Mengenal Tabiat dan Karakter Diri sendiri

Mengenal Tabiat dan Karakter Diri sendiri
Oleh:Kharisuddin Aqib

A. Pengantar
Ada hikmah yang sangat bagus mengatakan "man 'arofa nafsahu faqad 'arofa robbahu' artinya siapa yang mengenal dirinya sendiri, maka dia pasti bisa mengenal Tuhannya.
Maksudnya, bagaimana bisa mengenali Tuhannya jika mengenali dirinya sendiri saja tidak bisa.
Manusia adalah makhluk ruhaniah yang berjisim (berbadan kasar), hakekat dirinya adalah Ruhaninya. Ruhani manusia bersifat suci malaikati, karena berintegrasi (menyatu dengan badan yang material), daya hidup dan kesadarannya (jiwanya) terwarnai oleh sifat material tumbuhan dan binatang. Maka tabiat manusia dan karakternya terwarnai oleh dua karakter primitif yang rendah tersebut, sehingga manusia memiliki tabiat dasar dan karakteristik yang integratif antara daya Ruhani yang suci dan daya materi yang hayawani nan keji.
Ada 4 dasar tabiat manusia, yakni; kebinatang jinakan, kebinatang buasan, keiblisan dan kemalaikatan. Dari keempat tabiat tersebut, terpancar 7 karakter khas manusia.
1. Karakter jiwa perusak (amarah).
2. Karakter jiwa pencela (lawwamah)
3. Karakter jiwa plin-plan (mulhimah).
4. Karakter jiwa stabil dan tenang  (Mutmainnah)
5. Karakter jiwa bahagia dan bangga  (rodliyah).
6. Karakter jiwa disukai dan dibanggakan (mardliyah).
7. Karakter jiwa sempurna (Kamilah).
In syaa'a Allah kajian berikut akan membahas 4 tabiat dasar manusia dan 7 karakternya sebagai sarana introspeksi diri agar hidup menjadi lebih baik dan bernilai.
B. Tabiat Dasar Manusia.
Tabiat adalah sifat dasar manusia yang merupakan faktor genetik (bawaan sejak lahir dari faktor keturunan) manusia sebagai seorang individu. Berbeda dengan insting atau ghorizah yang merupakan faktor genetik manusia sebagai spesies (atau rumpun makhluk hidup manusia). Berbeda juga dengan akhlak atau karakter yang merupakan sifat khas manusia yang terbentuk karena faktor genetik (keturu nan) dan eugenetik (lingkungan), sekaligus.
Tabiat dasar manusia dalam diri setiap manusia ada 4 macam. Kebinatang jinakan (bahimiah), kebinatang buasan (sabuiah), kesetanan (syaitoniyah), dan kemalaikatan (malaikatiyah). Dominasi salah satu dari empat tabiat inilah wujud maknawiy, aura dan perangai orang tersebut.
1. Tabiat kebinatang jinakan.
Manusia dengan jenis tabiat ini bahagianya terletak pada makan-minum, tidur dan sek. Bahkan orientasi dan semangat hidupnya adalah untuk mencapai kenikmatan biologis ini. Dan inilah kwalifikasi kebanyakan manusia, sehingga terisyaratkan dalam wujud surat terpanjang, yakni Al Baqarah.
2. Tabiat kebinatang buasan.
Jenis tabiat ini menjadikan manusia berorientasi pada melakukan hal-hal yang destruktif (merusak, dan menyakiti orang lain), tidak merasa enak dengan adanya ketentraman dan ketertiban. Manusia dengan kwalifikasi tabiat ini tidak banyak, tetapi selalu ada diantara masyarakat yang ada. Wujud maknawiy manusia jenis tabiat ini adalah jenis binatang buas, seperti; burung predator, ular, kalajengking, dan buaya, dan akan terbaca perangai dan sikap mentalnya.
3. Tabiat Keiblisan
Ini adalah tabiat yang juga ada dalam diri manusia, bahkan juga ada manusia yang didominasi oleh tabiat keiblisan ini. Dengan ciri-ciri dan karakteristik, antara lain; suka takabbur, hasud, licik dan picik.
Tabiat ini merupakan manipulasi tabiat kebinatangannya tetapi berusaha ditampilkan dalam penampilan kemalaikatan. Wujud maknawiy manusia dengan tabiat ini, adalah rupa buruk dan aura yang mengerikan.
4. Tabiat kemalaikatan.
Tabiat jenis ini juga ada pada setiap manusia, karena ini adalah bawaan dari unsur ruhaniah manusia yang suci. Tetapi tabiat sangat langka menjadi tabiat yang dominan dalam diri seseorang. Orang yang bertabiat dominan malaikatiyah akan memiliki kecenderungan yang kuat untuk berprilaku seperti malaikat. Ta'at dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, serta selalu menjauh dari kemaksiatan dan murka Allah.
Dari keempat tabiat tersebut, (bahimiah, sabuiah, iblisiah dan malaikatiyah), mana yang paling dekat dengan kita ? Mari kita rasakan dan kita introspeksi diri...
Tabiat sesungguhnya bisa dirubah, sekalipun dengan sangat berat. Karena itu adalah bagian diri sifat bawaan kita. Untuk merubah tabiat, manusia harus mengalami metamorfosis spiritual, yang dalam bahasa syariat disebut dengan 'lailayul qadar'. Dalam sebuah proses pendidikan spiritual intensif puasa Ramadhan, atau program intensif dalam tarekat yang dikenal dengan istilah SULUK. Dengan puasa Ramadhan yang baik dan benar atau Suluk yang baik dan benar seorang manusia akan 'terlahir kembali' atau mengalami metamorfosis spiritual, sehingga bertabiat malaikatiyah. Badan jasmani manusia, tetapi wujud maknawiy jiwanya adalah malaikat. Itulah profil figur MUTTAQIN. Manusia yang Ahsani taqwim'.
C. Macam macam Karakter Manusia.
Ada 7 karakter (akhlak) manusia berdasarkan kenyataan (eksisting) jiwanya. Karakter atau akhlak ini merupakan sifat riil pada saat diberikan penilaian atau penyebutan. Ia merupakan produk terbaru dari interaksi dan integrasi antara tabi'at seseorang dengan lingkungannya. Baik lingkungan keluarga, pendidikan maupun pergaulannya. Ke tujuh karakter itu adalah; Fajir, Fasiq, Munafik, Mukmin, Muslim, Muhsin, MUTTAQIN.
1. Karakter Fajir.
Karakter Fajir (Penjahat) ini terbentuk dari jiwa yang suka memerintah pada keburukan (nafsu amarah). Adapun ciri khas manusia dengan karakter ini adalah; emosional, sombong, kikir, bodoh, ambisius, hasud, dan hidonistik (mau enaknya saja). Masalahnya adalah yang bersangkutan biasanya tidak merasa. Dan yang merasa justru orang lain yang di sekitarnya
Mari kita introspeksi, semoga sifat-sifat tersebut tidak ada pada diri kita.
2. Karakter Fasiq.
Karakter Fasiq (pendosa) ini adalah karakter kritis terhadap orang lain.
Bahkan terkadang juga kepada diri sendiri. Karakter ini terbentuk dan muncul dari dalam jiwa pencela (nafsu lawwamah). Ciri-ciri karakter ini adalah; suka mencela,  menuruti hawa nafsu, suka menipu, ujub, riya' , dlolim, lupa, dan suka menggunjing. Karakter jenis ini banyak terdapat di kalangan masyarakat pada umumnya.
3. Karakter Munafik.
Ini adalah karakter tingkat ketiga. Kelihatannya orang yang berkarakter ini sudah sangat baik, karena dia adalah seorang yang dermawan, tidak rakus, bijaksana, rendah hati, taubat, sabar dan menerima Ilham. Tetapi pribadi sebenarnya adalah Plin-plan, dia akan berubah-ubah sesuai dengan Ilham yang masuk, apa Ilham taqwa atau Ilham fujur (jahat), keimanan dan keyakinan tidak terikat kuat di dalam hatinya, bahkan mungkin sebenarnya tidak ada iman di dalam hatinya. Karakter Munafik ini muncul dari jiwa terilhami (nafsu mulhimah), baik Ilham taqwa maupun Ilham fujur silih berganti masuk di dalam jiwa ini. Kondisi jiwa sangat sensitif terhadap Ilham atau intuisi, tetapi los tanpa ada pengait diantara keduanya.
4. Karakter Mukmin
Karakter ini muncul dari jiwa yang telah stabil dalam kebaikan (nafsul Muthmainnah)
Diantara tanda-tanda karakter Mukmin ini adalah; ridlo kepada Allah, banyak bersyukur, suka beribadah, tidak kikir, takut maksiat dan bertawakal kepada Allah.
5. Karakter Muslim
Ini adalah karakter yang menjadi cerminan seorang yang benar-benar mencapai hakikat Islam. Dia muncul dari jiwa yang telah diridlo oleh Allah SWT (nafsu mardliyah). Di antara ciri khas dari orang yang telah berkarakter muslim ini adalah; sayang pada semua makhluk, pema'af, mengajak pada kebaikan, lemah lembut, baik budi dan ikhlas. Tidak semua orang Islam memiliki karakter ini, bahkan mungkin sangat sedikit prosentasenya orang Islam yang telah mencapai tingkat karakter muslim ini.
6. Karakter Muhsin.
Karakter ini muncul dari jiwa yang tersucikan dalam diri manusia, yaitu jiwa sempurna (nafsu Kamilah). Sempurna dalam pengertian keyakinan kepada Allah, baik secara empiris ('ainul Yaqin), teoritis (ilmul Yaqin), dogmatis (haqqul Yaqin). Dalam realitas, manusia dengan karakter ini belum bisa disebut sebagai insan kamil, tetapi lebih baik jika disebut sebagai manusia yang dijaga kesuciannya oleh Allah SWT (Mahfud atau Maksum).
7. Karakter MUTTAQIN.
Inilah karakter manusia sempurna dalam skala realitas.
Dia adalah manusia yang berkarakter malaikatiyah. Dia adalah manusia dengan keseimbangan yang sempurna, baik aspek dhohir maupun batinnya, sosial dan spiritual, ilmu, penghayatan maupun pengalamannya. Karakter ini muncul dari jiwa yang telah senang dan bahagia dengan ketentuan Allah SWT (nafsu rodliyah). Di antara tanda-tanda dari karakter ini adalah; dermawan, Zuhud, ikhlas, waro' , riyadhoh, dan wafa'.
Keempat karakter terakhir ini adalah karakter-karakter positif, yang bisa dicapai oleh orang yang menginginkan kenaikan status keruhaniannya dengan perjuangan spiritual (mujahadah), yang serius dan terus menerus, dalam sebuah proses pendidikan yang utuh dan unggul (tarbiyah taammah).
Melalui pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan  bimbingan spiritual (Irsyad). Semoga kita semua sukses mencapai Maqom Walhamdu lillaahi robbil 'aalamiin.
MUTTAQIN.
Wallahu a'lam bis showab.
Kelutan, 6 Maret 2019
TTD
Kharisuddin Aqib
Read more…

Memahami Akar Sejarah timbulnya Aliran-aliran dalam Islam

Memahami Akar Sejarah
timbulnya Aliran-aliran dalam Islam
Oleh: Kharisuddin Aqib 

A. Pengantar
Warna-warni aliran pemikiran dalam Islam seperti yang kita ketahui sekarang ini terjadi melalui proses evolusi yang panjang seiring dengan perkembangan sejarah peradaban Islam itu sendiri. Mulai zaman nabi Muhammad Saw sampai dengan saat ini.
Agama Islam di awal keberadaannya adalah sebuah dinamika dan komunikasi intensif sebuah komunitas yang terdiri dari Nabi Muhammad dengan keluarga dan para muridnya. Para keluarga (Alihi), dan para muridnya (Ashab). Praktek dinamis dalam kehidupan komunitas inilah yang disebut agama Islam (ma ana 'alaihim alyauma wa ashabihi). Keluarga nabi juga biasa disebut dengan ahlul bait, sedangkan para murid dan pengikutnya disebut sahabat atau ashab. Gambaran sederhana komunikasi antara nabi Muhammad dengan keluarga dan para sahabatnya adalah sebagai mana para kyai dengan keluarganya dan santri.
Embrio terjadinya persoalan yang kemudian menjadi sebab munculnya aliran-aliran pemikiran dalam semua aspek kehidupan kemasyarakatan umat Islam, adalah meninggalnya Rasulullah Saw.
Meninggalnya Rasulullah Saw sebagai figur sentral bagi umat Islam berdampak pada munculnya Persoalan Politik Praktis, yakni siapa yang berhak menjadi pengganti beliau sebagai pelanjut pemerintahan atau kepemimpinan. Baik sebagai pemimpin agama maupun pemimpin negara. Pemimpin agama Islam (sebagai Nabi) dan pemimpin negara (kepala negara Madinah). Sebagai Nabi semua umat sepakat, bahwa formal kenabian tidak bisa wariskan, dan sedangkan yang bisa dan harus dilaksanakan adalah menentukan siapa pengganti memimpin dan membimbing umat  sebagai amiril mukminin (pemimpin umat Islam). Maka mulai saat itu terjadilah dua kelompok umat Islam, yang satu sedang merawat jenazah Rasulullah (5-7 orang dari keluarga nabi), yang satunya adalah kelompok para tokoh sahabat (Muhajirin dan Anshar), menyelenggarakan Musyawarah Besar Luar Biasa untuk menentukan siapa yang paling berhak untuk menjadi pengganti Rasullullah.
Ada beberapa persoalan yang dihadapi oleh umat Islam semenjak meninggal nya Sang Rasul tgl 12 Rabiul awal 632 M. Yang pertama dan monumental adalah persoalan politik, selanjutnya persoalan aqidah (teologi), kemudian baru persoalan syariat atau fiqih dan persoalan akhlak atau tasawuf. Dan akumulasi dari keempat persoalan inilah aliran pemikiran dalam Islam muncul, yang in syaa'a Allah akan diulas dalam kajian bersambung ini.

B. Persoalan Politik.
Seperti yang telah saya uraikan di pengantar, bahwa wafatnya Rasulullah menimbulkan persoalan politik yang sangat penting dan monumental. Yakni pengangkatan pelanjut pemerintahan sang Rasul (Khalifah), sebagai Amirul mukminin. Para tokoh sahabat musyawarah sendiri (dari kaum Muhajirin dan Anshar) tanpa kehadiran ahlul bait (keluarga ndalem). Ahlul bait lagi sedang berduka dan merawat jenazah Rasulullah.Keputusan akhir musyawarah para sahabat di Saqifah (tenda pertemuan) Bani Sa'ad mereka mengangkat Abu Bakar as Shiddiq sebagai Amirul mukminin. Sedangkan
Rasulullah tidak berwasiat secara syar'i dan sharih seperti biasa beliau ajarkan. Ada wasiat Ghodir Khum atas kepemimpinan Ali bin Abi Thalib, yang hanya diakui oleh kalangan ahlul bait dan ada isyarat nabi Muhammad pada para sahabat atas peran Abu Bakar as Shiddiq, sebagai badal  imam shalat, ketika sang Rasul sakit menjelang wafatnya. Inilah faktor psikopolitis yang selanjutnya bermuara pada terjadinya keretakan di kalangan umat Islam. Dan pada akhirnya "dunia Islam" terbelah menjadi dua; Syiah dan Ahli Sunnah (Syi'i dan Sunni). Para pendukung ahlul bait, khususnya yang fanatik dengan Sahabat Ali bin Abi Thalib mengklaim bahwa para sahabat telah Ghoshob (merampas) hak kepemimpinan Sayyidina Ali, begitu juga sebaliknya para pendukung keputusan musyawarah luar biasa para sahabat, khususnya yang fanatik (plus munafik),  menuduh para pendukung 'idiologi' ahlul bait adalah sebagai pembohong (kadzdzaab). Padahal kedua terminologi ini bersifat destruktif (menghancurkan) ketsiqahan (kredibilitas) seorang periwayat hadis. Dan karena itu hadis di dunia Islam juga terbelah dua, hadis Syiah dan hadis Sunnah. Yang keduanya itu tidak  'saling menyapa'.
Kondisi umat Islam menjadi lebih ruyam setelah kemunculan kelompok-kelompok ektrim (Ghulat) yang keras, dan ahistoris yang mengembangkan ideologi 'takfiri' (mengkafirkan kelompok lain  di luar  kelomponya), baik di kalangan Syi'ah maupun Sunnah.
Beberapa aliran keras dan ektrim dari kalangan Syi'ah, seperti; syiah Qaramithah, Rofidloh dan hasasin, dan beberapa dari kalangan Sunnah seperti Khawarij, salafi dan wahabi. Aura kontradiksi dan permusuhan diantara belahan dunia Islam masih memancar dari jurang pemisah antara Syiah dan Sunnah, di samping jurang - jurang kecil internal keduanya. Aura tersebut muncul tidak lain karena bara api ; asobiah, jahiliah dan hiqdu wal hasad (dengki dan iri hati)
yang memancar dari dalam hati kaum muslimin yang lemah ilmu dan imannya.

C. Persoalan Aqidah (Teologi).
Persoalan teologi yang muncul dan timbul di dalam diskursus dan polemik umat Islam di zaman klasik (zaman tabi'in awal sd dua generasi di belakangnya) adalah puncak persoalan politik, yaitu terjadinya fitnatul kubro (terbunuhnya Amirul mukminin,  Khalifah Utsman bin Affan), juga terjadinya beberapa peperangan diantara sesama muslim. Perang jamal (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan pasukan Siti Asiah), perang Shiffin (antara pasukan Ali bin Abi Thalib dengan Muawiyah bin Abi Sufyan), Karbala dll. Yang melibatkan dan mengorbankan banyak pasukan muslimin.
Polemik tentang bagaimana status hukum seorang muslim yang tidak berhukum dengan menggunakan hukum Allah (Al-Qur'an) ?. bagaimana status hukum pembunuh sesama muslim ? Apakah dia masih mukmin, kafir atau fasiq?. Bagaimana status keislaman dan keimanan seseorang yang berdosa besar ? Para ulama' dan zu'ama' dari kalangan umat Islam, baik yang Syi'ah maupun yang Sunnah memberikan argumentasi sesuai dengan keilmuan dan background psikologi, sosial, akademik dan keagamaan masing-masing. Kelompok orang yang tulus, lurus tetapi kurang luas ilmu dan toleransinya, berpendapat bahwa orang-orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah secara tekstual, mereka itu telah kafir dan keluar dari agama Islam, mereka itu adalah kaum khawarij,  atau kebanyakan mantan pasukan elit Ali bin Abi Thalib yang desersi.
Para ulama' yang tekstual tetapi tidak politis cenderung berpendapat, bahwa orang-orang yang beriman tetapi tidak berpegang pada hukum Allah, tidak bisa di sebut Kafir, mereka mukmin yang fasiq. Mereka berdosa besar. Nasib mereka di akhirat kelak fii masyiatillah (terserah Allah) tidak di surga dan tidak di neraka. Senada dengan itu, orang-orang yang fatalistis (jabariyah), juga muncul, mereka berpendapat, bahwa kondisi apapun di dunia ini adalah berdasarkan kehendak mutlak Allah SWT, termasuk nasib manusia. Manusia hanyalah wayang dan Allah adalah dalangnya. Sebagai mana firman Allah SWT,
" والله خلقكم وما تعملون".
Artinya : "Allah lah yang telah menciptakan kalian dan perbuatan kalian". (QS. As. Shofat 96)

Sedangkan kaum qadariyah yang cenderung rasional justru berpendapat sebaliknya. Bahwa kondisi apapun yang di alami oleh manusia adalah semata-mata karena ulah perbuatan manusia itu sendiri. Manusia, bebas dan mampu membuat nasibnya sendiri. Sebagai mana firman Allah SWT :

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم...

Artinya : "Sesungguhnya Allah tidak merubah nasib suatu kaum, sampai mereka mau merubah nasibnya sendiri" (QS. Ar Ra'd 11)

Mereka adalah kelompok minor elite dalam Islam yang terkenal dengan sebutan kaum muktazilah.
Persoalan teologi yang terus berkembang sehingga melahirkan banyak aliran pemikiran yang muncul, baik di zaman klasik, seperti jabariyah, qadariyah, murji'ah. Maupun zaman pertengahan, seperti; Muktazilah, Asy'ariah, maturidiah, ahli Sunnah wal jama'ah. Demikian juga di era modern dan kontemporer.

D.  Persoalan Fiqh (pemahaman syariat Islam).
Setelah muncul dan berkembangnya persoalan politik dan aqidah dalam realitas kehidupan umat Islam. Adalah munculnya persoalan baru yang terkait dengan fiqh atau pemahaman dalam syari'at Islam. Baik syariat dhohir (hukum Islam), maupun syariat batin (akhlak islami) atau tasawuf.
Para ulama' fiqh (hukum Islam), baik di kalangan Sunni, maupun Syiah secara garis besar terbelah menjadi tiga kelompok pemahaman, yakni;  para ahlul hadits (tekstualis), ahlur ro'yi (rasionalis), dan ahlus sunnah (tekstualis-rasionalis).
Demikian juga para ulama' tasawuf (kerohanian dan kebatinan dalam Islam), juga terbedakan dalam tiga karakter, yakni; sunni, falsafi dan baathini.
Para ulama' yang konsen terhadap ajaran formal dan aturan-aturan hukum Allah, secara garis besar memiliki tiga sikap mental yang berbeda. Ada yang memahami teks aturan agama (syariat) dalam Al Qur'an dan as Sunnah sangat formal dan tektual. Mereka adalah ahlul hadits, sehingga memunculkan madzhab - madzhab salaf yang tampak lebih formal seperti madzhab Maliki.
Para ulama' yang cenderung rasional, seperti ulama' Kufah dan Basrah memahami agama lebih kontekstual dan esensial. Seperti imam madzhab Abu Hanifah. Demikian juga para ulama' Sunni yang cenderung konvergensif, akomodatif. Mereka melahirkan madzhab fiqih yang modern dan moderat, seperti Imam Syafi'i.
Sedangkan dalam bidang kerohanian (tasawuf) sebagai bagian dari pemahaman keagamaan. Juga terdapat tiga kelompok pemahaman yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Islam.
Pertama, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian Rasulullah Saw. Mereka berusaha menjauhi materialisme dan hedonisme tetapi secara aktif mereka mendakwahkan ajaran Islam, khususnya ajaran akhlak dan kerohaniannya. Mereka adalah para sufi Sunni,  yang gerakannya sukses pertama kali (gerakan i'tizal dan Zuhud atas prakarsa Hasan Basri. Yang selanjutnya diperkokoh oleh Abu Qasim Junaidi Al Baghdadi, juga oleh para tokoh Sufi sunni yang lain.
Kedua, kelompok yang cenderung mengikuti pola kesufian para
filosof dan ahli hikmah. Mereka lebih cenderung pada aktivitas berfilsaf dan berteori. Hikmah -hikmah kerohaniannya memenuhi glosarium dunia Islam. Mereka adalah para sufi falsafi, dengan tokoh legendarisnya yang bernama Ibnu Arobi.
Sedangkan yang ke tiga, adalah para sufi baathini.  Mereka, para sufi baathini adalah orang-orang yang keasikan kebatinannya melampaui batas-batas etika dan estetika apapun, termasuk di dalamnya batasan syariat Islam. Kebatinan transkultural ini yang selanjutnya disebut sebagai aliran tasawuf mabuk dan dianggap sesat oleh para aktivis syariat Islam.

E. Persoalan Hegemoni Barat.
Penyebab dan akar Sejarah timbulnya berbagai aliran keagamaan dan politik dan sosial dalam Islam, adalah adanya dominasi dan hegemoni barat atas wilayah sosial politik umat Islam.
Setelah sekitar dua abad bangsa barat menjajah umat Islam, umat Islam mulai bangkit dan tersadarkan akan pentingnya kebangkitan umat Islam. Mulai dari Turki dan Mesir yang berhubungan dan berhadapan langsung dengan bangsa barat. Turki berhadapan dengan Italia dan Mesir berhubungan dengan Prancis (Ekspedisi Napoleon Bonaparte). Para ulama'  terbelalak melihat peradaban yang jauh lebih tinggi daripada peradaban umat. Padahal mereka sangat yakin pada Sabda nabi "Al Islam ya'lu wala Yu'laa 'alaih" (Islam adalah adalah peradaban tertinggi, tidak ada yang mengunggulinya).
Tatkala umat Islam masih tertidur lelap di dalam selimut penjajahan barat,   khususnya;  Portugis, Inggris, Spanyol, dan Belanda. Para ulama' Islam Mesir khususnya Sayyid Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, berjuang keras, menggelorakan kebangkitan umat Islam. Demikian juga para Sultan dan Khalifah Dinasti Usmaniyah di Turki, menggelorakan semangat kebangkitan melawan kolonialisme barat.  Maka terjadilah kebangkitan umat Islam di hampir seluruh penjuru dunia, atas prakarsa para sultan dan ulma' pemimpin umat.
Termasuk kesultanan-kesultanan di wilayah Nusantara (kawasan Asia tenggara).
Mulai kesultanan Aceh (samudra pasai) sampai dengan kesultanan Ternate dan Tidore. Kesultanan di Pulau Jawa sampai di kepulauan Sulu dan Mindanao. Semuanya bangkit melawan hegemoni dan penjajahan bangsa barat (Belanda, Inggris, Portugis dan Spanyol). Maka akhirnya muncul organisasi dan Jam'iyyah pergerakan dengan berbagai macam warna warni keislamannya.
Dalam skala internasional, muncul Pan Islam, Ikhwanul muslimin, Wahabi dll. Sedangkan di Indonesia, muncul Serikat Dagang Islam, Budi Utomo, Al Khoiriyah, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama' dll. Semua organisasi dan Jam'iyyah pergerakan tersebut tujuan utamanya adalah merebut kembali kemerdekaan dari tangan kolonialisme bangsa barat.
Wallahu a'lam bis showab
Read more…

Kriteria dan Persyaratan Seorang Mursyid 2

Kriteria dan Persyaratan Seorang Mursyid 2
Oleh : Abduloh Kharisudin Aqib Al Kelutany 

Rasulullah Saw bersabda: 

عليكم بسنتى وسنة الخلفاء الراشدين المهديين بعدي، عضواعليها بالنواجذ.رواه البخاري

Hendaknya kalian melaksanakan Sunnah-sunnahku dan Sunnah para Khalifah yang terbimbing dan selalu mendapatkan hidayah setelah diriku. Hendaknya kalian pegangi sunnah itu erat-erat, dengan gigi geraham kalian. HR. Imam Bukhari, dll.

Pengertian Sunnah, secara bahasa berarti adalah kebiasaan, tradisi, ketetapan dan keputusan.
Sehingga yang dimaksud dengan Sunnah Rasulullah adalah amaliyah, kebiasaan, atau tradisi serta ketetapan Rasulullaah pada umatnya. Begitu juga apa yang menjadi Sunnah para pengganti yang melanjutkan peran dan fungsi beliau seharusnya juga mengikat dan diikuti oleh orang-orang yang beriman. Lalu siapakah para Khalifah Rasulullaah Saw. Sebanarnya Secara garis besar Rasulullah memiliki tiga macam penerus atau Khalifah, yaitu;  generasi (biologis) atau nasab yaitu para habaib, pelanjut perjuangan spiritual keagamaan yakni para ulama' dan Mursyidun, dan pelanjut pengendali pemerintahan yaitu para umaro'. Karena memang Rasulullaah meninggal dunia dengan meninggalkan: anak- cucu, jabatan kepala agama dan juga meninggalkan jabatan kepala pemerintahan atau politik. Seorang yang memiliki tiga peran kekhilafan tersebut (dzurriyah, Diniyah dan siasah) sekaligus adalah Khalifah Rasulullaah yang paling agung dan sempurna.
Dari tinjauan ini maka Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib adalah khalifaturrosul yang paling sempurna. Tetapi Berdasarkan ayat 40 surat Al Ahzab, yaitu:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَٰكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
 [Surat Al-Ahzab 40]
Yang artinya: tidaklah dia, Muhammad itu seorang ayah dari salah satu dari kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Sedangkan Allah itu adalah maha mengetahui terhadap segala sesuatu".
Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita mengetahui, bahwa jabatan terpenting Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Sedangkan jabatan sebagai ayah maupun sebagai kepala negara adalah jabatan -jabatan yang tidak esensial. Sehingga yang betul-betul perlu dilanjutkan dan membutuhkan Khalifah adalah fungsi kerasulannya.
Para pelanjut tugas kerasulan, adalah para ulama' pengajar dan pendidik keagamaan dan kerohanian. Rasulullah mengangkat dan mengutus pembimbing umat yang mewakili beliau (Khalifah), di tempat-tempat yang jauh dari Madinah, atau untuk waktu-waktu yang sulit bertemu dengan beliau. Para Khalifah itulah kepanjangan tangan beliau untuk mengajarkan agama Islam yang kaaffah. Yakni; iman, Islam dan Ihsan. Melalui kajian Al-Qur'an, hikmah dan tazkiyatun nafsi. Sebagai tugas utama seorang utusan Allah. Pembimbing umat yang demikian itulah yang disebut Mursyid. Dia adalah Khalifah Rasulullaah, atau khalifahnya, Khalifah, Khalifah dst. Khalifah Rasulullaah Saw. Sehingga para guru atau Wali Mursyid sampai dengan yang ada  sekarang ini pada dasarnya adalah Khalifah Rasulullaah yang hendaknya Sunnahnya diikuti oleh orang-orang yang beriman. Mereka, Para Mursyidun pasti memiliki sanad atau silsilah ke*khalifahan*nya yang sambung menyambung secara talaqqi (dengan pertemuan langsung antara guru-murid) sampai dengan Rasulullah Muhammad Saw. Inilah yang dimaksudkan oleh ayat 17 surat Al Kahfi. Dan al kholafa' Al Rosyidin oleh hadis nabi di depan, in syaa'a Allah.

Wallaahu a'lam bisshowaab.
Read more…

Kriteria dan Persyaratan Seorang Mursyid



Kriteria dan Persyaratan Seorang Mursyid
Oleh : Abduloh Kharisudin Aqib Al Kelutany


Wali Mursyid adalah Khalifah Rasulullaah yang Harus kita Ikuti Sunnah-sunnahnya

 ...ۗ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا


..., Barang siapa yang Allah berikan petunjuk, maka dialah orang yang betul-betul mendapatkan petunjuk. Dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka kamu tidak akan mendapatkan 'Wali Mursyid' untuknya".(Surat Al-Kahfi 17)

Ayat tersebut mengisyaratkan agar kita:

1. Mengetahui bahwa ada tiga tiga macam manusia, yaitu; Al Muhtadi (yang betul-betul baik, karena mendapatkan hidayah Allah), mudhlil (betul-betul jelek, karena disesatkan oleh Allah), dan wali Mursyid (orang mendapatkan tugas dari Allah sebagai pembimbing umat), dan pelanjut tugas kerasulan.
2. Memahami dan menghayati penting posisi wali Mursyid dan bahayanya murka Allah yang berupa penyesatan terhadap kehidupan seseorang.
3. Senantiasa memohon petunjuk dan dipertemukan oleh Allah  dengan seorang guru Mursyid.

A. Pengetahuan Tentang Wali.

Secara bahasa wali (waliyyun) berarti berarti; pemimpin, teman dekat,  pengayom, pengasuh, pembimbing, atau kekasih, atau yang dikasihi, atau terbimbing. Sehingga ada istilah waliyullah, wali kota, wali murid,  waliyussyaiton, wali murod, wali Majdzub, wali songo, dll. Sehingga arti term Wali mengandung makna keseluruhan. Yaitu seseorang yang terkasih dan atau yang mengasihi,  terbimbing dan/membimbing,  terlindungi dan/melindungi. Oleh karena itu, waliyullah  dalam kajian ini berarti adalah orang yang dikasihi, dilindungi dan selalu dalam bimbingan Allah SWT. Kewalian adalah dasar dari jabatan spiritual, yang bertumpu diatasnya kenabian dan kerasulan. Sehingga pasca masa kerasulan nabi Muhammad Saw, sampai dengan akhir zaman yang ada hanyalah jabatan kewalian dengan karakteristik sebagai mana para nabi dan rasul terdahulu.
Waliyullah ada yang berkarakter seperti Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim, Nabi Muhammad dll. Disamping kesamaan karakteristik khusus antara para waliyullah dengan para Nabi dan Rasulullaah, juga adanya karakteristik khusus antara kewalian dan kenabian atau kerasulan. Hanya saja kwalitas dan ketajaman nya yang berbeda. Sebagai mana para nabi atau rasul, seorang waliyullah juga memiliki kelebihan yang luar biasa yang disebut karomah yang di kalangan nabi atau rasul disebut mu'jizat. Kalau para rasul atau nabi selalu mendapatkan penjagaan dari Allah yang dikenal dengan istilah ma'shum kalau wali disebut Mahfud.  Jika nabi atau rasul mendapatkan bimbingan atau firman  dari Allah langsung yang disebut Wahyu, maka bagi para wali disebut Ilham. Tetapi kaduanya memiliki perbedaan dalam hal, bahwa Nabi dan Rasulullaah harus mengumumkan kenabian dan atau kerasulannya, tetapi justru wali harus menyembunyikan kewaliannya.
Secara garis besar seseorang menjadi waliyullah melalui dua jalur; jalur murid dan jalur murod.
Dari jalur murid (seorang yang memiliki kehendak atau irodah) dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan keridloan dan kecintaan Allah terhadap dirinya. Orang tersebut berjuang keras (mujahadah) dengan sabar dan istiqamah. Melaksanakan perintah Allah (yang wajib dan fardlu) bagi dirinya, berikut dengan segala sesuatu yang disenangi oleh Allah (Yg sunnah-sunnah). Meninggalkan yang dilarang (yang diharamkan), berikut dengan yang dibenci oleh Allah (yang makruh-makruh), dengan sangat disiplin dan penuh perhitungan. Serta melakukan yang boleh (mubah) dengan tidak berlebihan. Juga meninggalkan sesuatu yang munadzir dan sia-sia. Orang yang bisa istiqamah dalam pola hidup seperti ini, yang disebut waliyul Muttaqin atau wali murid. Yang bertaqwa diantara mereka itulah yang paling mulia disisi Allah SWT.
Mereka mengambil jalan hidup dan tradisi ahli shuffah (sahabat nabi yang mukim samping masjid Nabawi, dan meninggalkan kehidupan masyarakat pada umumnya. Mereka sehari-hari hanya menyertai nabi dalam, sholat berjamaah, ngaji kepada Nabi dan berjuang di jalan Allah.
Mereka itulah para murid tarekat yang secara istiqamah suluk (berjalan mencari ridlo Allah), dengan meninggalkan pola hidup mewah dan hidonistik.
Jalur yang kedua adalah jalur murod (dikehendaki oleh Allah) untuk dekat dan bisa istiqamah di dalam kenal  dan cinta kepada Allah. Orang ini kebanyakan adalah seorang wali Majdzub (wali yang tidak terikat hati dan kesadarannya dengan kehidupan duniawi), dia hampir sepenuhnya dalam kesadaran transendental. Yakni kesadaran dalam cinta dan Ma'rifah kepada Allah, kesadarannya tenggelam dalam keindahan, keagungan dan atau kemaha sempurnaan Allah SWT. Sehingga dia tidak bisa sempurna kesadarannya dengan lingkungan sekitar.
Guru pembimbingnya biasanya adalah rijalul ghoib (wali misterius, atau nabi Khidir).
Dan diantara wali murid dan wali murod, ada yang disebut wali Mursyid (waliyyan Mursyidan), dia adalah berasal dari wali murid yang mendapat tugas dari Allah melalui gurunya untuk menjadi penerus tugas kemursyidan gurunya. Sehingga setiap Mursyid adalah Khalifah dari guru Mursyid sebelumnya dan seterusnya sambung menyambung, sampai dengan Rasulullah Saw.
Sehingga dapat dikatakan, bahwa pada hakikatnya seorang Mursyid adalah Khalifah dari Rasulullah Saw. Sebagai Khalifatur Rasulullaah, maka seorang Mursyid haruslah seorang yang Kaamilun mukammilun.
Yang dimaksudkan dengan "kaamilun mukammilun" (sempurna lagi menyempurnakan) Adalah; seorang guru yang tlh mengikuti pendidikn kerohanian (suluk) dengan sempurna. Dalam pandangan guru Mursyidnya.
Memiliki karakter (Akhlak) mulia yang lengkap (Kamil) Sebagai cerminan al-Asma' Al Husna dan sifat wajib para rasul. Setidaknya lima asma' Al Husna, dan satu sifat wajib Rasullullah, yaitu: 'alim (pakar), rahim (penyayang), Halim (santun), hakim (bijaksana), Karim (murah hati), dan Amiin (terpercaya).  Serta berjiwa pendidik (murobbi) dan bisa mendidik, atau menguasai ilmu tarbiyah, serta mendapat mandat sebagai Mursyid oleh Mursyid sebelumnya.

Wallahu'a'lam bis showab
Read more…

Belajar Tasawuf Versi Para Sufi


Belajar Tasawuf Versi Para Sufi
Oleh : Abdulloh  Kharisudin Aqib


A. Tujuan belajar ilmu tasawuf adalah agar menjadi seorang sufi.

Yaitu orang yang 'suci' hatinya dari sifat-sifat dan karakter yang tercela. Bahkan berakhlak mulia sebagai mana dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Sehingga menjadi orang yang Ridlo kepada Allah, dan diridhoi oleh Allah SWT.
Belajar Tasawuf juga bertujuan untuk menyempurnakan keagamaan dan  keislaman yang utuh dan menyeluruh. Atau Islam yang kaaffah. Keislaman yang memiliki tiga dimensi sekaligus, yakni; aqidah, ibadah dan akhlak. Aqidah dipelajari dalam ilmu tauhid, ibadah dalam ilmu syariat dan Akhlak dalam ilmu tasawuf. Sehingga agar keislaman menjadi sempurna, maka dia harus belajar Tasawuf.

B. Tatacara belajar Tasawuf.

1. Mencari guru pembimbing (Mursyid).
Mencari guru pembimbing dengan cara memohon petunjuk kepada Allah  sebagai mana  Rasulullaah, sehingga  Allah memberikan pembimbing beliau Malaikat Jibril.  Atau seperti para sahabat, misalnya Salman Al farisi, yang mengembara untuk mencari guru dan kemudian ketemu dengan Rasulullaah.
Guru pembimbing atau Mursyid haruslah orang yang memiliki sanad dan silsilah keilmuan dan keberkahan yang bersambung dengan Rasulullaah. Dengan kata lain, beliau adalah kepanjangan tangan visi dan misi pendidikan dan dakwah Rasulullah SAW.
Guru pembimbing haruslah berangkat dari seorang murid, yang telah lulus dan tuntas mengikuti pendidikan 'formal' oleh guru Mursyid sebelumnya. Sehingga dia seorang yang sempurna dalam hal Akhlak dan kepribadian nya.
Seorang guru pembimbing (Mursyid) yang dipilih adalah seorang murid yang diberikan tugas atau otoritas mutlat oleh gurunya untuk menjadi pembimbing umat.
Seorang guru pembimbing tidak mengajarkan suatu ajaran yang bertentangan dengan syariat Islam dan atau Sunnah Rasulullah sebagai Mursyid agung yang sesungguhnya.
2. Berbai'at Kepada Guru Mursyid.
Setelah menemukan guru Mursyid yang sesuai dengan kriteria tersebut, sebaiknya segera berbai'at kepadanya. Berbai'at dalam arti menyatakan setia untuk menjadi seorang murid yang baik. Bai'atan khofiyah (secara sembunyi2) atau bai'atan jahriyah (secara terang-terangan atau terbuka). Baiat untuk selalu ta'at untuk menjadi murid yang Shodiq. Baiat merupakan pengunci ikatan hubungan Ruhani antara murid dan guru. Baru setelah itu guru Mursyid memberikan talqin (bimbingan teknis dzikrullah).

3. Berguru kepada Guru Mursyid.
Berguru kepada guru Mursyid adalah:
- Dengan cara mengamalkan bimbingan Dzikir dan amalan-amalan keruhanian yang diajarkannya, dengan yakin dan penuh harap.
- Mendengarkan pengajaran ilmu2 serta hikmah2 kehidupan yang disampaikan dengan penuh khusyu' dan berharap untuk bisa mengamalkannya.
-Serta berguru dalam arti meniru tindak-tanduk (Akhlak dan kepribadian) nya dengan senang hati dan bangga.

4. Berkhidmat kepada Guru Mursyid.
Seorang murid harus ada niat dan upaya untuk berkhidmat kepada guru Mursyidnya,  khususnya membantu beliau dalam usaha-usaha perjuangannya. Perjuangan dalam meninggikan kalimat Allah dan meratakan rahmat-Nya bagi seluruh alam.
Berkhidmat kepada guru Mursyid sebaiknya adalah berdasarkan kesadaran kita untuk berkontribusi (urunan) dalam mensukseskan program perjuangan beliau dan keridloan beliau terhadap diri seorang murid atau Salik. Dengan jiwa raga dan harta benda. Sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki oleh seorang murid atau Salik.

5. Beradab kepada Guru Mursyid.
Seorang mutashawwif (orang yang belajar Tasawuf) harus senantiasa menjaga adab kepada guru Mursyidnya, sebagai mana para sahabat kepada Rasulullah Saw. Baik dalam berbai'at, belajar, berkhidmat berkomunikasi sehari-hari. Karena memang hubungan murid dengan Mursyid adalah manifestasi atau perwujudan adanya hubungan antara para sahabat dengan Rasulullaah. Mursyid berperan sebagai mana Rasulullaah dan murid berperan sebagai para sahabatnya.
Di antara adab seorang murid kepada Mursyidnya adalah;
a. Secara  batin.
- Selalu berhusnudhon (berprasangka baik).
-  Selalu menjaga mahabbah (cinta) sebagai orang tua ruhani.
- Selalu ta'dhim (mengagungkan), Ikrom (memuliakan) diri dan keluarganya.
b. Secara dhohir.
-  Mengistimewakan dalam pelayanan dan perlakuan.
- Mendahulukan dan menomorsatukan.
- Menggunakan bahasa yang indah, rendah dan berfaedah.
- Menjaga perasaan, harga diri dan kehormatan diri, harta dan keluarganya.

C. Manfaat Belajar Tasawuf.

Jika seseorang orang belajar Tasawuf dengan cara-cara para sufi tersebut dengan baik dan istiqamah,  maka seseorang akan mendapatkan diantara manfaat-manfat berikut:
1. Akan terjadi proses perjalanan Ruhani taroqqi (proses naik), dan dia akan mengalami perubahan karakter dan kelas spiritual (maqomat dan ahwal), sehingga terbentuk Akhlak mulia sebagai mana yang dicita-citakan oleh Rasulullaah Saw.
2. Akan terjadi proses pendewasaan diri.Hal itu terjadi karena kecerdasan emosional dan spiritualnya semakin semakin meningkat. Emosinya akan semakin tertata. Stabil, bisa sabar, syukur, pema'af dan toleran (lapang dada).
Kecerdasan spiritual akan meningkatkan. Kemampuan memaknai fenomena kehidupan, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun yang terjadi pada alam sekitar, akan terus meningkat. Sehingga mampu membaca ayat-ayat Allah berupa apa saja. Baik ayat qauliyah (dalam kitab suci), insaniyah (kehidupan sosial), maupun kauniyah (alam semesta), dengan baik. Sehingga dia menjadi manusia yang pluralis-transendental (menyaksikan kemahaesaan Allah dalam keragaman di alam semesta.
3. Akan terjadi tajalliyatullaah dalam dirinya.
Karakter Allah dalam Al Asma' Al Husna dalam jiwa seseorang yang dengan sabar dan istiqamah belajar Tasawuf dengan cara para sufi tersebut. Dia akan menjadi seorang yang sangat: pengasih, Penyayang, Suci, sejahtera dan seterusnya.
4. Menggapai bahagia yang hakiki dan abadi.
Bahagia yang hakiki yaitu bahagia yang benar-benar menyentuh jiwa. Kedamaian jiwa yang tidak tercampuri rasa takut dan gelisah. Sedangkan kebahagiaan abadi yang dimaksudkan adalah kebahagiaan yang berkelanjutan mulai dari dunia sampai di alam keabadian (alam baqa').
5. Mencapai Puncak Spiritualitas (Mahabbah dan Ma'rifah).
Dengan istiqomah belajar Tasawuf dengan cara para sufi,  seseorang akan mencapai puncak spiritualitas yang disebut Mahabbah dan Ma'rifah (cinta- kenal), cinta kepada Allah dan dicintai oleh Allah. Mengenal diri sendiri dan mengenal Allah juga dikenal oleh Allah.
Read more…

SHOLAWAT ULUL ALBAB