.:: Metafisika Center ::.


Halaman Depan
Sunday, 05 September 2010
METAFISIKA CENTER
Halaman Depan
Profil Metafisika Center
Buku Seri Metafisika
Kontak
Kuliah Online
Kajian Tasawuf
TAREKAT
Info Tarekat
Jasa Metafisika
Jasa Metafisika
PESANTREN TERPADU
Profil pesantren
Pesantren Mistiko Informatika
LAZIS YPP D U A
Profil Lazis YPP D U A
Info Lazis
Redaksi Lazis
Formulir Donatur
Syndicate
RISET TEAM METAFISIKA PDF Print E-mail
Written by M Arif Budi S   
Monday, 07 July 2008

 KEBENARAN MAKAM PANGERAN DIPONEGORO

TERNYATA DI SUMENEP-MADURA

 

PRI HIDUP PANGERAN DIPONEGORO DI SUMENEP

I.                   Asal usul Pangeran diponegoro

-          Bapaknya bernama Ontowiryo Hamengkubuwono ke III Asal dari Yogjakarta.

-          Ibunya bernama Mangkorowati asal dari Bangkalan(Madura)istri selir Ontowiryo hamengkubuwono III.

-          Karena adiknya masih kecil maka beliaulah menyandang gelar mewakili adiknya untuk menghadapi keserakahan serta langkah sewenang-wenang orang orang Belanda.;

-          Maka Pangeran Diponegoro mempersiapkan massanya untuk berpikir secara matang.

 


II.                Sebelum pecah perang Pangeran Diponegoro tahun 1825 sempat pangeran Diponegoro membuat siasat dan berpikir menurut perjanjian  di Magelang antara lain :

1.      Nama Gelar Pangeran Diponegoro di serah terimakan kepada Turkijo Jokomatturi untuk dipakai selama perang dan bergerak di bagian barat,disertai putra Pangeran Diponegoro yang bernama Pangeran Diponegoro Muda.

2.      Dengan begitu jelas bahwa siasat perang Pangeran Diponegoro,yang bergerak dari Jogjakarta ke barat di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro asal nama Turkijo Jokomatturi(Panglima perang Pangeran Diponegoro)yang di sertai oleh putra Pangeran Diponegoro(Pangeran Diponegoro Muda).

3.      PAngeran Diponegoro(Turkijo Jokomatturi)dan Pangeran Diponegoro Muda inilah yang di tangkap oleh Belanda,karena siasat penipuan orang orang belanda pada pangeran Diponegoro.

4.      Prof. DR.Sri Sultan Abdurrahman

a.       Beliau sempat dating di Batavia untuk meminta kepada Gubernur Belanda,agar supaya Pangeran Diponegoro(Turkijo Jokomatturi)dan Pangeran Diponegoro Muda di amankan di sumenep.

Permintaan ini di izinkan Gubernur belanda dengan perjanjian empat   mata dan saling menandatangani.

b.      Maka Pangeran Diponegoro(Turkijo Jokomatturi

Dan P.Diponegoro Muda di amankan di Kalimo’ok kecamatan Kalianget,Bekas benteng joko tole.

c.       Pada saat itu suatu kesempata baik bagi Sultan Abdurrahman untuk   

mengeluarkan Pangeran Diponegoro Muda Di gantikan dengan Jiddin(maling sakti dari desa Giring,kec Manding-sumenep-Madura).

d.      Jadi sekarang sudah jelas bahwa yang ada dalam pengamanan belanda  

      di desa Kalimo’ok bukan lagi P.Diponegoro dan P.Diponegoro    

      Muda,melainkan Turkijo Jokomatturi dan Jiddin si maling sakti.

Dan kedua orang inilah yang di asingkan ke makassar,yang akhirnya meninggal dunia dio makassar.

Sebab di asingkan kiemakassar karena laporan serdadu Belanda  menyatakan bahwa Gerakan PAngeran Diponegoro sangat lebat dan tak kalah hebatnya dengan sebelum pangeran diponegoro di tangkap. 

 

Pertanyaan Penulis :

 

Mengapa sejarah nasional tidak mengungkapkan di asingkanya Pangeran Diponegoro  ke sumenep,mungkin ada apa antara orang belanda dengan sejarah Madura.

 

III.             Abdul Hamid

1.      Pangeran Diponegoro Ontowiryo Amirul Mukminin Sayyidin Sido Ing Topo Panoto Gomo.

Seperti di sebutkan di atas nama gelar Pangerasn Diponegoro sudah di pakai oleh Panglima peran Turkijo Jokomatturi sedang Pangeran Diponegoro sendiri memakai gelar Assayyid.penyebar agama islam dan nama inilah yang banyak di kenal oleh orang orang Madura dan jawa timur.

2.      Sesuai dengan tugas yang harus dilaksanakannya bahwasanya-Assayyid bergerak kearah timur, termasuk Jawa Timur dan madura dan ditemani oleh gurunya bernama Syarif Anshori, sekaligus guru batin Sri Sultan Abdurrahman. Disamping itu Assayyid ditemani pula 107 Pasukan Inti Putri Pangeran Diponegoro yang dipimpin oleh Raden Ayu Yudonegoro adalah putri Ontowiryo Hamengkubuwono ke III. Sedangkan Pasukan Panah Putri Pangeran Diponegoro di bawah pimpinan Dewi Ratih. Isteri pertama Pangean Diponegoro bernama Ratnaningsih, asal dari Pamekasan-Madura. Isteri kedua Pangeran Diponegoro bernama Howijo putri dari Sri Sultan Abdurrahman Sumenep-Madura.

 

Diketemukannya kuburan Pangeran Diponegoro di sumenep, berdasarkan :

  1. Prasasti Bahasa Sandi

  2. Prasasti Relief

  3. Prasasti Empat buah Batu Pualam

  4. Prasasti Delapan buah Batu Sandi

  5. Prasasti Sepuluh buah Batu Jeruk

  6. Prasasti Tulisan di Batu Nesan

  7. Prasasti Samaraga pada sebilah papan kayu jati

  8. Prasasti Sejarah Berentasi

  9. Prasasti Sejarah Tertulis dan lain-lain

 

Makna Bahasa Sandi

 

Berdasarkan delapan kelompok petugas jaga yang diketuai oleh satu orang Laporan dan diwakili oleh satu Kabayan, antara lain:

  1. Ji Sengnga = senga’ = ketahuilah

  2. Ji Buddi       = neng ebudiyan reya =di belakang saya ini

  3. Ji Nangger = beda bungkana kaju manger = ada pohon kayu nangger

  4. Ji Makam   = e siddi’na bada makam = di sekitarnya ada kuburan

  5. Ji Jaja Abdur = koburanna oreng se dikjaja= kuburan orang-orang yang dikjojo

  6. Ji Jaja Bangsa = bakal nguasaana = akan menguasai (tanah jawa)

  7. Tep Sumenep = nama kabayan artinya sengko’ neteba da’ oreng-oreng sumenep = saya titip kepada orang-orang sumenep

  8. Ji Sakaran  = sekkare = bawakan bunga = ziarahlah kuburan itu

  9. Ji Langgar = mon tak sempat ngeba’angin hadiah kalanggar, maksudnya tolonglah pak Kiyai doakan rohaniah Pangeran Diponegoro dan Syarif Amshori serta pengikutnya yang telah pulang kerahmatullah.

 

Makanya masing-masing pasasti yang perlu kita ketahui:

 

  1. Prasasti Bahasa Sandi: Menunjukan bahwa kuburan orang-orang penting, Pangeran Diponegoro ada dibelakang kubah Sri Sultan Abdurrahman beserta gurunya Syarif Anshori sekaligus guru Sri Sultan Abdurrahman, lagi pula sebagai penitipan Sri Sultan Abdurrahman kepada orang-orang di Sumenep untuk diziarahi.

  2. Prasasti Empat buah Batu Pualam: menunjukkan bahwa benteng-benteng penggerak perjuangan dan perlindungannya ada empat kelompok antara lain sebagai berikut:

a.       Kelompok dipimpin oleh Turkijo Jokomatturi (Pngeran Diponegoro) dan Pangeran Diponegoro Muda yang bergerak kearah barat Jogjakarta.

b.      Kelompok yang dipimpin oleh Abd. Hamid Pangeran Diponegoro dan ditemani gurunya Syahrif Anshori. Syahrif Anshori disamping guru Pangeran Diponegoro juga sebagai guru batin Sri Sultan Abdurrahman. Sasaran kelompok ini kearah timur Jogjakarta yaitu daerah Jawa Timur, juga termasuk Madura.

c.       Kelompok 107 Pasukan Inti Putri Pangeran Diponegoro yang dipimpin oleh Raden Ayu Yudonegoro (putri Ontowiryo Hamangkubuwono III) serata Dewi Ratih sebagi pimpinan pasukan panah yang sangat di segani oleh orang-orang Belanda sehingga setiap renacana imperiaslisme Belanda dapat dipatahkan. Perjuangan Pasukan Inti Putri ini sangat hebat banyak menumpas imperialisme Belanda. Taktik perjuangan Pasukan Inti Putri baik dalam keadaan perang maupun keadaan tenang dengan memakai oara menyamar sebagai orang jualan, pengemis dan lain-lain sehingga serdadu Belanda banyak terbunuh.

d.      Kelompok pelindung yang dipimpin oleh Sri Sultan Abdurrahman. Kelompok ini yang melindungi semua pergerkan Pangeran Diponegoro dan bertangguang jawab penuh atas sikap dan siasat perang Pangeran Diponegoro.

 

3.      Prasasti Delapan buah Batu Sandi : menunjukkan bahwa putra Pangeran Diponegoro sebanyak delapan orang.

4.      Prasasti Relief: menunjukkan hidup Pangeran Diponegoro dalam keadaan sehat, mulai pecahnya perang Pangeran Diponegoro sampai ditangkapnya Turkijo Joko Matturi & Pangeran Diponegoro Muda dan di asingkan ke Sumenep ditempatkan dibenteng Jokotole Desa Klimo’ok kecamatan- kalianget-sumenep dan dikelurkannya Pangeran Diponegoro Muda dan penggantinya Jidin Maling sakti dari Desa Giring Kecamatan Manding-Sumenep kemudian diasaingkan ke Makasar (Turkijo Jokomatturi dan Jidin). Keadaan beliau di Makasar mati terbunuh karena makanan yang sengaja diberi racun oleh orang Belanda. Dan menunjukkan pula keadaan Pangeran Diponegoro Ontowiryo sakit sampai wafa di Sumenep.

5.      Prasasti Samaraga: yang menunjukkan bahwa dimulainya (pecah perang Pangeran Diponegoro tahun 1825) antara lain menerangkan juga dengan kias Bahasa Madura madduna ja’ gellu’ kabbi artinya ibaratkan lebah kalau kita akan mengambil madu pada kepingan-kepingan sarang lebah hendaknya diambil sekeping demi sekeping, jangan diambil sekaligus supaya lebah tidak ngamuk semua. Kalau Pangeran Diponegoro hendak menguasai tanah Jawa hendakanya ditaklukan sedaerah demi sedaerah jangan dirangkul atau ditaklukan sekalligus, supya tidak terlalu parah.

6.      Prasasti Tulisan dibatu nesan: menerangkan nama lengkap Pangeran Diponegoro yaitu Abdul Hamid Pangeran Diponegoro Ontowiryo Amirul Mukminin Syayyidin Sido Ing Topo Panotogomo.

7.      Prasasti Sejarah berantai: adalah riwayat hidup Pangeran Diponegoro yang diriwayatkan turun temurun, contoh seorang bapak berdongeng kepada putranya dan putranya kepada putranya dan seterusnya.

8.      Prasasti Tertulis: riwayat Pangeran Diponegoro yang dibukukan.

 

 
 

Penulis

K. R. Abd. Razak Qasyani umur 62 tahun

Sumber utama dari:

K. R. Ario Abd. Karim lahir tahun 1772 dan wafat tahun 1957

 

 
 

 

 

 

 

 

Kutipan dari fakta 59

 

Pangeran Diponegoro bersama isteri dan dua orang putri dan para pembantu “diamankan” di rumah Pngeran Ami di pujanggan, Kapanjin, Sumenep. Serah terima “tahanan politik” ini di Sumenep dilakukan dalam sebuah upacara di Keraton, dihadiri para pejabat dan utusan dari “kerajaan-kerajaan” bawahan pemerintah Hindia Belanda, tahun 1830. sulatan Abdurrahman atau pakunataningrat I memerintah Sumenep tahun 1812 sampai 1846.

Selama setatus buangan, Pangeran Diponegoro tekun menjalani ibadah, puasa dan bertapa. Kehidupan keluarga dicukupi oleh Sultan. Bahkan kemudian Sultan punya keinginan bernampaknya pihak Belanda mencium gejala hubungan baik ini dan kemudian memutuskan Pangeran akan dibuang ketempat lain Sultan Abdurahman kembali mengatur siasat, bukan Pangeran Diponegoro yang diserahkan kepada Belanda, melainkan seseorang lain yang mirip Pangeran itu, konon terjadi pada tahun 1832. untuk menyakinkan pihak Belanda, Sultan minta agar “Diponegoro” yang Cuma “duplikat”nya itu diantar oleh sebagian para keluarga. Nah, untuk menjaga kerahasiaan peristiwa inilah makam Pangeran Diponegoro ditempatkan tidak didalam pagar komplek makam keluarga raja. Orang yang tak mampu membaca aksara Arab Pegon, Cuma mengenal makam itu sebagai makam Buyut Sayit.

 

Begitulah menurut kisah pak Ndung, setelah dilengkapi penuturan RB Syamsul Imam BA, petugas lapangan survey adat budaya Sumenep dari Dinas P dan K K abupaten Sumenep. Menurut Syamsul pembungan “tahanan politik” ke Sumenep bukan sekali itu saja terjadi. Sebelumya Pakunatitaningrat I yang juga Sultan Abdurrahman itu juga perna menta agar Adipati Semarang, Rd Ario Suryoadimenggolo yang juga pernah menantang Belanda, pun “diamankan”  di Sumenep.

Adipati ini tak lain ayah mertua Sultan sendiri. Sementara sang Adipati masih terhitung kerabat dekat Raja Mataram Sri Sultan Hamengku Buwono IV, dari paris darah Ki Ageng Pemanahan. Dan itu berarti Pangeran Diponegoro, yang daerah Mataram, masih sekalian keluarga dekat dengan sultan Sumenep. ”Dengan demikian ada kemungkinan Pangeran Diponegoro memang wafat di Sumenep” ujar Syamsul, meski ia belum pasti benar sebelum ada penelitian lebih lanjut atas makam kuno itu.

Pun RP Moh. Zahid Sosrowinoto (70), keturunan dari Pangeran Ami, membenarkan sebagian kisah diatas “Kata para sesepuh, memang pernah Sultan Sumenep bermaksud besanan dengan Pangeran Diponegoro. Sayangnya dalam buku Babat Sumenep karangan Wardi Sastra tak pernah disebut tentang Pangeran Diponegoro” katanya kepada Fakta, di rumahnya di kampung Atas Taman. Seperti Zahid, RP Abd. Syukur Notoasmoro yang keturunan dari Pamembahan Somala jua tak bias berpanjang lebar kisah tentang Pangeran Diponegoro di Sumenep. Ia Cuma mendengar sedikit kisah itu juga dari para sesepuh. “Dulu jalan di depan rumah Pangeran Ami itu pernah disebut jalan Diponegoro” tambahnya Notoasmoro, pensiun pemilik sekolah yang dikenal menguasai tantang sejarah Sumenep ini, pun belum berani memastikan makam kuno yang dihebohkan itu adalah makam Diponegoro.

Selain ditemukannya makam kuno bertuliskan “ Abdul Hamid Pangeran Diponegoro” 50 meter arah barat Jaya dibawah pohon Nangger juga didapati sebuah bak air dari batu, yang konon diduga sebagai bekas tempat minum kuda Pangeran. Pundi dalam komplek makam Asta Tinggi, terdapat sebuah batu besar bermuka rata yang sudah beberapa lama dianggap sebagai alas tempat Pangeran bershalat. Entah benar tidak semua

ini masyarakat menunggu dari hasil penelitian lebih lanjut. Masyarakat menunggu dari hasil penelitian lebih lanjut.

( Aras/F-53 )

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis :M ARIF BUDI SANTOSO

               04 JUNI 2008

 

 

PENELUSURAN TEAM METAFISIKA DI MAKAM TAN MALAKA KE 2 DI DESA SELOPANGGUNG,SEMEN KEDIRI

Assalamu'alaikum Wr.Wb.

 

Pada tanggal 1 mei 2008 kami team metafisika bermaksud untuk untuk melanjutkan riset kami berkait dengan misteri makam tan malaka di desa selopanggung,semen kediri.kali ini kami hanya sendiri ditemani seorang anak,dan tujuan kami untuk mencari informasi tentang kebenaran makam tan malaka dari nara sumber lain yaitu bapak Tolu(70)yang merupakan saksi sejarah pada waktu di datangi pasukan TRI pimpinan Pak Prapto masih berusia kira-kira 10 tahun.Dari Nganjuk kami berangkat pukul 09.45 Wib dan kami langsung meluncur ke kediaman bapak tolu yang letaknya sudah kami ketahui waktu kami mengadakan kunjungan pertama dulu,yaitu di sebelah utara masjid "MIFTAHUL HUDA".maksud hati ingin langsung berjumpa dengan beliau namun beliau pada saat itu masih menemui tamu di rumah putranya di dusun sebelah,kamipun menunggu beberapa saat di masjid karena di kediaman pak Tolu terlihat kosong rupanya nasib kami kurang beruntung karena yang datang malah putra beliau yang bernama Kaswan(27)dan kami di beritahu bahwa ayahnya mungkin baru kembali jam 14.00 Wib.akhirnya kami putuskan untuk jalan-jalan menuju objek wisata Besuki yang jaraknya tak jauh dari situ setalah jam 12.15WIB.kamipun kembali ke kediaman bapak tolu sambil berharap semoga beliau sudah kembali di rumahnya.

 Setelah tiba di depan Masjid kami di sambut seorang yang berusia kira kira 70 tahun,dan kamipun langsung menyapanya,dan sempat kami menanyakan pada orang tua tersebut di mana pak tolu sekarang ,ternyata beliaulah pak tolu itu,dan kami langsung berbincang-bincang dengan santai di teras depan masjid diiringi sura gemericik air dari sungai di belakang masjid,

tanpa buang waktu kami langsung menanyai beliau tentang sejarah kedatangan para pejuang di desa tersebut,ya ceritanya hampir sama dengan yang di muat rekan Imam Mubarok Dari Radar Surabaya itu,

Sambil menunjuk tanah kosong di depan masjid beliau berkata"Di situlah dulu rumah Mbah Yasir(kakeknya mertua dari bapaknya Bp Salekan alm(yang pada waktu itu membantu tentara mengambil ransum pasukan dari bringin).)"

Tanah tersebut sekarang digunakan untuk jemuran hasil panen tetangganya yang kebetulan sedang panen bunga Rosela,tak berapa lama dari atas bukit muncul tiga orang berjalan menuju kami rupanya mereka adalah putra beliau kaswan(27) yang sebelumnya sudah bertemu kami, dan bersama seorang kiyai yang mereka kenal dengan sebutan"GUS DAR(Pengasuh PonPes Tanbihul Ghofilin Badas Pare kediri)" serta seorang pemuda desa bernama Sugeng.

Kamipun menyambutnya dengan salam dan merekapun akhirnya bergabung dengan kami duduk di teras masjid,setelah kami menyambut mereka perbincangan dengan pak tolupun kami lanjutkan,rupanya sugeng langsung antusias dan bertanya"apa maksud kedatangan anda ke sini?"

dan saya jawab"bahwa maksud kami datang kesini untuk mencari informasi tentang sejarah dan tempat makam Tan Malaka yang di kabarkan hilang di desa ini"

diapun bertanya lagi :"Kalau nanti benar adanya makam tersebut di desa kami apa yang anda lakukan?"

dan saya jawab :"kami ini utusan dari team metafisika yang kalau benar keberadaan makam itu di sini maka kami akan mengadakan pembangunan makam"

Kamipun melanjutkan pembicaraan dengan pak tolu dan beliau bercerita bahwa di rumah mbah yasir terdapat beberapa tentara yang dia sebutkan yaitu : Pak Sukotjo.Pak Prapto,Pak Sukur dimana dia juga menyebut bahwa pak sukotjo ada 9 orang yang di bawa ke desa itu.

Kemudian dia lanjutkan tentang kenapa tan malaka itu di bunuh,pada waktu datang didesa itu tan malaka merupakan tawanan dan menurut ceritanya "Iki(tan malaka)lek lamun ora di pateni awake dewe iki di pateni kabeh,mergo iki mata-mata"(orang ini (tan malaka)jika tidak kita bunuh maka kita semua akan terbunuh karena dia adalah mata-mata).

Kemudian pak tolu juga bercerita mengenai pembakaran berkas-berkas dokumen yang cukup banyak 1 lumbung katanya yang di bakar di sebelah batu besar yang di namakan selopanggung yang katanya baru habis 3 hari,tuturnya juga mereka membawa banyak amunisi,senjata api serta mesin ketik yang disembunyikan di bawah (klaras)daun pisang kering supaya tak di ketahui penduduk.

Kemudian dia menuturka tentang pembunuhan tan malaka bahwa dia hilang setelah 3 hari datang ke desa itu yang kemungkinan di bunuh oleh panglima Sukotjo.

Rupanya Gusdar mau mengerjakan sholat dhuhur dan kamipun mengikutinya denga berjamaah,dan selesai sholat gus dar dan keluarga mohon pamit pada keluarga Pak tolu dan sejenak kami istirahat kira kira 10 menit kemudian kami lanjutkan dengan mengunjungi makam Tan Malaka yang masih jadi misteri,memang sepintas pemakaman terlihat angker,dan tempatnya sama dengan yang di tunjukan pak sopingi lalu,setelah kami masuk kemudian langsung kami di tunjukan oleh pak tolu sebuah makam tapi anehnya tidak sama dengan yang ditunjukan oleh pak sopingi,ini yang membuat saya kaget,dan ini di perkuat pak tolu dengan menunjuk sebuah pohon semboja tua yang menurut beliau adalah makam mbah selo kemudian dia menunjuk makam di utaranya yang ditandai dengan pohon puring yang berjarak 4 makam di sebelah barat makam yang di tunjuk pak sopingi,dan mengenai pohon wungu juga sempat saya tanyakan ternyata tempatnya dia menunjuk arah makam yang di tunjuk pak sopingi dulu.

secara detail saya tanya pada pak tolu tentang tempat makam tan malaka beliaupun menjawab tidak tahu persis karenaq makamnya di rahasiakan oleh para pasukan pada waktu itu.dan setelah itu kami berdoa sejenak di atas makam itu kemudian kamipun pulang menghantar pak tolu ke kediamanya setelah sampai rumah kamai langsung berpamitan dengan beliau karena kami takut kemalaman di jalan,demikian hasil dari kunjungan kami ke dua mengenai makam tan malaka yang mengambil sumber dari saksi sejarah pak tolu(70)yang menunjukan tempat berbeda pada makam tan malaka,dan mana yang sebenarnya makam tan malaka itu,kiita tunggu dengan hasil forensik dari team ahli.(*Sekian)

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

 

penulis : M Arif Budi S

             05 Mei 2008

 

Penelusuran Team Metafisika

ke makam Tan Malaka di Selopanggung

Kediri

 

Setelah kami mendapat informasi dari pengasuh metafisika Bp.KH.DR. Kharisudin Aqib,M.Ag pada pukul 08.00 WIB,tentang makam Tan Malaka yang di kabarkan di makamkan di kediri,tepatnya di desa Selopanggung,kecamatan semen,Kab Kediri.pada saat itu juga ketua team yang juga merupakan pengasuh Metafisika center,menyuruh kami agar mengadakan persiapan menuju ke lokasi yang kebetulan lokasi tersebut tidak jauh dari tempat kami tinggal yaitu di nganjuk,sempat kami mengambil referensi dari internet sebagai bahan penyelidikan di lokasi,yaitu dari penulis Imam Mubarok dari RADAR Surabaya .

Setelah persiapan cukup kami satu team yang terdiri dari Bp DR.KH.Kharisudin Aqib,M.Ag(sebagai ketua team).di dampingi seorang Anggota kepolisian yang secara tidak sengaja berkunjung di kediaman beliau dan kebetulan juga ahli dalam bidang Metafisika yaitu Bp Agus dan saya mendampingi beliau-beliau dalam perjalanan ini.

Setelah jam 09.30 WIB kami berangkat dari nganjuk menuju lokasi,karena pak Agus sudah sering ke daerah sana kami hanya memerlukan waktu kira kira 45 menit,untuk sampai di lokasi,karena lokasinya yang berbukit-bukit kami sempat tanya pada beberapa penduduk untuk mencapai tujuan yaitu di rumah Bapak KADES Selopanggung (Bp Zairi).kebetulan waktu itu beliau sedang ada di kecamatan semen jadi kami langsung menuju ke Balai Desa Selopanggung yang berjarak 100 meter dari rumah beliau,kami di sambut oleh Bapak Kebayan Dan Bapak Sekdes(Bp Sarto Mulyono).kemudian sambil bermaksud menunggu Pak Kades kami mohon izin untuk menyampaikan misi kami mengunjungi makam Tan Malaka yang berjarak kira-kira 3 km dari Balai Desa tersebut,dan setelah hampir 15 menit kami menunggu Pak Lurah ternyata belum datang juga akhirnya Bp Sekdes mempersilahkan kami untuk menemui Bapak Kaur Kesra (MODIN) selopanggung karena pada saat itu beliau sedang sibuk ada renovasi Balai Desa bersama Mahasiswa kkn dari IKIP PGRI Kediri.

Kamipun melanjutkan perjalanan ke kediaman Bapak Kesra(Modin)yang berjarak kurang lebih 2 km dari Balai Desa,setelah sampai kami sempat menunggu Pak Modin Karena Rupanya beliau sedang lelap tidur maklum waktu itu sudah jam 11.30 Wib.setelah di cari oleh tetangganya kamipun segera ditemuinya dengan ramah,dan tanpa basa basi kami mengutarakan maksud kami datang ke desa tersebut,dan dengan entengnya beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan kami,karena kami yakin beliau sudah sering didatangi orang-orang mengenai Makam Tan Malaka tersebut,dan setelah kami ceritakan maksud  kedatangan kami yaitu mencari kebenaran mengenai lokasi makam tersebut dan rencana kami untuk melakukan pembangunan makam tersebut beliau sangat gembira sekali dan kamipun di tunjukan orang yang bernama Bapak Sopingi yang faham akan sejarah keadaan makam Tan Malaka tersebut,dan tidak buang waktu kamipun segera menuju ke kediaman Bapak Sopingi Yang kebetulan Berjarak kira-kira 50 meter dari Masjid Selo Panggung Yang megah,dan kendaraan kami kami parkir di depan masjid kemudian kami mendatangi kediaman Bapak Sopingi yang di dampingi oleh Bapak Modin,sesampainya di lokasi rupanya pak Sopingi baru saja pulang dari sawah memanen Bunga Roselanya dan menjemurnya di halaman rumah.

Pertama kami terkejut karena penampilan bapak sopingi yang sederhana dan gaya bicara beliau sangat lugu sekali dan dari ucapan pertama yang saya dengar beliau menyesal telah membeber masalah makam Tan Malaka ini,rupanya beliau takut kalau di sangka pembunuh dari Tan Malaka.setelah agak tenang kamipun memulai menanyai pak sopingi yang kelihatan sudah malas menceritakan hal ini,dengan sedikit kami beri penjelasan akhirnya dia mau menceritakan Tentang Tan Malaka Dengan Gayanya yang lugu dia menceritakan”bahwa cerita ini didapat dari kakeknya dan ayahnya,dan dia pun merupakan saksi sejarah peristiwa tersebut karena pada waktu itu dia sudah menjadi pemuda,

Pertama dia menceritakan tentang orang-orang yang mengungsi di rumahnya antara lain di sebutkan ada Bpk Sukoco,Bpk Sungkono,Sakur yang merupakan  anggota brigade TRI pimpinan Letkol Soerahmat.kemudian beliau langsung menceritakan tentang tempat makam Tan Malaka yang berjarak kira kira 200 meter dari kediaman beliau,sebetulnya kami segera ingin segera menuju lokasi makam rupanya istri Bpk Sopingi telah membuatkan minuman kopi bagi kami,terus pak lurah pun datang ke tempat itu yang tadinya kami dikira sudah ada di makam,dan pak Sopingipun bercerita tentang letak makam Tan Malaka dia susah untuk menyebut nama aslinya yaitu Sutan Ibrahim,dengan jelas beliau menjelaskan bahwa makam Tan Malaka Berada di selatan Makam Mbah Selo Yang merupakan makam tertua di situ dan makam mereka berdua di pisahkan oleh pohon Wungu yang besarnya tidak cukup untuk di rangkul 2 orang tetapi sayang kayu itu sudah lapuk dan sebagian di buat kayu arang oleh jurukunci makam yaitu Bapak Khalil (yang menunggu makam sejak tahun 1965 sampai sekarang).dan sekarang hanya di kasih tanda sebuah batu sebagai nisannya.sempat saya berbincang dengan pak Agus yang kebetulan duduk di samping saya peristiwa ghaib yang beliau rasakan pada waktu perjalanan menuju kediaman bapak Sopingi yaitu sesuai dengan yang di sampaikan pak sopingi,yaitu mengenai cahaya wungu yang menurut beliau merupakan kekuatan suci dan beliau rasakan sangat kuat keberadaanya yang menyambut kedatangan kami dari team metafisika.

Kemudian perjalanan kami lanjutkan ke makam kali ini bersama-sama pak lurah pak modin dan pak sopingi dan di tengah perjalanan kami bertemu orang tua yang mencari rumput dan kebetulan beliau adalah Bapak Khalil juru kunci makam Tersebut dan ternyata beliau juga antusias dengan kedatangan kami dan ikut serta mengantar kami ke makam,jadi di makam kami ada 7 orang,dan dengan tenang Pak Sopingi menunjukan lokasi Makam Tan Malaka yang berjarak kira kira 10 meter dari pintu makam segera dia menunjuk batu yang beliau pasang untuk menandai makam tersebut,ukuran batu tersebut kira kira berdiameter 40 cm persegi,dan kami sempat menanyakan di mana pohon wungu yang di ceritakanya,dan pak khalil pun langsung menyahut bahwa dia yang telah menjadikan pohon tersebut jadi kayu arang jadi sekarang hanya bertanda batu itu saja.

Kamipun segera melakukan doa dan Tahlil di tempat itu yang di pimpin oleh ketua team,dan kamipun mengikutinya dengan khusyu’ sampai selesai,kemudian kami menanyakan hal-hal yang berkait dengan makam mbah selo dan mereka pun menunjukanya yaitu di utara makam Tan Malaka.

Kemudian kami keluar dari makam dan kami beristirahat di tebing karena makam tersebut terletak di lembah/bawah bukit.di situ kami berbincang bincang dengan pak lurah tentang perencanaan lokasi pembangunan makam tersebut,dan beliau sangat senang sekali dan berharap mudah mudahan makam tersebut benar adanya yaitu Makam Tan Malaka.setelah jam menunjukan jam 13.00 wib kami segera bergegas ke masjid untuk menunaikan jamaah sholat dhuhur,setelah selesai kamipun segera menuju ke rumah Pak Kesra untuk menghantar beliau pulang,setelah itu kami bergegas ke kediaman bapak KADES yang mempersilahkan kami singgah di kediamanya,sambil menikmati hidangan dan minuman yang beliau suguhkan beliau berbincang panjang lebar tentang keadaan desa tersebut karena beliau menjabat menjadi KADES baru pada tahun 2007 kemarin,dan rupanya beliau adalah pendatang dari Gresik,jawa timur,dan dalam tuturnya beliau berniat untuk sekuat tenaga untuk mengadakan perubahan terutama pada penduduk yang beliau pimpin,dan satu lagi peristiwa ghaib yang di alami oleh Pak Agus waktu di makam waktu kami melakukan ritual yaitu beliau merasa ada kekuatan angin yang datang mengelilingi kami,dan disususl dengan munculnya cahaya dari dalam kubur kemuadian beliau mencium aroma jasad manusia dari dalam kubur dan dengan peristiwa itu beliau sangat yakin bahwa makam tersebut memang Makan Tan Malaka,dan beliau menyimpulkan bahwa tulang tulang di dalamnya masih ada,dan kemungkinan masih utuh,dan pak lurah pun menyambung bahwa di makam tersebut pernah tergali dan ternyata jasadnya masih utuh makanya masyarakat sampai sekarang tidak berani untuk menggali liang lahat di situ.dan sekali lagi peristiwa ghaib yang dialamiu Pak Agus sama dengan yang di ceritakan Pak KADES,yaitu jasad Tan Malaka masih dalam keadaan utuh,tapi untuk kenyataanya kita tunggu hasil dari penelitian selanjutnya.dan setelah kurang lebih 20 menit kami singgah di kediaman bapak KADES kamipun berpamitan untuk pulang ke Nganjuk.

Demikian perjalanan pertama kami menelusuri keberadaan makam Tan Malaka di desa Selopanggung Kec Semen,Kediri Jawa Timur.dan insyaAlloh kami akan mengadakan perjalanan ke sana  lagi untuk menemui Nara sumber yang telah di temui oleh Wartawan RADAR surabaya yaitu Bapak Tolu dan Bapak Syamsuri yang belum sempat kami kunjungi karena keterbatasan waktu kami. (*** sekian)


 24 April 2008                                                                       

 Penulis : M Arif Budi S

Last Updated ( Monday, 23 August 2010 )
 
Next >
Sedang Online
We have 6 guests online
HIT COUNTER

Design by Metafisika center team.org | Powered by Metafisika-center.org |