas. Dagang kain batik dari solo di jual di pasar warujayeng, atau Ngronggot.., sedangkan jual beli kuda diambil dari Ngantang Malang.., sehingga beliau termasuk dari bagian gerakan Nahdlatul Tujjar (ormas ulama' sebelum NU).
Karena ketrampilan nya dlm berbisnis dan jaringannya aktivitas nya yang luas, maka beliau tergolong kyai yang kaya dan sukses..., Banyak santrinya yg ngaulo (nderek ndalem) juga banyak santrinya yang Magersari (santri yang sudah berkeluarga, membuat rumah2 di sekitar pondok, dan bekerja pada beliau). Konon ada sekitar 80 orang santri Magersari dan yang nderek ndalem. Para santri itulah yang membantu bisnis beliau, ngerjakan sawah, menjual dagangannya ke pasar, dan transaksi dengan para mitra bisnis, termasuk dengan singkek "China". Untuk barang bukti utusan Mbah yai. Santri cukup dengan membawa cincin beliau 'merah delima'. 
Diantara santri yang kemudian menjadi keluarga adalah putra-putri kyai Yusuf Kelutan, yaitu; Mbah Hasyim, Mbah Harun dan Mbah Dewi. Ketiga orang bersaudara ini kemudian menjadi keluarga dekat. Hasyim diambil menantu, dinikahkan dengan putri pertamanya, yaitu mbokde Siti Kapiyah. Harun diajak besanan,  pakde Benu/ Ibnu Hasyim nikah dengan putri Mbah Harun Yang pertama : mbokde Siti Fatimah. Dewi dinikahkan dengan lurah pondok yang berasal dari Mbegelen, yaitu Mbah Faqih. Belakangan putra Mbah Harun menikahi cucu Mbah Umar, yaitu Kyai Abdillah menikahi Nihayah binti Aqib Umar.
Santrinya yang dari Sekaran Nadzir bin Haji Shaleh.
Santrinya yang dari Sekaran Nadzir bin H. Sholeh, dinikahkan dengan putri nya yang ke 5, Rukanah. Dari pernikahan tersebut lahir cucu-cucu beliau yang 'alim-alim, yaitu; Munhamir atau Mundzir (menulis beberapa kitab pesantren), Daniel (tokoh pergerakan tahun 1960-an.), Moh. Thoha, Khutthot penerbit Menara Kudus, dan Ilham (kyai senior di Kediri). 
Bersama dengan para santri dan menantunya, Mbah Umar, juga aktif membangun dakwah, Islam. Di antaranya mengordinir jum'atan di Warujayeng, mendirikan pusat suluk dan kemursyidan Thoriqah Naqsyabandiyah di Mindi.
Cucu yang dari putri pertama beliau (Siti Kapiyah), juga ada yang menjadi kyai Mursyid besar, yaitu kyai Ali bin Siti Kapiyah binti KH.Umar Murtojo, yang kemursyidannya ada di Punggur Metro Lampung Tengah. Sekarang kemursyidannya dilanjutkan oleh cucunya yang namanya KH.Muhtar (anggota group).
Semoga ada diantara anak-anak dan keluarga kita bisa sukses studi di Turki.., seperti Mbah Umar Murtojo sang pengembara.
Murtojo kecil berangkat mengembara sekitar tahun 1835 pasca perang Diponegoro. Berangkat dari dusun logantung- Murisan, Dlanggu Surakarta. Bersama dengan kakaknya (Mustopo) dan adiknya (Hasan Mimbar), menuju Jawa Timur, Tepat nya di desa Binangun, Kec. Binangun, Blitar Selatan. Berjalan kaki, gendong adiknya yang masih kecil itu, gantian dengan kakaknya, melalui pantai Selatan pulau Jawa. 
Setelah mondok di Binangun Blitar, beliau bertiga melanjutkan studinya di pesantrennya kyai Abdurrahman Gurah Kediri..... kemudian juga melanjutkan studi di Jampes Kediri. Selanjutnya mondok dan berjuang bersama dengan Mbah KH. Imam Ahmad Mberuk Sonopinggir-Ngronggot Nganjuk. Di pondok inilah, Mbah kyai Umar Murtojo memulai karir dan pengabdiannya.
Tidak seberapa lama ikut berjuang Mbah imam Ahmad, Mbah Umar  dijadikan menantu oleh Mbah Imam Ahmad, dinikahkan dengan putri pertamanya, yaitu Mbah Mujirah. Mbah Umar tinggal dan mendirikan musholla dan pesantren di barat jembatan Kelutan. Tepatnya sekarang lokasi madrasah Al Ulya. Utara jalan tempat rumah, mushalla dan pondokannya, sedangkan Selatan jalan rumah para Magersari, yang merupakan tanah pemberian Mbah imam Ahmad Mberuk.
Sedangkan kakak Mbah Umar (Mbah Mustopo) mukim di Ngronggot. Dan adiknya (Hasan Mimbar) mukim di Bagorejo Banyuwangi.  Waktu melahirkan Mbah Mujirah (Istri pertama Mbah Umar) meninggal dunia berikut putra yang dilahirkan.
Setelah beberapa saat dari kematian Mbah Mujirah, Mbah Umar dinikahkan oleh Mbah imam Ahmad dengan putri bawaan istri keduanya (Martijah) yang bernama Siti Marhamah binti kyai Romli Banjar melati Bandar Kidul Kediri. Mbah Imam Ahmad itu istrinya tiga, tapi tidak poligami. Istri pertama namanya Martinah meninggal dunia dengan meninggalkan 2 anak. Kemudian beliau nikah lagi dengan seorang janda dengan 2 anak perempuan (Masriah dan Marhamah), janda itu namanya Martijah binti Yusuf. Dalam perkawinan dengan Mbah Martijah ini Mbah imam Ahmad mendapatkan tambahan putra 8 orang. Kemudian Mbah Martijah meninggal dunia. Konon Mbah imam Ahmad sudah berumur 115 atau 125 tahun. Kemudian beliau nikah lagi dengan santrinya yang masih gadis namanya Paelah. Dari pernikahan yang ke tiga ini Mbah imam Ahmad mendapat tambahan putra 5 orang lagi.
Setelah beberapa saat Mbah Umar menikahi Mbah Siti Marhamah dan menempati rumah di Utara jembatan (lokasi madrasah Al Ulya) beliau berpindah rumah ke lokasi dalam, tepatnya yang sekarang adalah lokasi Pesantren Terpadu Daru Ulil Kelutan. Dengan alasan Mbah Putri tidak krasan di Utara, karena tempat itu terlalu ramai, dan dekat dengan tempat maksiat. Di pinggir sungai atau penyeberangan (tambangan), ada warung remang-remang (Mbah bleng) dan tempat hiburan jedoran-jaranan.
Keinginan pindah rumah Mbah Putri mendapatkan kesempatan yang tepat, yaitu adanya keinginan Mbah Kyai... (Pemilik rumah dan pekarangan yang sekarang ditempati pesantren Terpadu Daru Ulil Albab) untuk pindah rumah ke Klampisan Minggiran Kediri. Kyai Mustajab (sahabat Mbah Umar) ini biasa pinjam kuda putih kesayangan Mbah Umar. Akhirnya atas inisiatif beliau lahan pekarangan ini diberikan kepada Mbah Umar sebagai gantinya beliau harus memberikan kuda putih kesayangan itu pada Mbah kyai Mustajab. Beliau ini seorang kyai Mursyid thariqoh Naqsyabandiyah. Beliau ini konon ahli tentang jin dan pusaka-pusaka.
Setelah pindah ke tempat yang baru, beliau membangun musholla di tengah lokasi lahan yang berbentuk bujur sangkar itu, tepat dilokasi masjid yang sekarang agak kebelakang. sementara rumahnya dibangun di depan sebelah Utara (rumah pak Muhsin dulu adalah rumah mbah Umar bagian belakang) bangunan  pondok ada di sebelah depan selatan. Sedangkan di belakang Utara dan Selatan para Magersari.
Pernikahan Mbah Umar dengan Mbah nyai Marhamah menghasilkan 8 orang putra putri, Yakni:
1. Siti Kapiyah
2. Abdul Basyar
3. Asro
4. Ibnu Hasyim
5. Rukanah
6. Rukayah
7. Aqib
8. Athiq.
Siti Kapiyah dinikahkan dengan santri Mbah Umar yang senior yang namanya Hasyim, dulu rumahnya di Utara masjid Kelutan. Dulu masjid Kelutan adalah musholla kecil Mbah Yusuf. Kemudian dijadikan masjid desa di zaman Mbah Harun (adiknya Hasyim), sekitar tahun 50-60 an.
Abdul Basyar adalah anak laki-laki pertama Mbah Umar yang menikah dengan Saporah binti KH.Idris Sekombang Kelurahan Ngronggot.
Asro anak ketiga yang menikah 2x,  dengan  syamsiah (meninggal dengan 1anak), dan Ruhani. Beliau dulu mukim tinggal di lokasi pesantren, depan masjid sebelah selatan jalan (sekarang ditempati pak kyai Mubasyir), depan rumah saya.
Ibnu Hasyim, adalah putra Mbah Umar yang tinggal dan menempati ndalem keprabon (rumah Mbah Umar).
Ibnu Hasyim (mbah Benu) menikah dengan putri pertamanya Mbah Harun yang namanya Siti Fatimah.
Rukanah putri ke 5 Mbah Umar dinikahkan dengan santrinya yang sangat tampan dan kaya, yang namanya Nadzir bin H. Shaleh sekaran.  Beliau yang menemani Mbah Umar menunaikan ibadah haji, bersama H. Ali Mindi dan H.Usman, naik kapal laut selama lebih dari enam bulan.
H. Nadzir adalah kyai penerusnya Mbah Umar setelah....
Putranya yang ke 6 yang namanya Ruqoyyah (Rukayah), dinikahkan dengan Mbah Syuhud dari Juwono, Kertosono. Keturunan langsung dari Mbah kyai Hasan Besari Ponorogo. Mbah kayah tinggal di lokasi pesantren Daru Ulil Albab (sekarang) sebelah tenggara. Mbah Syuhud dan Mbah Nadzir (dua orang menantu laki2 Mbah Umar), yang memegang kepemimpinan pondok sebelum putra-putra Mbah Umar pulang dari Pondok. Karena ketika Mbah Umar meninggal Mbah Basyar, Mbah Sero dan Mbah Benu masih di pondok, sedangkan Mbah Aqib dan mbak Atik masih yatim dan balita.
Putra yang ke 7 Mbah Umar adalah Aqib. Setelah haji beliau menambahkan namanya dengan 'Abdullah di depan namanya dan  Umar di belakang nama...
Abdullah Aqib Umar adalah putra Mbah Umar yang sejak kecil sudah disepakati oleh saudara2 nya sebagai pemangku jabatan kyai pewaris Mbah Umar..., Beliau yang menyerahkan estafeta ke kyaian dari Mbah Umar kepada cucunya yang namanya Kharisudin Aqib, sehingga Alhamdulillahirobbil pesantren yang telah sekitar 100 tahun mengkista di dalam tanah kini mulai tumbuh dan berkembang.
Mbah Aqib menikah dengan seorang gadis cantik dari Sumbergempol Tulung agung. Namanya Siti Marhamah, Putri Mbah KH. Abdul Malik, seorang calak tersohor pada zamannya. Santri Mbah Kyai Misri Mindi, Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah.
Putra Mbah Umar yang ke 8 (terkecil) namanya Athiq. Beliau ditinggal wafat Mbah Umar dalam keadaan yatim balita. Beliau menikah dua kali, yang pertama dengan Bulek Hindun dan berputra satu, yaitu H. Hamim Thohari (tinggal di desa Tegaron) dan yang kedua dengan Bulek Siti Kapiyah (bek kap) juga berputra satu. Yaitu Mukminatin (alm), yang tinggal di dalam lokasi Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab.
Ke delapan putra-putri Mbah Umar Murtojo semuanya sudah meninggal dunia dengan meninggalkan anak cucu yang jumlahnya kurang lebih 300 jiwa (ingat saya tahun 2003 saya pernah melakukan pendataan), dan pendirian yayasan keluarga yang namanya YASOBUR (Yayasan Solidaritas Bani Umar Murtojo).
Mbah Umar membuat pusat kegiatan akademik (ngajar ngaji santri, menulis kitab), spiritual (ibadah-ibadah), sosial ekonomi (pertanian ,, perdagangan dan pemberdayaan masyarakat) berupa pondok pesantren. 
Pondok pesantren Mbah Umar berada di lokasi yang sekarang diberi nama Pesantren Terpadu Daru Ulil Albab Kelutan. Beliau terkenal kealimannya di bidang ilmu Ushul (Ushuluddin), ilmu pokok2 agama Islam (ilmu Kalam, ilmu fiqih dan ilmu tasawuf).
Murid beliau banyak yang berasal dari Mbegelen, Madiun, solo, Banyuwangi dll). Santrinya banyak yang membantu Mbah Umar sekaligus belajar kwirausahaan. Bidang agrobisnis, perdagangan kuda dan kain batik dari Surakarta atau Solo.
Pondok Mbah Umar berangsur-angsur mati dan mengkista di dalam tanah setelah meninggalnya Mbah Umar.
Beliau meninggal tepat hari raya idul Fitri pada hari Sabtu, 14 Agustus 1915 M, atau 1 Syawal 1333 H.
Tepatnya setelah sholat idul Fitri. Pada saat khutbah dilaksanakan beliau dalam kondisi sakit kritis. Dengan ditunggui oleh muridnya yang bernama Harun (Mbah kyai Harun Kelutan), beliau berkata "Run... Nadzir nek khutbah Ojo oleh sue-sue... Iki rasane wis teko udhel Iki".  Dan benar ketika Mbah Kyai Nadzir (mantu beliau yang lagi khutbah) turun, Mbah Umar Murtojo menghembuskan nafasnya yang terakhir... dengan dzikrullah dan husnal khotimah...
Kelutan, Kamis, 11 Januari 2018
TTD
Kharisudin Aqib Al Kelutani
Read more…

SHOLAWAT ULUL ALBAB