|
Selamat Datang di Metafisika Center
KEMBALI KEPADA FITRAH HAKIKI MENUJU RIDLO ILAHI Oleh :Kharisudin Aqib السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. لااله الاالله. الله أكبر. الله أكبر ولله الحمد. ألحمد لله , الحمد لله الذي أنعمنا بنعمة الإيمان والا سلام , والذي امرنا بطاعته وطاعة رسول الله سيد الجن والانام , أشهد ا ن لااله الاالله , وأشهد ان محمدا عبده ورسوله شها دة تنجى قائلها يوم لا ينفع مال ولا بنون الا من اتى الله بقلب سليم,أللهم صل وسلم وبا رك على سيدنا محمد وعلى أله وا صحا به واهل بيته الكرام . قال الله تعالى فىالقران الكريم أعوذ بالله من ا لشيطان الرجيم: سنريهم أيتنا فىالافاق وفى انفسهم حتى يتبين لهم انه الحق من ربهم. أما بعد: فياأيها الناس, ا تقوالله حق التقوى, ولا تموتن الا وأنتم مسلمون. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah, Tiada kata yang patut kita ucapkan untuk mengawali khutbah kali ini, kecuali ucapan Alhamdulillahi Rabbil “Alamin,karena hanya dengan rahmat-Nya kita masih diberikan kesempatan menghirup udara segar di pagi yang ceria ini, dalam keadaan iman dan islam . Semoga rahmat dan karunia Allah Swt ini tetap menyertai kehidupan kita, bahkan sampai menghadap kehadirat-Nya. Amin. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Selanjutnya hal terpenting yang harus senantiasa kita perhatikan adalah stabilitas ketaqwaan kita kepada Allah Swt. Karena hanya dengan modal taqwa inilah kita akan dapat mencapai kebahagiaan hidup yang hakiki, yakni kebahagiaan hidup yang lahiriyah maupun batiniyah, serta kebahagiaan hidup di dunia maupun di akhirat. Taqwa dalam arti menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua yang menjadi larangan-Nya. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah, . Kalau kita cermati ajaran agama kita khususnya tentang hari Raya Idul Fitri berikut dengan acara puasa satu bulan penuh yang mendahuluinya, ataupun dengan istilah “Idul Fitri” adalah suatu amaliyah atau aktifitas keagamaan yang sangat erat dengan nilai-nilai moral dan kemasyarakatan.’Idul Fitri adalah suatu ungkapan yang bernuansa simbolik. Yang secara bahasa berarti perayaan fitrah atau kembali ke fitrah. Untuk itu marilah kita kenali apa fitrah kita dan bagaimana kita dapat kembali ke fitrah. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Fitrah yang secara bahasa berarti asal kejadian atau sifat-sifat bawaan. Tetapi secara praktis dapat dikategorikan dalam dua pengertian; yaitu Kecenderungan dasar dan sifat dasar. Dalam arti kecendferungan dasar , manusia memiliki dua fitrah, yaitu fitrah bertuhan dan fitrah berkelompok (sosial). Sedang fitrah dalam arti sifat dasar ialah; fitrah kemalaikatan, fitrah kasysithonan , fitrah kebinatang buasan dan fitrah kebinatang jinakan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah, .secara naluriah (potensi dasar), manusia memiliki kecenderungan untuk menyandarkan dan menggantungkan kehidupannya pada sesuatu yang ada di luar dirinya . (karena secara biologis manusia adalah tercipta dari al-‘alaq (sesuatu yang tergantung), bahkan secara sosiokulturalpun manusia adalah makhluk yang sangat tergantung dengan sesuatu yang ada di luar dirinya. Ia tidak mungkin hidup dengan sendirinya. Sehingga menimbulkan ketergantungan secara psikologis. Tempat bergantung itulah yang dipentingkan, bahkan disakralkan yang selanjutnya disebut dengan Tuhan, yang merupakan penyebab utama (primary causa) atas seluruh sebab dan merupakan penyebab akhir dari seluruh kejadian di seluruh alam. Dan sebagai tempat bergantung atas seluruh nasib dan kejadian yang menimpa semua makhluk. Yang secara naluriyah dipertanyakan oleh setiap manusia yang berakal sehat, siapa sebenarnya tempat bergantung yang hakiki, atau yang menjadi penyebab terakhir dalam semua kejadian atau yang menjadikan semua yang ada ini. Maka pada agama yang terakhir, Allah memberikan jawaban atas pertanyaan yang bersifat filosofis tersebut dalam al-Qur’an surat al-Ikhlas ( 114 )., 1-4. untuk menjawab pertanyaan tentang siapa Tuhan yang dipertanyakan oleh para pemikir sejak awal kejadian manusia. قل هوالله احد. الله الصمد.لم يلد ولم يولد. ولم يكن له كفوا احد. Artinya : “Katakanlah Dia (yang dicari-cari itu) adalah Allah yang Esa. Allah yang menjadi tempat bergantung. Yang tidak dilahirkan dan tidak melahirkan. Dan yang tidak ada suatu apapun yang setara dengan-Nya”. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah! Selain naluri bertuhan, manusia juga memiliki naluri untuk cenderung pada kehidupan sosial, bahkan ia adalah makhluk sosial itu sendiri. Secara psikologis dan bahkan biologis manusia membutuhkan kebersamaan dengan jenisnya sendiri. Ia tidak mungkin hidup dan melestarikan species kamanusiaannya tanpa kebersamaan dengan manusia yang lain. Dan memang inilah Sunnatullah terhadap realitas kehidupan di dunia ini. Allah Swt berfirman; ياأيها الناس إن خلقنكم من ذكر وانثى وجعلنكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن اكرمكم عند الله اتقكم Artinya : “Wahai sekalian manusia,sesungguhnya kami ciptakan dari jenis laki-laki dan perempuan dan kami bikin kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian dihadapan Allah adalah yang paling taqwa diantara kalian semua”.QS. Al-Hujurat (49); 13 Dan bahkan Allah telah menetapkan, bahwa di mana saja manusia berada pasti akan ditimpa kehinaan, manakala tidak mambina hubungan yang harmonis baik dengan sesama manusia maupun dengan Allah. Sebagaimana firman-Nya; ضربت عليهم الذ لة اينما ثقفوا الا بحبل من الله وحبل من الناس وباؤ بغضب من الله . ال عمران :112 Artinya : “kenistaan pasti akan menimpa dimana saja (mereka) berada, kecuali dengan berhubungan dengan Allah dan berhubungan dengan manusia.(Demikian juga) kemurkaan dari Allah”.QS. Ali- Imran (3); 112. Dari pamahaman firman Ilahi tersebut dapatlah dikatakan, bahwa dalam arti kecenderungan dasar manusia baik yang berupa kecenderungan bertuhan (beragama), maupun kecenderungan bermasyarakat, adalah fitrah hakiki yang harus senantiasa dipupuk dan bahkan ditingkatkan kwalitasnya. Sehingga dapat dikatakan, bahwa kembali kepada fitrah, adalah kembali meneguhkan hati bahwa kemusyrikan dan kekufuran (pengingkaran akan Tuhan) adalah menyalahi fitrah. Demikian juga individualisme dan segala bentuk ananiah (egoisme) adalah sesuatu yang bertentang dengan fitrah. Dan dengan kembali kepada fitrah ini manusia akan mendapatkan kebahagiaan hidup yang hakiki dan mendapat ridlo ilahi. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah. Fitrah dalam arti sifat dasar atau tabi’at, menurut hujjatul islam Imam Al-ghazali, manusia memiliki sifat dasar yang dengan sifat tersebut manusia akan mengarahkan orientasi hidupnya dan sekaligus gaya hdupnya. Keempat sifat dasar tersebut adalah; sifat kebinatang jinakan (bahimiyah), sifat kebinatang buasan (sabu-iyah),sifat keiblisan (syaithoniyah), dan sifat kamalaikatan (malaikatiyah). Dan keempat sifat tersebut muncul dari sifat bawaan kedua subtansi manusia. Yakni jasad dan ruh. Jasad memancarkan sifat kebinatangan, dan ruh memancarkan sifat kemalaikatan. Sedangkan sifat keiblisan adalah tabi’at integratif antara kedua substansi dasar manusia tersebut. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah. Sifat kebinatang jinakan (bahimiyah), mendorong manusia untuk menuruti nafsu kebinatang jinakan, seperti; suka makan, minum, tidur dan sex. Dan jika seseorang telah didominasi oleh nafsu ini, maka orientasi kehidupannyapun diarahkan pada terpenuhinya kegemaran nafsu ini. Yakni hidup untuk mengejar kenikmatan makanan, minuman, santai dan sex. Fantasi yang menuntun dirinya berbuat adalah fantasi kebinatang jinakan tersebut. Sedangkan orang yang didominasi oleh nafsu kebinatang buasan (sabu-iyah), maka ia akan cenderung pada sifat kebinatang buasan yang diantaranya; adalah suka berbuat anarkhis, bertengkar dan berperilaku yang distruktif bahkan bahagiapun menurut fantasi dan angan-angan dirinya adalah manakala tersalurkannya nafsu kebinatang buasan tersebut. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah. Kedua sifat tersebut (bahimiyah dan sabu’iyah) adalah sifat yang baru. Bukan sifat asli manusia sebagai makhluk yang paling mulia. Keduanya merupakan dorongan kecenderungan makhluk jasmaniyah. Padahal sebenarnya manusi adalah makhluk ruhaniyah yang berjasad. Ruh- manusialah yang merasakan bahagia dan sengsara. Dialah yang menerima beban hukum (taklif), dia pula nanti yang akan mendapatkan balasan amal baik dan buruknya. Maka ketika seseorang terbuai dengan kesenangan badaniyah tersebut, sebenarnya dia telah merendahkan dirinya dan mengotori ruhaniahnya. Padahal hanya manusia yang berhati salim (bebas dari dosa-dosa dan penyakit- penyakit), yang dapat diterima untuk menghadap Allah Swt. يوم لا ينفع مال ولابنون الا من أتى الله بقلب سليم . Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah. Pada dasarnya setiap manusia juga memiliki sifat keiblisan. Yakni sifat picik, licik, sombong dan hasut. Karena sifat ini merupakan sifat akumulasi dari kepentingan kebinatangan dengan kemalaikatan. Maka manusia yang didominasi oleh sifatnya nafsu ini, akan menampakkan kebaikan sementara itu ia menyembunyikan kebusukan-kebusukan. Dia bungkus kepentingan-kepentingan kebinatangannya, dengan penampilan sifat kemalaikatan. Dengan demikian, maka penyakit nifaq (kemunafikan) inilah yang menempel pada pribadinya. Ketiga tabi’at buruk itulah yang mendominasi kehidupan kebanyakan manusia, sehingga benarlah firman Allah; ان النفس لامارة بالسوئ الا ما رحم ربى ان ربى غفور الرحيم. “ Sesungguhnya Nafs itu benar-benar memerintahkan keburukan, kecuali nafs yang dirahmati Tuhanku .Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah. Puasa adalah solusi paling tepat bagi manusia yang ingin membersihkan jiwanya dari pengaruh dan dominasi sifat-sifat rendah manusia tersebut. Karena dengan puasa dorongan nafsu yang rendah tersebut dapat teratasi. Nutrisi untuk menggemukkan sifat kebinatangan dan keiblisan dapat dihambat. Sehingga sifat kemalaikatan dapat bangkit dan tumbuh subur yang selanjutnya akan dapat mengendalikan nafsu-nafsu yang rendah tadi untuk kepentingan kesejahteraan yang hakiki yakni ridlo Ilahi. Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan menurut sifat kemalaikatan. Yakni sifat tha’at dan patuh kepada Tuhannya, sifat senang menghambakan diri kepada Tuhan dan nikmat dalam aktifitas-aktifitas keruhaniyan. Dan jika seseorang telah didomonasi oleh sifat kemalaikatan, maka ia akan merasakan nikmatnya iman, nikmatnya tha’at dalam menjalankan perintah Allah. Dan akan merasa jijik dan muak jika mengetahui kemungkaran dan kefasikan, serta seluruh yang berbau hedonistik dan kebinatangan. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu, Ma’asyiral Muslimin Wal Muslimat Rahimakumullah. Hari ini kita kembali kapada fitrah hakiki kehidupan kita . kita kembali kepada fitrah kemalaikatan yang merupakan asal dari fitrah hakiki kita. Marilah kita jaga kemurnian fitrah kita, dengan senantiasa menjaga keharmonisan hubungan kita dengan Allah dan dengan sesama manusia. Kita jaga fitrah hakiki kita dengan mengendalikan dorongan nafsu kebinatangan dan keiblisan yang ada pada diri kita, dan kita menangkan dorongan nafsu kemalaikatan kita. Kita padatkan aktifitas dan orientasi kehidupan kita pada transedensi (keterikatan dengan Allah), dan aktifitas-aktifitas yang dapat menggemukan dorongan kemalaikatan kita. Karena seluruh sikap transedensi dan aktifitas kerohanian, akan menyuburkan kahidupan rohaniyah kita, dan begitu juga setiap nutrisi yang dapat menyuburkan dorongan nafsu badaniyah kita akan meningkatkan dorongan untuk menuruti nafsu rendah tersebut. Kiranya inilah khutbah yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfa’at untuk memperoleh kebahagiaan hidup yang hakiki menuju ridlo Ilahi. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم بسم الله الرحمن الرحيم : والعصر ان الانسان لفى خسر الاالذين آمنوا وعملواالصالحات وتوا صوا بالحق وتوا صوابالصبر.وقل رب اغفر وارحم وانت خيرالراحمين خطبة آخر ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. ألله أكبر, ألله أكبر, ألله اكبر. لااله الاالله. الله أكبر. الله أكبر ولله الحمد. ألحمد لله , ألحمد لله الذي أنعمنا بنعمة الإيمان والا سلام وجعلنا من أمة سيد الخلق والانام محمد صلىالله عليه وسلم. أللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وا صحابه الكرام . أما بعد: فيا أيها الناس , إ تقواالله, إ تقواالله حق تقاته , ولا تموتن إلا وانتم مسلمون . اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد والحمد لله رب العالمين . اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات, والمؤ منين والمؤمنات الآحياء منهم والاموات. أللهم سلمنا والمسلمين وعا فنا والمسلمين . اللهم انصر من نصرالدين واخذل من خذل المسلمين واهل طاعتك اجمعين. أللهم أسهل جوارنا بطاعتك وقلوبنا بمعرفتك. وأسغلنا طول حياتنا فى ليلنا ونهارنا والحقنا بالذين تقدموا من الصالحين. وارزقنا كما رزقتهم وكن لنا كما كنت لهم . أللهم لذتنا بالقرب منك ولا تباعدنا عنك. أللهم باعد بيننا وبين النفاق فى جميع احوالنا برحمتك يا ارحم الراحمين . ربنا آتنا فىالدنيا حسنة وفىالاخرة حسنة وقنا عذاب النار, والحمد لله رب العالمين. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته |