Waliyulloh dan Waliyus Syaiton dalam Pandangan Ahli Sunnah Wal Jama'ah

Waliyulloh dan Waliyus Syaiton dalam Pandangan Ahli Sunnah Wal Jama'ah 
Oleh: Kharisudin Aqib Al Kelutani. 


 أَلَاۤ إِنَّ أَوۡلِیَاۤءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَیۡهِمۡ وَلَا هُمۡ یَحۡزَنُونَ , ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَكَانُوا۟ یَتَّقُونَ 

[Surat Yunus: 62-63].

Artinya:

Ketahuilah, sesungguhnya para kekasih Allah itu adalah orang-orang yang tidak terbebani oleh rasa takut dan gelisah, yaitu mereka yang pada beriman lagi bertaqwa kepada Allah. 


Pengertian Wali. 


Dalam Islam, istilah "wali" memiliki makna yang luas dan penting. Secara umum, "wali" berarti pelindung, sahabat dekat, atau pemimpin, atau orang yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah. Dalam pandangan Ahli Sunnah wal Jama'ah, konsep wali mencakup aspek-aspek spiritual dan sosial yang mendalam.

Konsep Wali dalam Pandangan Ahli Sunnah Wal Jama'ah. 


1. Makna dan Definisi:

   Dalam tradisi Ahli Sunnah wal Jama'ah, seorang wali adalah seorang yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah karena ketaqwaan dan ketaatan yang tinggi. Menurut ajaran ini, tidak ada perbedaan mendasar antara wali dan orang-orang saleh yang lain, kecuali tingkat kedekatannya dengan Allah.


2. Ciri-ciri Wali:

   Seorang wali dikenal dengan ketakwaan, kepatuhan terhadap syariat, dan akhlak yang baik. Ciri-ciri ini termasuk:

   Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya: Seorang wali harus mematuhi ajaran Al-Qur'an dan Sunnah secara konsisten.

   Hidup dalam Ketaqwaan: Tindakan sehari-hari seorang wali mencerminkan kepatuhan kepada Allah dan kesadaran akan Hari Akhir.

   Jauhi Perbuatan Dosa: Seorang wali cenderung menjauhi perbuatan yang diharamkan dan menjaga diri dari dosa besar.


3. Derajat Kewalian:

   Ahli Sunnah wal Jama'ah percaya bahwa derajat kewalian tidak bersifat tetap dan bisa berubah tergantung pada tingkat ketaqwaan dan amal ibadah seseorang. Kewalian bukanlah gelar tetap atau warisan, melainkan hasil dari usaha dan ketulusan hati dalam beribadah.


4. Peran Wali dalam Masyarakat:

   Walaupun seorang wali memiliki kedekatan dengan Allah, dalam pandangan Ahli Sunnah wal Jama'ah, mereka tidak memiliki kekuatan supranatural atau kekhususan yang membedakan mereka dari orang-orang saleh lainnya dalam hal kekuasaan atau wewenang. Wali dianggap sebagai contoh dan teladan dalam kehidupan beragama dan sosial, tetapi tidak ada klaim bahwa mereka memiliki kemampuan untuk melakukan mukjizat di luar batas hukum syariat.


5. Kesimpulan:

   Dalam Ahli Sunnah wal Jama'ah, wali adalah individu yang memiliki kedekatan khusus dengan Allah melalui amal saleh dan ketaatan. Konsep ini tidak mencakup praktik atau ajaran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam seperti yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Sunnah.


Referensi

1. Al-Qur'an: Beberapa ayat yang merujuk pada konsep kewalian adalah Surah Al-Baqarah ayat 257 dan Surah Yunus ayat 62-64.

2. Hadis: Hadis-hadis yang menjelaskan tentang wali dan ciri-cirinya dapat ditemukan dalam kitab-kitab hadis utama seperti Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

3. Kitab-kitab Fiqh: Kitab-kitab fiqh dari madzhab-madzhab Ahli Sunnah wal Jama'ah seperti *Fath al-Qarib* dan *Al-Mughni* juga membahas mengenai kewalian dan kriteria-kriterianya.

4. Literatur Islam: Buku-buku tafsir dan risalah dari ulama Sunni seperti Tafsir Ibn Kathir juga memberikan penjelasan mendalam tentang konsep wali dalam Islam.


Konsep wali dalam pandangan Ahli Sunnah wal Jama'ah menekankan pada kedekatan kepada Allah melalui amal saleh dan ketaatan, tanpa adanya penekanan pada kekuatan atau keistimewaan khusus yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat Islam.


Selain wali dalam pengertian waliyullah (orang selalu dalam lindungan dan bimbingan Allah), dalam Al Qur'an, juga ada istilah waliyus Syaiton (orang yang selalu dalam lindungan dan bimbingan setan), sebagai mana firman-Nya: 

 ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِینَ كَفَرُوا۟ یُقَـٰتِلُونَ فِی سَبِیلِ ٱلطَّـٰغُوتِ فَقَـٰتِلُوۤا۟ أَوۡلِیَاۤءَ ٱلشَّیۡطَـٰنِۖ إِنَّ كَیۡدَ ٱلشَّیۡطَـٰنِ كَانَ ضَعِیفًا 

[Surat An-Nisa': 76]

Artinya:

Orang-orang yang beriman itu berperang di jalan Allah, sedangkan orang-orang kafir itu berperang di jalan thought , maka perangilah para wali setan itu. Sebenarnya tipu daya setan itu lemah. 


Waliyus Syaiton dalam Al-Qur'an

Dalam Al-Qur'an, istilah "waliyus syaiton" atau "wali setan" merujuk pada individu atau kelompok yang secara aktif mengikuti jalan setan atau bertindak sesuai dengan tujuan dan agenda setan. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan orang-orang yang menentang ajaran Allah dan kebenaran Islam. 


Pengertian dan Konteks. 


1. Pengertian Umum:

Dalam bahasa Arab, "wali" berarti teman dekat atau pendukung. Sementara itu, "syaiton" adalah kata untuk setan. Jadi, "waliyus syaiton" berarti teman atau pengikut setan, mereka yang mendukung atau mengikuti ajaran dan rencana setan untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar.


2. Referensi Al-Qur'an:

Dalam Al-Qur'an, Allah mengidentifikasi waliyus syaiton dalam beberapa ayat sebagai mereka yang mendukung kebatilan dan menolak kebenaran. Beberapa ayat yang relevan termasuk:


- Surat Al-Ankabut (29:38): "Dan Kami juga menimpakan kepada mereka (orang-orang kafir) siksa yang keras, dan mereka tidak memperoleh pertolongan dari selain Allah." Ayat ini menunjukkan bahwa mereka yang tidak mengikuti jalan Allah akan mengalami kesulitan dan tidak akan mendapat perlindungan.


- Surat Al-Jinn (72:27-28): Ayat-ayat ini menggambarkan bagaimana setan dan pengikutnya tidak memiliki pengetahuan yang benar dan mengandalkan dugaan untuk menyesatkan manusia. "Hanya Allah-lah yang mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." Ayat ini menegaskan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, dan setan serta pengikutnya tidak memiliki pengetahuan yang benar.


- Surat Al-Baqarah (2:168-169): "Wahai manusia, makanlah yang baik lagi halal dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu." Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk tidak mengikuti jalan setan, yang jelas merupakan musuh bagi manusia.


3. Karakteristik Waliyus Syaiton:

Dalam Al-Qur'an, waliyus syaiton digambarkan sebagai mereka yang cenderung melakukan kejahatan, menolak kebenaran, dan mengabaikan petunjuk Allah. Mereka sering disebut sebagai:

- Orang-orang kafir atau musyrik yang menolak ajaran Islam.

- Pengikut kebatilan yang menyebarkan ideologi dan praktik yang bertentangan dengan ajaran Allah.

- Pihak-pihak yang menyebarluaskan fitnah atau kesesatan dan menyesatkan orang lain dari jalan kebenaran.


Kesimpulan


Dalam Al-Qur'an, waliyus syaiton adalah istilah untuk menggambarkan orang-orang atau kelompok yang mengikuti atau mendukung agenda setan, yang berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah. Al-Qur'an mengajarkan umat Islam untuk waspada terhadap pengaruh negatif ini dan selalu berpegang pada petunjuk Allah agar terhindar dari kesesatan dan dapat menjalani hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

Read more…

Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam



Kajian Psikosufistik Pendidikan Islam
Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag

A. Pendidikan Islam adalah kelanjutan dari misi dakwah Rasulullah Muhammad Saw, yaitu Li utammima makaarimal akhlaq (menyempurnakan kemuliaan akhlak (kepribadian, atau karakter). Menyempurnakan dalam arti menumbuh kembangkan dengan serasi dan harmonis. Sedangkan kemuliaan berarti  keterpaduan antara keunggulan (ekselensi) dan keberbedaan dengan yang lain (distingsi).
Sehingga pendidikan Islam berarti suatu proses penumbuh kembangan kepribadian manusia menjadi manusia yang berkarakter yang serasi dan harmonis dalam keunggulan dan keunikan.
Akhlak, kepribadian dan karakter adalah sebuah ungkapan atau konsep yang maknanya adalah sebuah totalitas diri seorang manusia yang merupakan integrasi kesadaran (perpaduan antara kesadaran jasmaniah dan kesadaran rohaniah). Sedangkan hal tersebut merupakan wujud maknawi dan hakiki seorang manusia. Yang secara garis besarnya terdiri dari tiga organ penting, yaitu: kepala, badan dan tangan-kaki. Ketiga organ penting ini sekaligus sebagai obyek pendidikan Islam. Karena ketiganya merupakan perwujudan dari tiga potensi dasar manusia, yakni; kognitif (pengetahuan), afektif (penghayatan) dan psikomotorik (perbuatan).
Pendidikan Islam bertugas selain menumbuh kembangkan kepribadian yang serasharmonis antara kognitif, afektif dan psikomotorik dengan baik. Dengan cara memberikan pengetahuan, penghayatan dan praktek dalam keilmuan secara seimbang dan serasi, Sebagai mana keseimbangan perkembangan kepala, badan, tangan dan kaki.
Ilmu pengetahuan seseorang sebaiknya tidak lebih baik daripada penghayatan seseorang terhadap ilmu tersebut, demikian juga halnya praktek dan Pengamalannya juga harus terampil dan baik, dengan menyeimbangkan antara tehnis pengajaran, pembiasaan dan bimbingan praktis. Khususnya dalam bidang pendidikan moral keagamaan.
Di samping tiga aspek tersebut, dalam jiwa sebagai hakekat pemilik akhlak, kepribadian dan karakter seseorang ada tiga dorongan atau kecenderungan, yaitu; keinginan (syahwat), emosi (ghodhob) dan pengetahuan (ilmu). Ketiga hal tersebut berada dan bersifat software (perangkat lunak atau lathifah) yang menempel dalam sistem kerja hardware (perangkat keras) yang disebut dengan: otak kanan, otak kiri dan otak depan. Sedangkan otak belakang sebagai pengendali keseimbangan gerakan badan, dan otak tengah (Mesenchepalon) bertugas mengkoordinasikan kerja semua bagian otak, sehingga menghasilkan kesadaran  majemuk dan meaningtif (kecerdasan spiritual).
Disamping itu semua, pada dasarnya jiwa memiliki empat macam tabiat (sifat bawaan) yang tampak dalam sikap mental dan perilaku seseorang, yaitu: tabi'at bahimiyah (binatang jinak), sabu'iyah (binatang buas), syaithoniyah (kesetanan), dan tabiat malaikatiyah (kemalaikatan).
Keempat macam tabiat tersebut secara potensial ada pada setiap orang dengan dominasi dari salah satu dari keempatnya.
Tabiat yang mendominasi diri seseorang itulah akhlak, kepribadian dan karakter orang tersebut serta wujud maknawi dirinya.
Tabi'at bahimiyah adalah tabiat kebinatang jinakkan, yakni suka makan- minum, bermalas-malasan  atau tidur dan melampiaskan nafsu seksual.
Tabi'at sabu'iyah atau kebinatang buasan adalah kesukaan bertengkar, menyakiti orang lain, mengalahkan dan berbuat onar.
Dan tabi'at syaithoniyah adalah kesukaan untuk berprilaku seperti setan, seperti; iri hati, hasut, dengki, takabur dan licik.
Sedangkan tabi'at malaikatiyah kesukaan berbuat ta'at dan mendekat kepada Allah SWT, serta menjauhi maksiat.
Sehingga orang yang didominasi oleh salah satu dari tabi'at-tabi'at tersebut kepribadian, Karakter dan akhlaknya adalah mungkin bahimi, sabu'i, syaithoni atau malaikati, dan juga wujud maknawi (wujud di alam astral atau alam metafisika), sekitar binatang ternak ( sapi, kambing dll), binatang buas (anjing, ular, buaya dll), setan (genderuwo, kuntilanak dll), serta malaikat (manusia tampan atau cantik yang bercahaya terang).
Disamping menjaga, mengasah dan meningkatkan kualitas kecerdasan spiritual, emosional, intelektual dan kinestetik, pendidikan Islam bertujuan merubah karakter peserta didik (siswa santri), dari berkarakter negatif (bahimiyah, sabu'iyah dan syaithoniyah) menjadi berkarakter positif (malaikatiyah). Dan itulah manusia yang sesungguhnya, yang disebut Muttaqin (orang yang benar-benar bertaqwa), yakni manusia berkarakter malaikat.
Dari segi kualitas kelembutan spiritualnya jiwa memiliki 7 tingkatkan, dan masing-masing tingkat memiliki karakteristik dan kinerja yang berbeda.
Ke tujuh tingkatan itu adalah;
1. Lathifatun nafsi dengan karakter amarah bis su' (memerintahkan kepada keburukan).
2. Lathifah qalbi dengan karakter lawwaamah (suka mencela).
3. Lathifah ruhi, dengan Karakter mulhimah (sensitif intuitif positif dan negatif).
4. Lathifah Sirri dengan karakter Muthmainnah (stabil dalam kebaikan dan kebenaran).
5. Lathifah khofi dengan karakter rodhiyah (puas dengan ketentuan dan pemberian Allah).
6. Lathifah Akhfa dengan karakter Mardhiah (Dapat dibanggakan oleh Allah)
7. Lathifah qalab, dengan karakter Kamilah (sempurna/ memiliki semua karakter2 ilaahiah).
Pada setiap tingkat kelembutan jiwa tersebut memiliki jaringan intuisi positif (taqwallah) dan intuisi negatif (fujur atau duraka kepada Allah).
Nama jiwa seseorang didasarkan pada Karakter yang mendominasi dirinya, yaitu, salah satu dari karakter jiwa (nafsu) berikut ini : nafsu amarah, nafsu lawwaamah, nafsu mulhimah, nafsu Muthmainnah, nafsu rodhiyah, nafsu Mardhiah dan nafsu Kamilah.
Yang penting untuk disadari, bahwa tabi'at jiwa lebih bersifat genotipe (bawaan sejak lahir) sedangkan Akhlak, kepribadian atau pun karakter bersifat edukatif (karena faktor didikan dan lingkungan sekitar. Dengan meningkatnya kwalitas karakter seseorang, meningkat pula kwalitas tabiat seseorang.
Mendidik berarti menumbuhkembangkan totalitas kejiwaan manusia yang terdiri dari hardware dan software dari pikiran, perasaan dan perilaku manusia. Pikiran atau akal manusia pada otak, perasaan manusia pada shudur (dada), dan perilaku manusia pada organ tubuhnya yang diwakili oleh tangan dan kakinya. Atau dalam bahasa pendidikan disebut sebagai aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan psikomotorik (perilaku). Dengan tehnik yang bersifat sistemik (rangkaian sistem terpadu), integratif (menyatu) dan simultan (berurutan dan terus menerus) antara pengajaran (ta'lim), pembiasaan (ta'dib) dan bimbingan kerohanian (Irsyad).
 Software perasaan yang namanya shudur (dada) tersebut memiliki tujuh aplikasi penting yang sudah disebutkan, yaitu;
1. Nafsu
2. Qolbu
3. Ruh
4. Sirr
5. Khofi / Lub
6. Akhfa / Fuad
7. Qalab.
Software dan aplikasinya tersebut memiliki tehnis pendidikan atau perawatannya sendiri sehingga menjadi berkembang dan tumbuh dengan  sehat (fungsional dan produktif). Perawatan dan pendidikan bisa juga disebut olah rasa sebagaimana halnya badan perlu olahraga.
Perawatan software (jiwa manusia) adalah dengan dzikrullah,  dengan segala macam bentuknya aktivitasnya, seperti sholat, membaca kitab suci, membaca kalimat thoyyibah, mengamati dan mentafakkuri ayat2 Allah dalam kehidupan (manusia, binatang dan tumbuhan).
Dengan pengasahan tersebut (tazkiyatun nafsi), jiwa manusia menjadi cerdas dan dewasa. Kecerdasan emosional menjadi bagus (stabil,  apresiatif, pemaaf dan toleran), demikian juga kecerdasan spiritualnya menjadi bagus (sensitif terhadap makna2 di balik fenomena dan peristiwa).
B. Neoropsikologi Sufistik.
Manusia adalah makhluk Ruhaniyah yang berjisim, dalam arti bahwa hakekatnya manusia itu adalah ruhnya, sedangkan jisim atau jasadnya hanyalah sebuah wadah dan kendaraan atau baju bagi ruh untuk berwujud dan bereksistensi di dalam dunia ini. Ibaratnya seperti apa yang kita kenal di dalam sistem komputer adanya dua substansi yang terintegrasi dengan baik, yaitu: software (perangkat lunak) dan  hardware (perangkat keras).
Ruh makhluk-makhluk (termasuk manusia) adalah berasal dari ruh Allah, Maka dia membawa sifat-sifat Hb ketuhanan Al hayyu (maha hidup), Al qayyum (maha tegak berdiri), Al qawiy (maha kuat) dll dari  asma2 (karakter) Allah. Maka dengan masuknya ruh Allah, itulah sel-sel dalam organisme menjadi hidup (tumbuh, berkembang, bergerak dan juga berfikir) sesuai dengan kesiapan dan kelengkapan hardware (jasad) makhluk hidup tersebut.
Menempelnya unsur ketuhanan pada unsur material, melalui bagian unsur yang paling lembut dari suatu unsur. Khusus makhluk hidup biologis, unsur ketuhanan (Al hayyu=hidup) adalah menempel pada oksigen, dalam sebuah senyawa H2O (Air). Sehingga hampir dapat dipastikan sebuah organisme akan mati jika tidak menerima oksigen, karena tidak ada media bagi ruh untuk berwujud di situ.
Oleh karena itu, ada korelasi yang sangat kuat antara jasmani dan rohani dalam sebuah wujud kesadaran yang disebut sebagai jiwa (nafs atau soul) yang selanjutnya Secara riil membentuk sebuah kepribadian atau Karakter. Kepribadian maupun perbuatan setiap organisme termasuk manusia dikendalikan melalui pusat pengendalian (sebuah anatomi yang bersifat biologis). Anatomi tersebut untuk makhluk hidup tingkat tinggi disebut dengan nama otak. Sehingga dari organ ini prilaku, karakter dan bahkan gerakan-gerakan di luar kesadarannya diprogram dan dikendalikan, termasuk kerja jantung biologis manusia.
Ruh manusia itu berasal tiupan bagian ruh Allah, dia sangat lembut (lathiif atau soft), sehingga bisa tembus pada semua bagian terkecil dari segala sesuatu. Sehingga bisa sambung dan menempel pada unsur material, sebagai mana esensi (rasa, warna atau bau) pada benda-benda. Seperti wangi pada bunga, atau panas pada bara api dll.
Ruh yang berada dalam diri manusia (jiwa) juga sebagai mediator antara Allah dengan makhluknya, melalui jiwa Allah menghidupkan, menggerakkan, menunjukkan, menyesatkan dlsb. Manusia memiliki kesempurnaan jaringan dengan Allah, baik jaringan intuisi positif (ilham taqwa) dan jaringan intuisi negatif (ilham fujur), maka beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya dan Sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS: as syams: 7-10)
Sehingga kalau Allah mencabut ruh seseorang, maka berhentilah semua aktivitas dalam dirinya, atau juga sebaliknya, jika aktivitas menyebarnya ruh dalam sebuah organisme maka mati jugalah jadinya organisme tersebut. Karena dengan ruh-Nya Allah menghidupkan dan dengan ruh-Nya pula dia mematikan. Dengan cara memasukkan ruh-Nya (jadilah hidup) dan mengeluarkan ruh-Nya dari dalam diri seseorang (mematikan).
Read more…

PENGERTIAN AKHLAK TASAWUF DAN KEDUDUKANNYA DALAM AGAMA ISLAM

Oleh : Dr. KH. Kharisudin Aqib, M. Ag
A. Arti dan Pengertian Akhlak
Ibnu Maskawaih mengidentikkan antara akhlak dan karekter, keduanya adalah merupakan keadaan jiwa, demikian juga Imam Ghazali mengibaratkan akhlak sebagai gerak jiwa seseorang serta gambaran batinnya. Dari kedua pengertian yang diberikan oleh kedua pakar ilmu akhlak ini bahwa akhlak sebagai suatu aktifitas yang muncul dari dorongan jiwa dan gerak batin seseorang sehingga baik dan buruk karakter, kepribadian, sikap dan tingkah laku seseorang yang telah menjadi tabiat sehari-hari yang dikerjakan dengan kesadaran dan tanpa pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu berkait erat dengan jiwa dan batin seseorang, sehingga jelaslah bahwa akhlak merupakan bagian penting didalam ajaran agama, karena itu wajar kalau justru fungsi keseluruhan Nabi (pembawa agama) adalah untuk menyempurnakan akhlak, sebagaimana peringatan beliau:

Sesungguhnya Allah mengutus saya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia dan memperbaiki perbuatan yang baik.[1] 
            Karena keduanya (akhlak dan agama Islam) keduanya membahas dan mengupayakan bagaimana jiwa seseorang menjadi baik dan sempurna dengan membuahkan suatu pola piker, sikap dan tingkah laku (shaleh), dengan keharmonisan dan keselarasan yang sempurna tanpa adanya kamoplase penipuan, kemunafikan disharmonisasinya antara batin dan jiwa, dengan prilaku, misalnya hatinya baik perilakunya jelek, atau sebaliknya perilakunya baik tetapi keluar dari jiwa dan niatan batin yang jelek, baik karena kebodohan maupun karena kejelekan jiwa. Sehingga akhlak terkait erat dengan keimanan yang sama-sama berpangkal didalam hati seseorang bahkan menurut Nabi Muhammad orang yang terbaik keimanannya adalah orang yang baik akhlaknya (ketinggian budi pekerti yang muncul dari gerakan jiwa yang suci).
Seperti pernyataan Nabi :

Sempurna-sempurnanya iman seorang mukmin adalah yang terbaik akhlaknya.(HR. Tirmidzi). [2]

            Dalam bahasa agama (Islam) kata yang orang menyebut budi pekerti , perilaku, karakter dll, itu didalam islam diambil dari bahasa arab :


Yang kesemuanya berarti menciptakan, pencipta, ciptaan dan akhlak perilaku (untuk mencipta atau buah dari ciptaan). Sehingga dalam islalm yang disebut dengan akhlak tidak hanya mempunyai sasaran antara manusia dengan manusia, tetapi yang dimaksud akhlak mempunyai sasaran yang sangat luas, akhlak antara manusia dengan manusia, manusia dengan Al-Khaliq dan manusia dengan sesama makhluk selain manusia, termasuk binatang, tumbuhan dan lingkungannya.
B. Arti dan Pengertian Tasawuf
Tasawuf (sufi) adalah suatu kata istilah atau nama yang muncul jauh dari masa Nabi (2 abad) setelah Nabi, yang pertama kali dimunculkan oleh seorang zahid Abu Hasyim Al-Kufi (wafat 150 H),[3]  untuk suatu kelompok orang Islam yang mengkonsentrasikan dirinya pada kehidupan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dengan berbagai cara dan upaya.
            Kata tasawuf berasal dari kata shuffah, yang menurut etimologi dengan pendekatan historis berasal dari kata ahli. Shuffah ialah orang-orang yang ikut pindah atau hijrah dengan Nabi dari Mekkah ke Madinah, dan karena hartanya ditinggalkan, mereka berada dalam kehidupan miskin dan tak mempunyai apa-apa.[4]  Mereka tinggal di masjid Nabi dengan selalu memakai pelana kuda”suffah” sebagai bantalnya sehingga disebut “Ahli Shuffah” adalah kelompok kaum muslimin yang miskin tetapi mereka berhati mulia, tidak mementingkan keduniaan, miskin tetapi berhati baik dan mulia, itulah sifat-sifat ahli shuffah yang dijadikan contoh orang sufi dikemudian hari . Ada juga yang mengatakan tasawuf atau sufi berasal dari kata shuf “           “yang berarti kain wool, karena para sahabat Nabi yang tinggal di masjid Nabi dan hanya mementingkan kehidupan kerohanian itu selalu mengenakan baju wol  kasar sebagai lambang kesederhanaan pada saat itu. Dan masih banyak lagi yang mencoba mengkait-kaitkan asal kata dan istilah tasawuf itu, tetapi yang jelas tasawuf berarti pokok hidup kerohanian Islam dan syari’at batin dalam ajaran Islam.
            Pada masa Nabilah mula pertama timbulnya embrio munculnya sufi sebagai suatu aliran keagamaan yang digambarkan dengan adanya kelompok ahlli shuffah di Masjid Nabi, yang mendapat restu dari Nabi bahkan Nabi sendiri dan hamper semua sahabaat dekat Nabi memberikan contoh-contoh kehidupan kerohanian yang sangat tinggi, berpola hidup sederhana atau bahkan miskin dan senantiasa memperbanyak ibadah dan muraqabah serta mujahadah-mujahadah yang sangat serius, dengan shalat, dzikir dan membaca Al-qur’an serta berpuasa disamping tidak pernah dari semangat jihad dan dakwah.
C. Keterikatan Antara Akhlak dan Tasawuf
Antara akhlak dan tasawuf adalah bagaikan api dengan asapnya yang masing- 
masing tidak dapat berdiri sendiri, keduanya mempunyai obyek kajian hati dan jiwa seseorang. Bahkan Al-Ghozali memberikan pengertian tentang bentuk ilmu akhlak sebagai ilmu sifat haati dan ilmu rahasia hubungan keagamaan yang kemudian menjadi pedoman untuk akhlaknya orang-orang baik. Al-Ghozali lebih menitik beratkan masalah hlak itu untuk pedoman orang-orang sholeh (ahli thariqat) dan harus disesuaikan dengan ajaran-ajaran syari’at Islam, seperti yang digariskan oleh para fuqaha, sehingga ilmu tersebut lebih popular di kalangan umat Islam menjadi ilmu tasawuf. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa akhlaknya orang mukmin itu adalah tasawuf, suatu etika yang terkonsentrasikan pada Allah semata dengan keterlibatan hati dan jiwa secara utuh.
            Akhlak tasawuf atau akhlak dan tasawuf ini timbul pada diri seseorang karena kesadaran dan keterpanggilan jiwa, yang mungkin terjadi sebagai reaksi banyak hal :
mungkin karena membaca dan melagukan Al-qur’an, mungkin dari tafakur, semedi dan membaca beberapa Hadits, atau mencontoh perbuatan sahabat-sahabat utama dan pengaruh keadaan sekeliling. Waktu permulaan timbulnya tasawuf  belumlah menjadi suatu ilmu yang teratur atau filsafat yang sistimatik, sebelum abad ketiga nama tasawuf belumlah dikenal, barulah yang dikenal istilah suhud atau abid atau fakir atau nasik.
D.Kedudukan Akhlak Tasawuf Dalam Agama Islam
Secara garis besar Agama Islam terdiri dari tiga dimensi ajaran, yaitu : iman, Islam, ihsan. Sebagaimana hadits dari Umar bin Khattab tentang peristiwa dialog yang terjadi antara Nabi dengan Jibril yang menyamar sebagai seorang manusia yang datang kala Nabi sedang mengajar para sahabat dan bertanya tentang Iman, Islam dan Ihsan, maka Nabi Menjawab tentang ihsan :


            Ihsan adalah jika engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah dan jika engkau tidak mampu melihat Allah maka sesungguhnya Allah melihatMu. (HR. Bukhari – Muslim). [5]
            Ihsan berarti ma’rifat kepada Allah, menyaksikan keberadaan Allah di dalam setiap keadaan dengan pandangan yang yakin, dengan pengetahuan yang yakin dan hakikat kenyakinan. Allah memerintahkan agar manusia mendapatkan kenyakinan yang benar dengan jalan senantiasa beribadah kepada Allah:


            “Dan beribadahlah engkau sehingga dating kepada keyakinan”. (QS. 15: 99).
            Dan orang yang faham akan keberadaan dirinya dan keberadaan Tuhannya, maka dia akan memiliki akhlak yang baik kepada dirinya dan kepada Tuhannya. Keberadaan dan kedudukan tasawuf dalam ajaran Islam  sama dengan keberadaan ihsan dalam tiga dimensi bangunana agama islam atau setidak-tidaknya merupakan ilmu pendukung kea rah keberhasilan memiliki kwalitas keihsanan seseorang dalam ajaran agama islam.
            Agar dapat memiliki iman yang benar maka seseorang harus mempelajari ilmu aqidah atau tauhid, dan agar seseorang dapat melaksanakan ajaran islam yang benar maka seseorang harus mempelajari syari’at secara baik dan jika seseorang ingin menjadi seorang muhsin (berperilaku ihsan) maka seseorang harus memasuki dan belajar tasawuf, karena tasawuf adalah ilmu dan amaliyah dalam upaya ma’rifat kepada Allah dengan senantiasa menjaga akhlak kepada Allah yang sebaik-baiknya. Dan ketiga unsure serta dimensi agama Islam itulah yang disebut Islam itu sendiri, tidak dapat dipisah-pisahkan.


[1] H. Bet Arifin a Yunus Ali Muhdhor (Pentj.), Riwayat Hidup Rasulullah, PT. Bina Ilmu, Surabaya, 1989, Hlm. 493.
[2] Salim Bahreisy (Pentj.), Riyadlush Sholihin, Al-ma’arif, Bandung, Hlm. 511.
[3] Abu Bakar Aceh, Pengantar Sejarah Sufi Tasawuf, CV. Romadhoni, Solo, 1990, Hlm. 53.
[4] Harun Nasution, Filsafat dan Miastitisme Dalam Islam, BulanBintang, Jakarta, 1973, Hlm. 57.
[5] Ismail Yakub, TK., (Pentj.), Ihya’ Al-Ghazali, CV., Faizan, Jakarta, Jil. V, Hlm. 16.
Read more…

Al Hikmah

Al-Hikmah : Memahami Teosofi Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah

Penerbit : Bina Ilmu,Tahun 2004
ISBN : 979-422-038--8
Halaman : 245
Penulis : Dr. H. Kharisuddin Aqib, M.Ag

Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandlyah merupakan unifikasi antara dua tarekat "Qadiriyah .dan "Naqsyabandiyah" yang terbesar dan tertua dalam sejarah tarekat di dunia Islam. Di Indonesia, tarekat ini berkembang sangat pesat, bahkan pada masa sekarang diperkirakan yang terbesar pengikutnya. Akan tetapi teori filsafat dalam ajaran tarekat ini kebanyakan hanya diketahui oleh para pengikutnya, bahkan sangat mungkin tidak sedikit pengikutnya yang tidak mengetahinya. Padahal teori ini merupakan unsur yang sangat menarik yang ada dalam tarekat.

Mengetahui landasan-landasan filosofi dan teori-teori filsafat dalam suatu tarekat, tidak kalah pentingnya dengan mengetahui dalil-dalil naqll yang dijadikan dasar ajaran¬ajarannya. Pengetahuan tentang hal ini juga diperlukan untuk mengetahui aspek-aspek ritual dalam pembahasan ilmu tasawuf dengan pendekatan filsafat (rasio) yang juga merupakan tuntutan masyarakat modern yang cenderung rasionalistik.


Buku ini merupakan salah satu jawaban dari tuntutan-tuntutan di atas. Di samping merupakan sebuah deskripsi dan analisis filosofis atas ajaran tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandlyah di Indonesia yang berkaitan dengan tinjauan syar'i, sejarah ajarannya, filosofisnya, dan bahkan filsafat-filsafat yang mendasarnya, buku ini juga menyajikan prinsip-prinsip ajaran tasawuf sebagai dimensi esoterik agama Islam pada umumnya dan prinsip-prinsip ajaran Qadiriyah wa Naqsyabandlyah pada khususnya.
Read more…

SHOLAWAT ULUL ALBAB