Virus Qudsi atau Virus Suci dan Penyebarannya Ala Rasulullah.

Virus Qudsi atau Virus Suci dan Penyebarannya Ala Rasulullah. 
Oleh : Kharisudin Aqib.

A. Pengantar
Virus adalah jenis makhluk Allah yang sangat lembut dan kecil. Dia masuk kategori makhluk hidup yang unik, karena disebut makhluk hidup tidak memiliki syarat kehidupan yang normal,  tetapi disebut makhluk tidak hidup nyatanya bisa berkembang biak.
Virus, selama ini berkonotasi negatif dan parasit. Karena memang nyatanya dampaknya terhadap manusia cenderung negatif, sekalipun bisa dimanfaatkan untuk kepentingan dan kebaikan umat manusia.
Di dalam kehidupan manusia sehari-hari, ada makhluk Allah, yang memiliki ciri-ciri sebagai mana Virus, tetapi bersifat suci, dan sangat positif bagi kehidupan umat manusia. Dia tidak kasat mata, seperti halnya virus. Bahkan lebih tidak bisa dilihat dengan mikroskop biasa. Tetapi bisa dilihat dengan foto aura, atau foto cyrlian. Tetapi pengaruhnya bisa dilihat rekaman video aura, atau alat-alat tes psikologi dan kesehatan. Sehingga saya sebut dia sebagai virus qudsi, atau virus suci.
"Virus" ini berdampak menyehatkan, menghidupkan dan mengembangkan. Pada apa saja yang ketempatan virus qudsi ini, khususnya jantung, hati dan otak manusia.
Ia memiliki daya tahan hidup di dalam diri manusia dalam cuaca dan kondisi apapun, kecuali jika dibawa untuk melakukan maksiat, khususnya dosa besar, maka dia akan mati atau setidaknya ia akan meredup dan padam.  Ia juga memiliki kemampuan menyebar dan 'berkembang biak' dengan sangat dahsyat, bahkan bisa berpindah-pindah, bukan hanya dari orang ke orang lain, tetapi dari generasi ke generasi. Dia adalah makhluk Allah yang merupakan faidh robbaniy (limpahan esensi dari Allah).

B. Mengenal Virus Qudsi.
Material virus qudsi berasal dari faidh robbani, sebuah 'partikel' ketuhanan yang sangat halus dan lembut. Yang terpercik dari spirit iman dan getaran amal shaleh, khususnya amal shaleh yang Istiqomah. Seperti; berdzikir, membaca, ibadah mahdhoh, dan ibadah sosial. Wirid yang Istiqomah untuk menyebut-nyebut asma atau kalimat atau kalam Allah (dzikir), membaca kalimat kitab suci atau ilmu murni, ritual wajib atau sunnah akan menumbuhkan virus qudsi. Dia menghidupkan, menyehatkan, memperbaiki dan menguatkan kembali setiap organ tubuh manusia, baik organ tubuh maupun organ spiritual, khususnya organ spiritual. Virus suci ini akan menjadi medan maghnet dan atmosfir tubuh manusia. Dia akan menjadi pelindung diri dari segala hal yang distruktif atau merusak.
Virus suci ini akan menarik rizki dan berbagai jenis energi positif dan malaikati. Dengan virus qudsi ini performa seseorang akan menjadi anggun dan menawan juga berwibawa. Sehingga kita sangat penting untuk mendapatkan dan memilikinya bahkan sebanyak-banyaknya.

C. Penyebaran Virus Qudsi.
1. Penyebaran dan Penularan secara Umum.
Penyebaran virus qudsi ala Rasulullah Saw, secara umum, melalui tiga media: aura, udara dan suara. Dengan pernyataan sang Rasul yang cukup simpel.
عليكم بمجالسة العلماء واستماع كلام الحكماء،
لأن الله تعالى يحي القلب الميت بنور الحكمة،
 كمايحي الأرض الميتة بماء المطر . الحديث .
" Hendaklah kalian duduk-duduk dengan para ulama' (orang-orang yang banyak ilmunya) dan mendengarkan kata-kata para hukama' (orang-orang yang banyak hikmahnya). Karena sesungguhnya Allah SWT, dalam menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagai mana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan". Al hadits.
Juga hadits-hadits yang lain yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan orang-orang 'aaliim.
a. Duduk-duduk dengan para ulama'.
Manfaat duduk-duduk dengan para ulama' bagi penyebaran hikmah.
- Ulama' (para ilmuwan juga memiliki banyak hikmah).
- Hikmah memiliki gelombang spiritualmagnetik, yang memancarkan cahaya radiasi ke sekelilingnya.
- Gelombang spiritualmagnetik Al hikmah, bisa juga menyebar melalui sentuhan badan, khususnya bersalaman (mushofahah). Hikmah adalah salah satu dari virus qudsi, yang merupakan kristalisasi dari ilmu dan pengetahuan yang didapat oleh seseorang karena Istiqomah dalam membaca dan meneliti. Virus suci ini masuk ke dalam otak atau akal intelektual. Sehingga menggerakkan afeksi dan psikomotorik untuk melakukan hal-hal yang terpuji dan robbani.
Jenis virus qudsi berikutnya adalah barokah. Barokah ini muncul karena Istiqomah dalam ibadah, khususnya yang berbentuk aurod kalamiyah, seperti; dzikir kalimat-kalimat thoyibah, ayat-ayat atau surat-surat dari Al Qur'an, atau sholawat nabi.
Sebagai virus suci barokah memiliki gelombang spiritual magnetik yang bisa menyebar melalui cara vibrasi dan radiasi ke obyek di area sekitarnya.
Sedangkan jenis yang ke tiga dari virus qudsi adalah karomah.
Karomah sebagai virus qudsi terwujud karena Istiqomah dalam ibadah sosial. Seperti: berjuang untuk kemanusiaan, bersedekah, membantu orang yang lemah dan Khidmah keagamaan.
Karomah biasanya berupa kemampuan pribadi yang bersifat unik dan spesifik. Materi lembut karomah, juga merupakan energi yang memacar dan bersifat spiritualmaghnetik. Yang bisa berkembang dan menyebar ke obyek di sekitarnya. Khususnya
yang berupa efek positifnya. Duduk-duduk dengan yang memiliki banyak ilmu (hikmah), yang memiliki barokah dan karomah. Memungkinkan terjadinya penyebaran virus qudsi : melalui pandangan mata, sentuhan tangan, dan radiasi aura.

 Pandangan mata. 
Orang yang memandang  dengan penuh hormat dan kasih sayang terhadap wajah seorang yang banyak ilmunya ('aliim), bisa mendapatkan pencerahan agung, berupa perubahan sikap mental dan perilakunya. Karena pancaran aura wajah orang tersebut, khususnya dari kening, sebagai pusat aura di wajah.

Sentuhan kulit
Khususnya tapak tangan, juga kulit yang lainnya. Sangat besar terjadinya penularan virus qudsi. Bahkan dengan bersalaman, (saling menyentuhnya dua tapak tangan) akan terjadi peluruhan dosa-dosa dan keburukan pribadi seseorang.
Sentuhan kulit, dari tapak tangan orang 'alim, khususnya yang sanad ilmunya bersambung sampai dengan Rasulullah akan dapat bertahan sampai dengan beberapa generasi yang pada saatnya akan membuahkan 'indukan' hikmah atau berkah atau karomah yang unggul dan unik. Sebagai virus qudsi; hikmah, barokah dan atau karomah Rasulullah yang teralirkan melalui mushofahah (bersalaman), mampu bertahan hingga 40 generasi, begitu pula yang berasal dan melalui syekh Abdul Qodir Jaelani.

 Radiasi dan Vibrasi Aura.
Radiasi atau pancaran energi dari partikel aura, Dan vibrasi atau getaran energi partikel aura sangat besar pengaruhnya terhadap obyek yang berada di dalam medan magnetik seorang 'aaliim (ahli ilmu), 'abiid (ahli ibadah) atau mujahid (pejuang). Maka karena radiasi atau vibrasi hikmah, barokah maupun karomah  orang seringkali berdekatan dengan beliau akan mendapatkan berbagai kebaikan. Khususnya yang bersifat moral dan spiritual.

 b. Mendengarkan Kalam ahlul hikmah.
Seringkali Kalam ahlul hikmah bersifat baligh (singkat, praktis dan mengena), lebih sering bergaya ijaaz. Berbeda dengan gaya bahasa para ulama' yang kebanyakan lebih bergaya ithnab (uraian kata lebih terinci dan meluas). Kalam hikmah, atau Kalam yang baligh (tepat sasaran), sebagai mana firman Allah dalam kitab suci Al-Qur'an, yang memiliki uslub Al-hakiim (gaya bahasa penuh hikmah), lebih mengena di hati dan lebih kondusif untuk menempel menghidupkan virus qudsi yang berupa hikmah. Dengan masuknya hikmah di dalam hati (jiwa), seseorang yang terdorong berbuat baik, atau beramal shaleh, baik secara spiritual maupun secara sosial.
Kalam hikmah yang membawa banyak virus qudsi atau virus suci di dalam Al Qur'an seringkali disebut sebagai; qoulan kariima, qoulan layyina, qoulan tsaqila, dan qoulan sadiida. serta qoulan baligho.
Penyebaran virus suci atau virus qudsi dari Kalam hikmah, melalui getaran gelombang suara (vibrasi), baik melalui media atau tanpa media (langsung face to face), bisa saja terjadi. Hanya saja mendengar suara langsung face to face, akan lebih kuat pengaruhnya terhadap jiwa,  karena adanya tambahan energi dari aura positif pemilik suara.
Sapaan Salam.
Secara khusus sapaan yang diajarkan oleh Rasulullah adalah ucapan salam khas. Yaitu sebuah sapaan yang berisi do'a, penyebaran Asma Allah, "Assalaam", yang mengandung wujud virus qudsi yang paling qudus yang bersifat mendamaikan dan mensejahterakan.

2. Penyebaran dan Penularan Khusus.
Secara khusus Rasulullah menyebarkan virus qudsi itu dengan konsep integral (menyatu) antara tarbiyah (pendidikan) dan dakwah (penularan dan penyebaran), dalam sebuah spirit kukuh, aktif dan inovatif.
Konsep praktis penularan dan penyebaran tersebut, meliputi: bai'at dan talqin, tahammul dan ada' , silsilah dan sanad.
Bai'at dan talqin.
Dua istilah ini, lebih akrab dipakai oleh para pengkaji ilmu tasawuf (ilmu kerohanian dalam Islam).
Bai'at adalah pengajuan niat suci seorang murid untuk mengambil barokah (sebagai virus qudsi), dari 'sang rasul'. Sedangkan talqin adalah pengajaran dan 'penularan' dari sang rasul
(Rasulullah), atau para guru (syekh) sebagai pelanjut tugas pendidikan Rasulullah.
Tahammul dan Ada'.
Kedua istilah ini lebih akrab dipraktekkan di dunia kajian ilmu hadits. Ilmu tentang informasi terkait praktik keislaman oleh Rasulullah dengan para muridnya (para sahabat).
*Tahammul* adalah penerimaan ilmu oleh seorang murid, sedangkan Ada' adalah penyampaian informasi, ilmu dan berita oleh sang rasul sebagai guru. Apa saja yang disampaikan oleh guru dan diterima oleh murid dari Rasulullah adalah sebuah virus qudsi yang sangat produktif untuk membuat seseorang menjadi Sholeh dalam pengertian yang sangat luas dan mendalam.
Sedangkan
silsilah dan sanad adalah sebuah sistem jaringan penularan dan penyebaran virus suci (virus qudsi). Silsilah adalah mata rantai penyebaran dari guru pertama (dari Rasulullah sampai guru kita), sedangkan sanad adalah mata rantai penerimaan virus qudsi dari murid terakhir sampai murid pertama (murid Rasulullah).
Sistem penularan dan penyebaran vq, secara khusus tersebut dibalas lebih mendalam dalam ilmu tarekat, sebagai kajian praktis dalam ilmu tasawuf.

D. PENUTUP
Kebalikan dari virus Corona dan virus pada umumnya, virus qudsi bersifat memperbaiki, menguatkan dan bahkan menghidupkan. Sebagai mana juga perbedaan dan kontradiksi antara unsur malaikati dengan unsur syaithoni.
Virus qudsi adalah pancaran dan limpahan (faidl), unsur robbani yang bersifat malaikati.
Yang terpancar dari spirit iman yang tergerakan dengan amal sholeh yang dilakukan dengan Istiqomah, yang biasanya disebut dengan istilah hikmah, barokah dan karomah.
Virus qudsi sangat penting untuk kita dapat kan dan kita sebarkan.
Rasulullah memberikan panduan untuk mendapatkan dan menyebarkan virus qudsi dengan mujalasatul ulama' dan istima' kalam hukama'. Mushofahah, dan juga  nadhru wajhul 'aaliim (memandang wajah orang 'aliim).
Semoga bermanfaat dan berkah untuk semua.
Kelutan, Nganjuk, 31 Mei 2020.
Abdullah Kharisudin Aqib
Read more…

Kepribadian Seorang Muslim

Kepribadian Seorang Muslim
Oleh: Abi Kharisudin Aqib.

A. Pendahuluan
Seorang yang beragama Islam (muslim), adalah seorang yang menjadikan Islam sebagai pakaian (akhlak bagi jiwanya), sehingga akhlak atau kepribadiannya adalah gambar dari agama Islam tersebut. 
Sehingga kepribadian yang harus merupakan gambaran dari agama tersebut secara menyeluruh adalah meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, yaitu; prinsip hidup, pola hidup, sikap hidup dan cara hidup, yang keempat empat harus merupakan gambaran dari agama Islam yang selalu dan senantiasa dikenakannya di dalam menjalani hidup dan kehidupan. Inilah ringkasan dari gambaran kepribadian seorang muslim yang kaaffah tersebut.

B. Kepribadian Seorang Muslim 
Seorang muslim yang baik dan taat, pasti memiliki 4 hal yang membentuk kepribadiannya, yaitu;  prinsip hidup, pola hidup, sikap hidup dan cara hidup, yang mencerminkan karakteristik agama Islam. Dengan uraian ringkas sebagai berikut;
1. Prinsip Hidup Seorang Muslim.
Ada empat prinsip dasar yang harus dipegangi oleh seorang muslim, sehingga dirinya menjadi profil manusia yang pantas disebut sebagai seorang muslim. Yakni Rahmatan Lil 'aalamiin (menyebarkan kasih sayang kepada seluruh alam), ya'lu wa laa yu'laa 'alaih (tinggi dan tidak ada yang melebihi). Kaaffah wa syamilah (sempurna dan serba ada), dan ummatan wasaton (generasi yang modern dan moderat).
a. Seorang muslim harus memiliki prinsip hidup akan selalu menebarkan rahmat Allah kapan saja dan dimana saja. Rahmat dalam pengertian kasih sayang maupun sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk kehidupan. Karena memang Islam dan pembawanya (Rasulullah), diutus adalah sebagai wujud kasih sayang Allah pada seluruh alam.
b. Seorang muslim seharusnya memiliki prinsip hidup sebagai mana karakter agama Islam, yaitu ya'lu wa la yu'laa 'alaihi (punya semangat untuk menggapai prestasi dan prestise terbaik), pada bidang dan keahlian masing-masing. Sebagai tanda syukur atas anugerah Allah SWT.
c. Seorang muslim seharusnya memiliki prinsip hidup serba bisa. Terlibat aktif dalam berbagai bidang kehidupan, khususnya bidang keahlian kita masing-masing. Pengetahuan umum, pekerjaan sehari-hari juga pengetahuan serta amaliah keagamaan dasar (fardlu 'ain), harus dikuasai dengan baik.
d. Prinsip hidup yang harus dipegangi dengan baik oleh seorang muslim adalah berusaha untuk senantiasa menjadi generasi yang modern dan moderat (ummatan wasaton). Modern dalam pengertian bisa menerima pembaharuan dengan selektif dan bijaksana, juga mampu istiqomah dalam prinsip hidup dan peradaban yang luhur nan mulia. Moderat dalam pengertian bersikap sederhana (tawasut) dalam kehidupan dan pertengahan dalam pemikiran. Berkeseimbangan (tawazun) dalam pertimbangan dan disiplin (i'tidal) dalam menghukumi diri sendiri maupun orang lain.
2. Pola Hidup Seorang Muslim.
Seorang muslim yang baik seharusnya pola hidupnya memiliki pola yang jelas, baik dan sesuai dengan ajaran Islam yang dipraktekkan oleh utusan Allah, sang profil figur teladan.
Pola hidup di sini setidaknya meliputi lima hal, yaitu; pola pikir, pola makan minum, pola tidur bangun, pola bermasyarakat dan pola beribadah.
a. Pola pikir seorang muslim adalah sumber kekuatan yang akan membentuk karakter dan bahkan nasib nyata seorang manusia. Maka seorang muslim, bentuk dan cara berpikirnya harus selaras dengan agama Islam itu sendiri, yaitu; positif, konstruktif, solutif, obyektif dan transendental (4 if dan 1al).
1). Pola pikir yang positif, artinya seorang muslim kalau berfikir harus selalu yang baik, berprasangka atau menduga juga harus selalu yang baik. Selalu optimis, dan percaya diri serta yakin bahwa Allah selalu mengawal, membimbing dan mengasihi diri kita.
2). Pola pikir konstruktif.
Berarti kalau berfikir,  selalu memikirkan agar sesuatu hal menjadi baik atau bahkan lebih baik. Atau tidak memikirkan sesuatu hal untuk menjadi rusak atau menjadi jelek dan hancur (distruktif). Baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.
3). Pola pikir solutif.
Adalah kebiasaan berfikir untuk mencari solusi (jalan keluar). Tidak berfikir mencari biang keladi atau kambing hitam. Tetapi berfikir spontan untuk bagaimana jalan keluar (solusinya).
4). Pola obyektif 
Adalah pola pikir jujur (Shiddiq) dan ilmiah. Tidak bias dan tidak condong pada hawa nafsu dan kepentingan tertentu. Pola pikir obyektif ini merupakan syarat mutlak yang diperlukan bagi seorang pemimpin.
5). Pola pikir transendental.
Adalah pola pikir yang selalu dan cenderung untuk segera kembali kepada Allah SWT, dalam setiap persoalan yang dihadapinya.
b. Pola makan minum
Pola makan minum seorang muslim, seharusnya jelas sebagai mana bimbingan Allah dan tauladan sang rasul. Yaitu; halalan, Thoyyiban dan ghoiru isyrof. Serta sering-sering puasa
 *- halaalan*.
Seorang muslim, hanya makan atau minum yang halal (baik dari segi dzatnya, cara memperolehnya dan atau cara mengolahnya). Halal dalam arti disahkan menurut syari'at Islam.
*- Thoyyiban*.
Dalam pengertian; baik,  enak, bergizi dan sesuai dengan kebutuhan badan kita.
Seorang muslim, hanya makan yang secara adat, budaya luhur dan higienis (kesehatan dan gizi), baik dan pantas untuk dikonsumsi.
*- Ghoiru Isyrof* 
Pola makan minum seorang muslim yang baik adalah tidak berlebih-lebihan, dalam arti melampaui batas kebutuhan dan kemampuan dalam makan dan minum. Kalau bisa mengikuti pola makan minum sang rasul teladan (tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang), atau membagi kapasitas perut menjadi tiga bagian; untuk makanan, minuman dan udara.
*- Sering-sering puasa*
Seorang muslim yang baik selalu berusaha mengikuti pola makan minum, sang rasul. Yaitu sering-sering puasa, di luar puasa wajib. Seperti puasa hari-hari istimewa;  kelahiran, hari diangkat amal, hari asyura dan lainnya.
 *c. Pola Tidur Bangun*
Seorang muslim yang baik mengambil pola tidur bangun dengan baik dan istiqamah, sebagai mana Sunnah Rasulullah. Yaitu cepat tidur dan cepat bangun. Atau kalau terpaksa lambat tidur dan cepat bangun.
Cepat tidur dan cepat bangun dalam arti, tidak tidur terlalu larut malam, tidur sekitar jam 10 dan bangun sekitar pukul 3.30 dini hari. Dan biasa tidur siang sangat sebentar (qailulah), sekitar 15-30 menit. Tidak tidur, setelah subuh dan menjelang magrib. Tidak membiasakan pola tidur lambat tidur lambat bangun, apalagi pola tidur cepat tidur lambat bangun.
*d. Pola Ibadah*.
Seorang muslim yang baik dalam beribadah (ritual keislaman) selalu memperhatikan pola 4ah.
Yaitu; Ilmiah, mengikat Sunnah, Istiqomah, dan tuma'ninah. 
- ilmiah, ibadah harus dilakukan dengan mengikuti kaidah keilmuan yang terkait. Setidaknya ilmu aqidah, ilmu syari'ah dan ilmu akhlak tasawuf.
- mengikuti sunnah Rasulullah, dalam pengertian mengikuti contoh dan teladan praktek ibadah sang rasul. Setidaknya tidak menyalahi peraturan dan kebiasaan beliau.
- Istiqomah, agar berdampak akhlaki, dalam beribadah harus dilakukan dengan Istiqomah (consisten dan komitmen). 
- tuma'ninah, Atau tenang dan hening sejenak seraya menghayati makna kalimat dan isyarat perbuatan ibadah. Adalah sebuah syarat agar ibadah kita lebih terasa.
Karena ibadah dengan pola 4 Ah, tersebut ibadah akan diterima oleh Allah SWT dan berbekas dalam kepribadiannya, dan menjadikan pelakunya berakhlak mulia.
*e. Pola Bermasyarakat*
Seorang muslim yang baik pastilah anggota atau bagian dari masyarakat yang baik pula. Karena dia tidak hanya menjaga hubungan baik dengan Allah saja, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Dan pola hubungannya dengan sesama manusia, khususnya di dalam bermasyarakat adalah;
Sopan, santun, eng ngarso sung tulodho, eng madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Menghormati yang lebih besar dan menyayangi yang lebih kecil. Menjaga tradisi lama yang masih baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih relevan.
 *Sopan* adalah mengikuti aturan dan prosedur. *Santun* berarti pembawaan yang sederhana dan cenderung merendahkan diri. *Eng ngarso sung tulodho* artinya jika dirinya sebagai pemimpin utama atau tokoh selalu bisa menjadi contoh dan teladan bagi masyarakatnya.
*Eng madyo Mangun Karso* berarti kalau berperan sebagai seorang tokoh menengah, bisa menjadi inspirator dan motivator bagi semua pihak. *Tut Wuri Handayani* berarti, jika menjadi anggota masyarakat biasa, maka selalu taat dan mendukung kepada program pimpinan.
*3. Sikap Hidup*
Dalam menyikapi hidup dan kehidupan ini, seorang muslim yang baik memiliki pola yang jelas, yaitu; sasu, rokho, qotasrid dan dua tawa.
Sasu artinya sabar ketika menerima ketidak nyamanan, syukur ketika menerima kenyamanan dan kebaikan. Rokho artinya dalam menyikapi sesuatu yang belum pasti , maka selalu mengembangkan sikap Rojak (optimis), dan khouf (pesimis) secara proporsional (bijaksana).
Qotasrid adalah akronim atau singkatan dari qona'ah (menerima bagian diri dengan rela hati), Taslim (menyerah dan tunduk dengan rela hati), atas ketentuan Allah, dan Ridlo, artinya menerima dengan hati bangga atas segala bentuk apapun yang dari Allah SWT.
*4. Cara Hidup*.
Seorang muslim yang baik cara hidupnya, pasti mengikuti Sunnah (tradisi dan kebiasaan), sang teladan agung (Rasulullah Muhammad Saw), dan para guru mulia (pelanjut peran keguruan dan kepemimpinan Rasulullah) dengan baik dan bijaksana.
*C. Penutup*.
Empat hal penting itulah gambaran teoritis, kepribadian seorang muslim yang baik dan benar-benar merupakan cerminan dari agama Islam indah dan mempesona itu. Sehingga dia pantas disebut sebagai muslim (orang yang beragama Islam). Beragama dalam pengertian mengenakan ajaran Islam sebagai pakaian (ageman jw.) dalam kehidupannya sehari-hari. 
Semoga kita bisa menjadi seorang muslim yang sesungguhnya, sukses selalu, baik di dunia maupun di akhirat dan berkah untuk semua.


Kelutan, 8 Mei 2020.
Kharisudin Aqib
Read more…

Nabi Muhammad SAW Profil Figur Teladan 2

D. Keteladanan Sang Nabi.
Keteladanan (Uswah  Hasanah) adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh manusia untuk memprofil dirinya dalam rangka membentuk karakter dan kepribadiannya. Karena pada umumnya manusia belajar pertama kali adalah  dari melihat,  kemudian meniru dan baru kemudian memodifikasi atau berkreasi.
Para rasul adalah sang teladan agung bagi umatnya, termasuk di dalamnya adalah Rasulullah Muhammad Saw. Bagi manusia di era kerasulan beliau, khususnya kaum yang beriman.  Beliau adalah 'bayangan Allah' yang paling jelas. Bayangan dalam arti akhlak, moral dan kepribadian beliau paling mirip dengan akhlak dan karakter Allah, SWT. Sedangkan semua manusia dititahkan oleh Allah, sebagai Khalifah-Nya (QS Al Amin 30), maka selayaknya semua manusia memiliki akhlak mulia sebagai mana akhlak profil yang diwakilinya, seperti pernyataan beliau "takhallaquu bi khuluqillaah" (saling berakhlak kalian dengan akhlaknya Allah). Untuk melaksanakan perintah tersebut Allah telah memberikan contoh, yakni para utusan-Nya. Sebagai mana firman Allah SWT.
.(لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا)
[Surat Al-Ahzab 21]
Artinya:
"Sungguh ada untuk kalian pada diri utusan Allah teladan yang baik".
Nabi Muhammad Saw adalah teladan agung dan abadi dalam hal akhlak. Sekaligus budi dan pekertinya merupakan solusi atas segala persoalan hidup manusia dan kemanusiaan. Oleh karenanya, Nabi Muhammad adalah teladan umum bagi manusia sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Baik dalam kehidupan pribadi sebagai seorang hamba, kepala keluarga, maupun pimpinan masyarakat.
1. Teladan dalam kehidupan pribadi seorang hamba.
Semenjak usia dini atau sangat muda, beliau sudah sangat relegius, dengan moralitas yang sangat tinggi. Kebiasaan tafakur dan tadzakkur di kala dini hari sudah menjadi pola hidupnya. Sehingga ketika ada sayembara 'masuk Masjidil Haram paling awal' untuk mendapatkan kehormatan meletakkan batu Hajar Aswad pada tempatnya, pasca renovasi, maka beliaulah pemenangnya. Beliau yang semenjak kecil sudah terkenal dengan julukan Al Amin (orang yang sangat terpercaya), menjadi pemenang sayembara tersebut karena tafakur di dekat Ka'bah, di hijir Ismail di waktu dini hari adalah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan beliau.
Sebagai seorang individu dan hamba Allah, beliau sangat 'aabid' (ahli ibadah) lagi zaahid (sangat tidak meterialis), semenjak kecil, muda dan dewasanya, apalagi ketika beliau sudah diangkat menjadi utusan Allah.
Mulai kecil sudah terbiasa tafakur dan tadzakkur di pelataran Ka'bah. Sekitar usia 30 an tahun beliau sudah terbiasa melakukan tahannuts (bertapa) di gua Hira' di Jabal nur, sampai saat beliau berusia 40 tahun beliau tercerahkan sehingga bisa berkomunikasi dengan Jibril sang malaikat pembawa ilmu pengetahuan. Kegemaran beribadah kepada Allah SWT, tidak pernah surut karena kekayaan dan kejayaan beliau, beliau wajibkan dirinya untuk sholat tahajud di samping sholat-sholat yang lainnya. Menjelang akhir kehidupannya, beliau sangat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, sampai kakinya bengkak kalau lagi enjoy bermunajat kepada Allah. Kecenderungan melawan syahwat duniawi sudah menjadi bagian dari dirinya. Akrab dengan puasa dan kelaparan, bahkan konon tidak pernah kenyang, karena prinsip hidup beliau adalah tidak makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Dalam hidupnya, lebih banyak digunakan untuk berpuasa dari pada tidak berpuasanya. Karena setiap  tidak beliau temukan makanan di waktu pagi, maka sekalian beliau berniat puasa. Nabi Muhammad, juga bukan penggemar tidur, bahkan secara pikiran dan rohani, beliau tidak pernah tidur dengan nyaman di tempat yang nyaman. Beliau tidur hanya beralaskan tikar dari daun dan pelepah kurma. Alangkah takutnya beliau kepada Allah, ketika melaksanakan haji wadak, memberikan laporan pertanggungjawaban kepada Allah SWT dengan saksi sekitar 10 ribu orang. Bahwa beliau telah melaksanakan tugas mengajar dan mendidik anak-anak umat Islam.
Beliau hidup sebagai seorang yang miskin atau sangat sederhana. Seluruh harta yang dimiliki dan menjadi kekuasaan nya, jabatan dan seluruh jiwa raganya diberdayakan untuk membuat Allah ridho kepadanya. Sampai beliau wafat tidak meninggalkan harta benda sebagai seorang kepala negara dan agama sekaligus. Sekalipun hanya untuk anak  perempuan dan kedua cucunya yang tercinta.
2. Keteladanan Nabi Sebagai Kepala Keluarga.
Nabi Muhammad sebagai kepala keluarga meliputi lima sub jabatan; suami, ayah, mertua, menantu dan kakek. Ke lima sub jabatan kepemimpinan dalam keluarga tersebut, beliau adalah sebagai teladan bagi kita semua.
Sebagai seorang suami yang bertanggung jawab kepada Allah SWT dan kepada masyarakat, khususnya adalah orang tua istri (mertua), sang nabi adalah sosok yang sangat amanah. Beliau bekerja keras sebagai pedagang, sekalipun istrinya sudah kaya. Kunjungan ke berbagai kota dan negara dilakukannya untuk pemasaran dan pengembangan usaha dagangnya. Mulai kota - kota di sekitar Makkah bahkan di ibukota negeri tetangga, arah Utara Makkah sampai Syam (Syiria), arah ke selatan sampai ke Yaman, dalam tradisi "rihlatassyitaai was shoif" suku Quraisy.
Di samping tetap juga menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga, dengan istri dan anggota keluarga yang lainnya.
Dengan sangat adil dan bijaksana beliau berkomunikasi dengan istrinya, khususnya istri perdananya (Siti Khadijah). Beliau tidak membagi cinta, apalagi berpoligami ketika istri tercinta ini masih ada. Dididiknya para istri, khususnya istri pertamanya. Beliau adalah orang yang pertama kali menerima dakwah sang Nabi, dan beriman kepadanya. Bahkan menjadi pendukung dakwah yang pertama dan paling utama. Dia korbankan seluruh hartanya sampai real dan dinarnya yang terakhir. untuk perjuangan dan dakwah Rasulullah Saw sang suami tercinta.
Sebagai seorang ayah dengan 7 orang anak, beliau sangat faham dan bijaksana dalam mengasuh dan mendidik putra-putrinya. Beliau adalah sang ayah teladan. Sekalipun dari ke 7 putra-putrinya, hanya satu orang yang sempurna menurunkan generasi suci penyambung darah perjuangan para nabi, yakni Sayyidah Fathimah Az-Zahra'. Rasulullah mengasuh dan mendidik putra-putrinya dengan cinta dan kasih sayang illahi, bukan kasih sayang materi. Atas bimbingan Wahyu sang dan seluruh keluarga, istri, anak dan dzurriyah beliau adalah para zahid, khususnya, Siti Fathimah, Ali bin Abi Thalib (menantu), Husain (cucu), dan Ali Zainal Abidin (cicit), adalah para Zahid (orang yang tidak terpengaruh oleh materialisme) yang agung. Karena contoh dan pendidikan sang ayah dan kakek yang mulia.
Demikian juga Sang Nabi adalah mertua teladan sepanjang zaman. Bagaimana beliau menghormati dan memuliakan sang mantu (Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib). Ketika kedua sang menantu ke kediaman beliau, disambutnya dengan segala hormat, bahkan dibeberkan untuknya serban kesayangannya untuk duduknya sang menantu. Juga selalu dinasehati putrinya untuk menjadi istri yang shalihah (taat, dan menyenangkan terhadap suaminya).
Read more…

SHOLAWAT ULUL ALBAB