.:: Metafisika Center ::.


Halaman Depan
Sunday, 05 September 2010
METAFISIKA CENTER
Halaman Depan
Profil Metafisika Center
Buku Seri Metafisika
Kontak
Kuliah Online
Kajian Tasawuf
TAREKAT
Info Tarekat
Jasa Metafisika
Jasa Metafisika
PESANTREN TERPADU
Profil pesantren
Pesantren Mistiko Informatika
LAZIS YPP D U A
Profil Lazis YPP D U A
Info Lazis
Redaksi Lazis
Formulir Donatur
Syndicate
Psiko Sufistik Pendidikan Islami PDF Print E-mail
Written by K.H.Dr.Kharisudin Aqib,M.Ag.   
Monday, 26 April 2010

Psiko-Sufistik Pendidikan Islam

Oleh; H. Kharisudin Aqib.

 

A. Jiwa dalam Pandangan Filsafat Tasawuf

  Sebelum membahas tentang jiwa dalam pandangan tasawuf, perlu juga dibahas tentang filsafat kejadian manusia, walaupun mungkin hanya sekilas saja.

      

    Kejadian manusia, menurut pandangan tasawuf sunni adalah karena qudrat dan iradat Allah.[1] Ia menjadikan manusia dari dua eksistensi yang berbeda, yaitu eksistensi dari ‘alam al – amri (alam perintah) , dan eksistensi dari  alam al – khalqi (alam ciptaan).[2] Ada lima entitas yang berasal dari ‘alam al – amri, yang disebut latha’if (jama’ dari kata lathifah),  yang berarti kelembutan. Yaitu lathifat al – akhfa, lathifat al-khafi, lathifat al-sirriy, lathifat al-ruhi, dan lathifat al – qalbi. Sedangkan yang berasal dari ‘alam al – khalqi  ada lima entitas, yaitu satu lathifah dan empat anasir (jama’ dari unsur). Kelima entitas itu adalah lathifat al – nafsi, unsur api, unsur udara, unsur air dan unsur tanah.[3] Bahwa ruh manusia yang berasal dari alam perintah (‘alam al-amri) , dan jasad manusia berasal dari alam ciptaan (‘alam al-khalqi). Sedangkan jiwa adalah nama lain dari ruh yang lagi bersatu dengan badan. Sedangkan wujud dari jiwa dapat dilihat dari gejala-gejala yang ditimbulkannya yang berupa daya. Yaitu daya hidup, daya gerak, dan daya fikir.

 

               

 



[1]Qudrat dalam arti kemahakuasaan Allah dan iradat adalah kehendah mutlak Allah dengan tanpa adanya intervensi dari pihak lain. Sehingga mencipta maupun tidak mencipta adalah termasuk sifat jaiz Allah. Inilah pokok – pokok aqidah ahl Sunnah wa al-jama’ah. Baca Abd. Malik al – Juwaini,  Luma’ al – Adillah fi Qawaidi Ahl Sunnah wa al-Jama’ah , t.p : Dar al – Mishriyah li Ta’lif  wa Tarjamah, 1965 , h. 68, 83, 107 .

[2]Alam al-amri (alam perintah) adalah alam ruhaniyah. Term tersebut diambil dari firman Allah: “katakanlah ruh itu termasuk dari amr (perintah) Tuhanku“. Qs. Al – Isra’ (17) : 85. Sedangkan ‘Alam al – khalqi (alam ciptaan) adalah alam jasmaniyah. Term tersebut merujuk pada firman Allah : “ Kemudian kami kehendaki ia menjadi ciptaan yang lain, maka maha suci Allah yang telah memperbaiki semua ciptaan-Nya. “ Qs. Al-mukminun (23) : 14. Sedang keduanya merujuk dari Qs. Al – A’raf (7) : 54 .

[3]Muslikh Abd. Rahman,  Umdat al – Salik fi Khair al – Masalik (purworejo) : Pondok Pesantren Berjan, t.th. h. 43. Zamroji Saerozi, Al – Tadzkirat al – Nafi’ah, juz I ,  Pare : tp., tth. h. 8. M. Romli Tamim, Tsamrat al-Fikriyah Risalat fi Silsilat al – Thariqatain al Qadiriyah wa Naqsyabandiyah , Jombang : tp., t.th , h. 3.

 

 

 

 

Menurut Mir Valiudin, ternyata teori tersebut adalah termasuk di antara temuan besar Imam Rabbani al – mujadid alf al – tsani (Sang pembaharu milenium ke dua  , yaitu Syekh Ahmad Faruqi Al–Sirhindi).[4] Informasi tentang  ke-lima  latha’if  tersebut belum pernah disampaikan oleh para sufi sebelumnya, demikian juga komposisi lengkap struktur tubuh (jasmani dan rohani) manusia.[5] Dari teori ini pula penulis temukan filsafat jiwa yang sederhana tetapi sangat gamblang, rasional dan progresif.

                 Masih dalam kerangka teori filsafat kejadian manusianya Imam Rabbani, pandangan Islam tentang jiwa manusia ini dibangun. Pembahasan tentang jiwa (nafs) dipentingkan oleh para ahli tarekat, karena mereka memegangi ungkapan (yang diyakini sebagai bersandar kepada Rasulullah): “Barang siapa mengetahui nafs-nya (dirinya), maka ia mengetahui Tuhannya“.[6]

                 Dalam pandangan Islam  jiwa (nafs), adalah kelembutan (lathifah) yang bersifat ke Tuhanan  (rabbaniyah). Sebelum bersatu dengan badan jasmani manusia lathifah ini disebut dengan al-ruh, dan jiwa adalah ruh yang telah masuk dan bersatu dengan jasad yang menimbulkan potensi kesadaran (al-Idrak).[7] Jiwa yang diciptakan oleh Allah.

                 Sebelum bersatunya dengan jasad, ruh bersifat suci, bersih dan cenderung mendekat kepada Allah, mengetahui akan Tuhannya. Akan tetapi setelah ruh tersebut bersatu dengan jasad akhirnya ia melihat (mengetahui) yang selain Allah, dan oleh karena itu terhalanglah ia dari Allah karena sibuknya dengan yang selain Allah.[8] Itulah sebabnya sehingga ia perlu dididik, dilatih, dan dibersihkan agar dapat melihat, mengetahui dan berdekatan dengan Allah swt.[9]

                 Ruh yang masuk dan bersatu dengan jasad manusia memiliki lapisan-lapisan kelembutan (latha’if), sehingga dapat dikatakan bahwa tujuh lathifah yang ada pada diri manusia itu adalah al-nafs atau jiwa dalam istilah lain.[10] Jadi jiwa menurut pandangan Tarekat Qadiriyah wa Nagsyabandiyah memiliki tujuh lapis berdasarkan nilai dan tingkat kelembutannya. Yaitu :

-          Nafs al-amara, Nafs al-lawwamah,Nafs al-mulhimah,Nafs al-muthmainnah, Nafs al-radliyah

-          Nafs al-mardliyah, dan Nafs al-kamilah.[11]       

           Sehingga dapat dikatakan bahwa ke tujuh lapis kelembutan jiwa tersebut adalah tingkatan kesadaran manusia sepenuhnya. Sedangkan lathifat pada tahapan selanjutnya dipakai sebagai istilah praktis yang berkonotasi tempat, lathifat al-nafsi sebagai tempatnya nafs al-amarah, lathifat al-qalbi sebagai tempatnya nafs al-lawwamah, lathifat al-ruhi sebagai tempatnya nafs al-mulhimah, dan seterusnya.[12]Semakin dekat kecenderungan seseorang dengan unsur jasmaniyah akan semakin jelek dan rendah nilai jiwanya,  dan semakin jauh dari unsur jasmaniyah (materi) akan semakin baik dan suci. Karena berarti semakin dekat dengan unsur ilahiyah. Sehingga ada pengaruh antara keadaan kejiwaan dengan tabi’at,tingkah laku kondisi kesehatan fisik manusia.

 

  1. Filsafat Manusia  Sempurna.

Filsafat manusia sempurna (dalam pendidikan islami) adalah tergambarkan dalam pertumbuhan biologis manusia yang idial. Pendidikan adalah pembinaan pertumbuhan kepribadian manusia yang sempurna dan idial. Kepribadian manusia yang menggambarkan berfungsinya anatomi-anatomi biologis, dan spiritual  yang sempurna.

Kepala tumbuh dan berkembang dengan fungsi yang sempurna sekaligus bentuk yang ideal. Badan (dada, perut, dan panggul) tumbuh dan berkembang dengan  fungsi dan ukuran atau bentuk yang idial. Demikian juga leher, tangan dan kaki, sebagai anatomi dinamis untuk kehidupan manusia, tumbuh dan berkembang secara sempurna dan ideal. 

Kepribadian spiritual sebagai hasil dari proses pendidikan tergambarkan sebagai manusia yang  sempurna secara biologis tersebut dalam bentuk maknawinya. Ilmu pengetahuan yang dimiliki digambarkan dengan kepala, penghayatan keilmuannya digambarkan dengan badannya (khususnya dada), sedangkan pengamalan dan kecakapan mempraktekkan pengetahuannya digambarkan dengan leher, tangan dan kaki seseorang.

Kondisi baik-buruknya atas kompetensi seseorang dalam suatu keilmuan akan dapat digambarkan dengan bentuk badan maknawi seseorang. Sehingga dapat digambarkan bahwa output pendidikan yang diharapkan dalam filsafat pendidikan islami, adalah badan maknawi yang tampan atau cantik dengan postur tubuh yang ideal.

Kepala badan maknawi seseorang (pengetahuan) tidak melebihi dari besarnya badan maknawinya (penghayatan keilmuannya). Tetapi juga tidak boleh terlalu kecil sehingga tampak tidak indah. Demikian juga bentuk leher, tangan dan kakinya juga kokoh, tetapi lincah untuk dapat melakukan tugas dan fungsinya masing-masing. Ini menggambarkan akan kebiasaan dan ketrampilannya dalam melakukan dan mempraktekkan keilmuan yang dimilikinya.

Demikian juga halnya, kekurangan-kekurangan dalam hal keilmuan seseorang dan ketidakseimbangan penguasaan keilmuannya tergambarkan dalam bentuk badan maknawinya. Sedikitnya pengetahuan berarti kecilnya kepala, kurangnya penghayatan berarti kecilnya dada. Dan kurangnya pengamalan berarti ringkihnya tangan dan kaki. Atau mungkin penguasaan pengetahuan yang tidak imbang dengan penghayatannya, berarti postur yang terlalu besar kepala sedangkan badan dan tangan-kakinya terlalu kecil. Sebagaimana manusia karikatur. Dan inilah kebanyakan output pendidikan yang sedang kita saksikan.

 

  1. Ajaran Tentang Hakekat Ilmu.

Hal yang sangat perlu diaktualisasikan dalam ajaran tasawuf pada dunia pendidikan modern adalah filsafat ilmu. Bahwa pandangan tasawuf terhadap ilmu jauh lebih mendalam dari pada pandangan kaum sekuler pada umumnya. Ilmu dalam pandangan tasawuf adalah cahaya suci. Karena ilmu adalah sifat dari Tuhan yang Maha Suci itu sendiri.

 

Pendidikan adalah suatu proses untuk mendapatkan ilmu yang suci tersebut. Oleh karena itu, maka prasyarat bagi seseorang yang ingin mendapatkan hakekat ilmu (ilmu apa saja), haruslah menjaga kesucian aspek afeksi dari dirinya.Yakni aspek sebagai wadah rahasia (spirit) ilmu.  Dia harus membersihkan diri dari dorongan–dorongan nafsu materialistis  dan hedonisme yang mengotori jiwa atau hati sebagai wadah dari ilmu sirr (hakekat) ilmu.

Di samping ajaran tentang hakekat ilmu dan cara mendapatkan ilmu, maka aktualisasi dan sosialisasi ajaran tasawuf seperti; zuhud, berdo’a, rajin ibadah  dan  puasa sebagai suatu tehnik untuk memperoleh ilmu yang bermanfa’at dan barokah adalah sangat diperlukan dalam dunia pendidikan modern yang cenderung hedonistik dan materialistik. Suatu filsafat hidup  yang jelas-jelas telah melahirkan banyak ilmuwan yang pada hakekatnya tidak konstruktif terhadap perbaikan peradaban umat manusia, bahkan cenderung menjadi sebab kehancuran peradaban sebagaimana yang sedang kita saksikan.Manusia hedunistik juga memberikan pandangan yang serba fisikal tentang kecerdasan, sebagaimana yang telah dipegangi oleh masyarakat pada umumnya.

Cerdas adalah kelebihan seseorang dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup jika dilihat dari rata-rata kemampuan orang lain yang berada pada satu tingkatan umur jasmaniyah atau tingkat pendidikannya. Sedangkan  kecerdasan secara umum adalah suatu daya dan tingkat kemampuan  seseorang dalam belajar (membaca, menganalisa dan merekontruksi) dan mencipta. Walaupun ini sebenarnya adalah sebagian dari ragam kecerdasan, yakni pada sisi intelegensi  saja. 

Sementara sisi yang lain belum terdefinisikan dalam pemahaman umum tentang kecerdasan. Orang yang dikatakan cerdas secara umum hanyalah mereka yang secara intelektual memiliki ketajaman dan kepekaan yang lebih baik, di atas rata-rata orang sekelas atau seumurnya. Padahal ketajaman dan kepekaan itu juga terdapat pada sisi emosi dan juga spirit, sehingga menurut Ari Gynanjar pada diri manusia terdapat ketiga kecerdasan tersebut, yakni intelgensi (IQ), emosi (EQ), dan Spiritual (SQ).

Manusia tidak dapat hanya menggantungkan diri pada satu sisi kecerdasannya, misalnya kecerdasan inteljensinya. Atau kecerdasan emosi atau juga spiritualnya saja. Pengetahuan terakhir menyatakan, bahwa kecerdasan yang dapat diukur dan memiliki arti penting dalam kesuksesan hidup dan kebahagian manusia di dunia maupun di akhirat adalah bersifat majemuk (multiple intelligence). sebagaimana penelitian Howard Gardner (Prof. Pendidikan Havard). [13] sementara itu para praktisi spiritual (para sufi), mendefinisikan bahwa kecerdasan spiritual adalah tingkat kepekaan seseorang dalam memahami dan menghayati hakekat di balik segala peristiwa, dan hubunganya dengan Sang Maha Pencipta, holisitas alam semesta.

 

E.  Filsafat Pendidikan

Filsafat pendidikan adalah filsafat tentang masalah-masalah kependidikan. Menurut filosof Amerika, John Dewey, pendidikan adalah sebuah proses pembentukan watak dasar, intelektual, dan emosi yang berkaitan d engan alam berikut manusianya [14] Dilihat dari aspek-aspek pendidikan, dakwah Nabi Muhammad saw, merupakan sebuah sistem pendidikan yang memiliki unsur-unsur sistem pendidikan.

Bentuk yang lebih sempit dari sebuah sistem pendidikan adalah pengajaran atau proses belajar mengajar. Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung harus ada tiga hal pokok dalam sebuah sistem pengajaran, yaitu : materi pelajaran, yang belajar (pelajar), dan yang mengajar (pengajar).[15] Di dalam dakwah Nabi Muhammad, ada Nabi  yang berperan sebagai pendidik, pengikut atau para sahabat  sebagai siswa, dan ilmu keislaman  merupakan materi pelajarannya.[16] Di dalamnya juga ada metode, teknik dan tujuan sebagaimana sebuah pendidikan yang berstruktur. bahkan di dalamnya juga ada adab sebagai tata tertib.

            Pada hakikatnya pendidikan dalam Agama Islam  adalah pendidikan jiwa. Umat Islam  berkeyakinan, bahwa hakikat manusia adalah jiwanya. Dialah raja dalam tubuhnya. Sehingga apa saja yang dilakukan oleh anggota tubuhnya adalah atas perintah jiwanya, kalau jiwanya jahat maka jeleklah perbuatan yang dilakukan oleh anggota tubuhnya, demikian pula sebaliknya.[17] Dengan demikian, maka mendidik jiwa berarti telah mendidik hakikat manusia, dan akan berdampak pada seluruh totalitas kemanusiaannya.Itulah jiwa dan itulah ranah afeksi.

Ranah afeksi sebagai bagian penting dalam   sebuah sistem pendidikan, sangat perlu digalakkan. .Orang sering cenderung lupa, bahwa alat untuk dapat menguasai ilmu adalah tiga alat. Yaitu; otak, hati dan anggota badan. Otak sebagai alat untuk menampung dan mengolah data ilmu. Hati adalah alat untuk menampung dan mengolah spirit ilmu, dan anggota badan alat untuk melatih dan mempraktekkan ilmu.

Ranah afeksi juga harus dibina agar tumbuh dan berkembang sebagaimana ranak kognesi, bahkan harus lebih diutamakan. Karean target pertumbuhannya harus dapat lebih besar dari pada pertumbuhan otak sebagai hardware  ranah konetif. Dan bahkan ketiga-tiganya (afeksi,kognesi, dan psikomotor), harus tumbuh dan berkembangsecara proposional.

 

 

            Prinsip-prinsip filsafat pendidikan Islam, pada dasarnya adalah bagian dari kajian tasawuf, di dalam tradisi tasawuf, pendidikan dapat dilaksanakan melalui dua model, yaitu; tarbiyah (pendidikan umum), dan riyadloh (latihan kejiwaan) atau  pendidikan khusus,yaitu :

1.       Tarbiyah

Filosofi pendidikan dalam Islam, yang lebih tepat disebut sebagai tarbiyah atau pendidikan adalah juga apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah dalam membina sahabat-sahabatnya sehingga berhasil membentuk kader-kader pejuang yang paripurna, berakhlak mulia, cerdas dan terampil dalam membangun peradaban manusia modern. Yakni dengan adanya unsur tehnis yang disebut dengan ta’lim (pengajaran), ta’dib (pembiasaan) dan irsyad (bimbingan). 

            Ta’lim atau pengajaran adalah pemberian materi pelajaran untuk memberikan bekal pengetahuan yang bersifat kognitif. Baik yang bersifat, keimanan, peribadatan, etika maupun hikmah dan kearifan dalam kehidupan.Dalam pendidikan Nabi ta’lim ini terus menerus diberikan dalam bentuk halaqah (lingkaran studi) yang selalu diselenggarakan di setiap selesai menunaikan jama’ah sholat atau di waktu-waktu luang.

            Ta’dib atau pembiasaan adalah bagian dari pendidikan yang sangat penting. Ta’dib adalah pembiasaan yang diterapkan kepada peserta didik yang belum memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri. Dan ta’dib ini berfungsi untuk mengasah aspek psikomotorik murid. Dalam pendidikan yang dicontohkan oleh Rasulullah, ta’dib diselenggarakan dalam dukungan uswah (percontohan) dari Nabi, imarah (perintah dan larangan), serta adanya sistem reward and punishment  (hadiah / pahala dan hukuman / siksa). Atau tabsyir dan tandhir.

            Irsyad atau bimbingan. adalah bagian dari pendidikan yang lebih terkait dengan aspek afektif dan psikomotorik.Bimbingan diberikan kepada murid yang telah mulai memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri, tetapi tidak mengetahui apa yang harus dilakukan. Maka mursyid atau pembimbing harus dengan senang hati, simpatik dan empatik memberikan bimbingan, dan tentu dengan sabar dan telaten. Dan tarbiyah merupakan integrasi dan akumulasi yang aktif atas ketiga metode pengajaran tersebut.

 

2.       Riyadlotun Nafsi

            Dari sisi Riyadat al-nafs, pendidikan dalam tradisi Islam (tasawuf) ini mengikuti filsafat kimiya’ al-sa’adat  sebagaimana umumnya mazhab-mazhab tasawuf. [18] Filsafat ini mendasarkan teorinya pada prinsip peleburan logam. Bahwa jiwa adalah ibarat biji logam, atau batu permata. Ia merupakan bahan baku yang masih perlu dilebur, dibentuk dan dibersihkan. Untuk menjadikan logam sebagai sebuah perhiasan yang berharga harus dilebur dengan bahan kimia atau dengan panas (suhu) yang tinggi. Dan dalam waktu yang lama, membutuhkan seorang pengerajin yang ahli dan telaten (sabar), serta memiliki seni yang tinggi.[19]

            Untuk menjadikan jiwa yang baik dan bernilai tinggi, jiwa perlu dilebur dengan bahan kimia atau dipanaskan dengan api, sehingga kotoran, dan karat-karatnya terlepas. Maka tampaklah kecemerlangan logam mulia (emas), karena karat dan kotorannya telah hilang. Tetapi ia masih perlu ditempa dan dibentuk sesuai dengan keinginan pengerajinnya, yaitu mursyid. Dan selanjutnya harus selalu dibersihkan agar senantiasa cemerlang.[20]

            Proses peleburan dan pembentukan jiwa ini melalui usaha keras (mujahadah) yang kontinu yang disebut dengan riyadat al-nafs. Riyadat al-nafs sebagai sebuah metode memiliki dua proses, yaitu takhalli, dan tahalli .[21] Dalam takhalli seorang murid harus menempa jiwanya dengan prilaku-prilaku yang dapat membersihkan, dan meleburkan jiwa. Ia harus terus menerus melakukan d’zikir setiap waktu. Sebagaimana yang diajarkan oleh guru pembimbing spiritualnya.[22] Dalam proses takhalliyat, seorang murid juga harus senantiasa bersikap zuhud (tidak materialis), wara’ (senantiasa berhati-hati dalam bertingkah laku dan beribadah), tawadlu’ (merendahkan diri dan tidak takabbur), dan ikhlas (senantiasa memurnikan motivasi dan orientasi) hanya kepada Allah.[23] 

Proses takhalliyat dalam al-kimiya’ al-sa’adat tersebut merupakan proses peleburan jiwa.[24] Membersihkan jiwa dari sifat-sifat jelek hayawani dan syaitani. Semakin intensif seorang murid melaksanakan proses takhalliyat akan semakin panas badan ruhaniyah. Dan dengan panasnya d’zikr dan riyadat al-nafs yang lain tersebut, kotoran-kotoran jiwa akan leleh terbakar, karat-karat jiwa akan terlepas sedikit demi sedikit. Maka akhirnya lapisan paling luar dari jiwa akan terkelupas. Begitu seterusnya akhirnya yang tinggal hanyalah inti jiwa yang paling dalam.[25]        

Dalam upaya takhliyah, prilaku fisikal yang biasanya harus dilakukan adalah taqlilut tho’am (menyedikitkan makan), taqlilun niyam (menyedikitkan tidur), dan taqlilul kalam (menyedikitkan ngomong).

            Sedangkan proses tahliyat (penghiyasan), merupakan proses pembentukan jiwa, karena itu ia lebih bernilai sebagai kelanjutan dari proses takhalliyat (pengosongan dari sifat-sifat buruk).[26] Jika seorang murid telah melaksanakan, maka ia akan mudah melaksanakan tahalliyat. Tahliyat ialah merupakan proses penghiasan diri (jiwa) dengan amalan-amalan shaleh. Secara umum melaksanakan syari’at agama adalah proses takhalliyat dan tahliyat  sekaligus. Sedangkan yang dimaksud dengan tahliyat di sini adalah amalan-amalan sunnah. Seperti;memperbanyak  membaca Al-qur’an, memperbanyak shalat sunnah, memperbanyak tafakkur di waktu sahur.[27] Demikian juga menjaga kesucian dan adab serta akhlaq merupakan proses tahliyat yang sangat utama. Kesucian dan akhlaq mulia merupakan intinya imam, seperti sabda Nabi :

الطهور شطر الايمان.

“Kesucian adalah setengahnya iman”.    (H.R. Muslim).[28]

 

  1. Ajaran Psikologi dan Etika Pendidikan

Pandangan tasawuf yang tidak kalah pentingnya untuk diaktualisasikan pada dunia pendidikan modern ini adalah  masalah psikologis. Yaitu psikologi dalam proses transmisi keilmuan, antara guru dan murid, sebagai suatu yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang untuk dapat menguasasi ilmu (kompeten). Kompeten dalam arti penguasaan yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Artinya dengan pengetahuannya, orang tersebut dapat menghayati dengan baik dan dapat mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang murid harus menjaga kondisi psikologis dirinya dan psikologis gurunya. Dia harus mempersepsikan gurunya dengan baik mencintai dan mengagungkan, serta senantiasa berprasangka baik dengan  gurunya , dan menjaga persepsi guru terhadap dirinya supaya baik. Karena menejemen persepsi komunikasi psikologis antara guru dan murid adalah menejemen transmisi keilmuan dalam aspek afektif. Dan ilmu yang dapat masuk pada ranah afeksi inilah yang akan berdampak pada aktual atau tidaknya ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan dasar pemikiran inilah maka, adab (tatakrama /etika guru-murid) sangat penting untuk diaktualisasikan dalam dunia pendidikan modern. Seperti; hormat (merendahkan diri di hadapan guru), ta’dhim (menjunjung tinggi martabat guru), dan khidmah (melayani kepentingan guru)  murid terhadap guru. Demikian juga motifasi dan spirit transfer ilmu guru kepada murid, dengan niat yang tulus dan do’a-do’a yang baik harus senantiasa mengalir kepada murid. Dengan rasa sayang yang tulus terhadap murid maka ilmu guru akan dapat ditangkap dengan baik oleh afeksi murid.

 

G. Etika Guru-Murid

            Adab kepada Guru (syekh), merupakan ajaran yang sangat prinsip dalam pendidikan islami, bahkan merupakan syarat dalam riyadlah seorang murid. Adab atau etika antara murid dengan Gurunya diatur sedemikian rupa, sehingga menyerupai adab para sahabat dengan Nabi Muhammad saw. Hal yang sedemikian ini karena diyakini bahwa hubungan (mu’asyarah) antara murid dan Guru adalah melestarikan tradisi (sunnah) yang terjadi pada masa Nabi.[29] Dan kedudukan murid menempati peran sahabat, dan Guru menggantikan peran Nabi, dalam hal bimbingan (irsyad) dan pengajaran (ta’lim).

            Menjaga etika antara guru-murid ini dapat dianalogkan dengan mengisi air. Jiwa guru sebagai wadah ilmu (ibarat air), sedangkan jiwa murid adalah wadah air orang yang ingin mendapatkan air. Maka menjaga etika adalah mengatur posisi wadah airnya guru (perasaan dan hati guru) dan wadah airnya murid (jiwa dan hati murid) yang dikenal dengan istilah afeksi, agar jiwa murid dapat terisi ilmu dari jiwa guru.

            Adab kepada Guru ini tersimpul dalam rasa cinta seorang murid kepada Gurunya, dengan sebenar-benarnya cinta.[30] Cinta berarti dorongan untuk bersatu atau mendekat, benci berarti dorongan menjauh. Hormat dan ta’dhim berarti meninggikan posisi guru sebagai wadah ilmu, sedangkan meremehkan berarti merendahkan posisi wadah ilmu tersebut.

            Di antara kitab pegangan murid Tarekat Qadriyah wa Naqyabandiyah ada yang menyebutkan secara rinci tentang adab seorang murid kepada gurunya. Adab tersebut dirumuskan secara terperinci dalam sepuluh point, yaitu :

1).      Seorang murid harus memiliki keyakinan, bahwa maksud dan tujuan suluknya tidak mungkin berhasil tanpa perantaraan gurunya. Karena jika seorang murid merasa bimbang dan ingin berpindah kepada guru lain, maka hal tersebut menjadi sebabnya hirman (terhijab) oleh nur gurunya tersebut, yang menghalangi sampainya pancaran  berkah (al-fayd al-rahmani). Hal ini bisa tidak terjadi kalau kepindahan murid kepada guru yang lain itu atas izin yang Jelas (sharih) dari gurunya yang semula. Atau jika guru yang pertama ternyata syari’at atau tarekatnya batal, dalam arti tidak cocok dengan syari’atnya Rasulullah. Jika keadaannya memang demikian, maka seorang murid harus pindah kapada guru yang lebih sempurna dan lebih zuhud, lebih wara’ dan lebih luas ilmu syari’at dan tarekatnya. Di samping itu harus dicari yang lebih selamat hatinya dari sifat tercela. Lagi pula ia memang seorang guru yang mendapat izin (bai’at) sebagai guru dari guru sebelumnya.

2).      Seorang murid  harus pasrah, menurut dan mengikuti bimbingan guru dengan rela hati. Ia juga harus melayani (khidmat) guru dengan rasa senang, rela dan lkhlas hatinya hanya karena Allah. Karena jauhar-nya iradah  (kehendak) dan mahabbah (kecintaan) itu tidak dapat jelas kecuali menurut, patuh dan khidmat (mengabdi).

3).      Jika seorang murid berbeda paham (pendapat) dengan guru, baik dalam masalah kuliyyah (Universal)  maupun juz’iyyah (sektoral) , masalah ibadah maupun adat, maka murid harus mutlak mengalah dan menuruti pendapat gurunya karena menentang (i’tiradl) guru itu menghalangi berkah dan menjadi sebab akhir hayat yang tidak baik (su’ul khatimah).

Na’udzu billah min dzalik. Kecuali jika guru memberikan kelonggaran kepada murid untuk menentukan pilihannya sendiri.

4).      Murid harus berlari dari semua hal yang dibenci gurunya dan turut membenci apa yang dibenci gurunya.

5).      Jangan tergesa-gesa memberikan atau mengambil kesimpulan (ta’bir) atas masalah-masalah seperti: impian, dan isyarat-isyarat, walaupun ia lebih ahli dari gurunya dalam hal itu. Akan tetapi sampaikan hal itu kepada guru dan jangan meminta jawaban. Tunggu saja jawabannya pada waktu yang lain dan kalau tidak dijawab maka diamlah. Yakinlah diamnya guru karena ada hikmah. Dan apabila murid ditanya guru, atau diperintahkan menerangkan sesuatu, maka ia harus menjawab seperlunya.

6).      Merendahkan suara di majelis gurunya dan jangan memperbanyak bicara dan tanya jawab dengan gurunya, karena semua itu akan menjadi sebabnya mahjub (tertutup hatinya).

7).      Kalau berniat menghadap guru jangan sekonyong-konyong, atau tidak tahu waktu. Jangan menghadap guru dalam waktu sibuk, atau dalam waktu istirahat. Dan kalau sudah menghadap, jangan bicara sesuatu kecuali yang menyenangkan hati guru serta harus tetap menjaga kesopanan (khudlu’ dan tawadlu’), jangan memandang ke atas, melihat kanan-kiri, atau bicara dengan teman. Tetapi menghadaplah dengan penuh perhatian terhadap perkataan guru. Karena jeleknya tatakrama (su’ul adab) kepada guru bisa menjadikan tertutup (hirman) dari pencerahan  (futuh). Dan jangan lama-lama berhadap-hadapan dengan guru tetapi sekedar perlunya kemudian segera memohon diri, kecuali jika dicegah oleh guru, maka juga harus menurut.

8).      Jangan menyembunyikan rahasia di hadapan guru, tentang kata hati, impian, kasyaf (pandangan indra ke enam) maupun keluarbiasaan (karamah)-nya. Katakanlah dengan terus terang.

9).      Murid tidak boleh menukil pernyataan guru kepada orang lain, kecuali sekedar yang dapat dipahami oleh orang yang diajak bicara. Dan itupun perkataan-perkataan yang diizinkan untuk disebar luaskan.

10).   Jangan menggunjing, mengolok-olok, mengumpat memelototi, mengkritik dan menyebarluaskan aib guru kepada orang lain. Dan murid tidak boleh marah ketika maksud dan tujuannya dihalangi oleh guru. Murid harus yakin, guru meghalangi karena ada hikmah,dan bila diperintah guru harus berangkat walaupun terasa berat menurut perhitungan  nafsunya.

     Apabila murid mempunyai keperluan dengan guru, jangan sekali-kali berkirim surat, atau menyuruh orang lain. Tetapi datanglah dengan menghadap sendiri, dan berkatalah yang menyenangkan guru. Dan jika murid menghendaki kedatangan guru ditempatnya (murid), jangan sekali-kali memaksa, tetapi mintalah kelonggarannya. Walaupun mungkin secara fisik guru tidak dapat datang, yakinlah bahwa rohani guru, atau do’a restunya bisa datang ke tempat murid.

            Jangan sekali-kali murid berkata : “Pak guru fulan  itu dulu guru saya, tetapi sekarang bukan, karena saya sekarang tidak mengaji dan belajar kepadanya. “dan adalah bodoh kwadrat jika ada seorang murid berkata: “Makanya saya berani dengan guru, karena memang dia yang salah kepadaku.” Demikian juga kalau sedang mengikuti majelisnya guru, janganlah sampai keluar atau pulang sebelum waktunya. Tetapi jangan bikin gaduh (taswis) atau memperbanyak pertanyaan kepada guru. Tetapi diam dan perhatikan semua perkataan guru, dan terima isyarat-isyarat guru dengan hati yang ikhlas karena Allah. Dan hati harus dipenuhi dengan rasa senang kepada guru beserta keluarganya.

                 Dan jika guru dipanggil oleh Allah (wafat), maka sebaiknya jangan mengawini bekas isterinya. Akan tetapi murid bisa mengawini anaknya, dengan niat  khidmah. Dan anggaplah putra-puri guru sebagai saudara sendiri (dalam hal hormat dan kasih sayang). Karena sesungguhnya guru itu adalah bapak spiritual. Sedang bapak sendiri adalah bapak jasmani.[31]

[4]Ahmad Faruqi al – Shirhindi adalah seorang mursyid Tarekat Naqsyabandiyyah di India (w.1624 M). Tarekat Naqsyabandiyyah yang berada di bawah kemursyidannya  kemudian disebut dengan Nasyabandiyyah Mujaddidiyah. Baca Martin Van Bruinnesen, Tarekat Naqsyabanduyah di Indonesia , Bandung : Mizan, 1995 , h. 55. Mir Valiudin, Contemplative Disciplines in Sufism diterjemahkan oleh MS. Nasrullah dengan judul Dzikir dan Kontemplasi dalam Tasawuf ,  Jakarta : Pustaka Hidayah, 1996 , h. 140.

 

[5]Ibid ., h. 141. Tentang beberapa lathaif menurut beberapa sufi dapat dibaca pada Shigeru Kamada, A. Studi of the Term Sirr (Secrets) in Sufi Lathaif Theories, diterjemahkan oleh MS. Nasrullah dengan judul “ Telaah Istilah Sirr (Rahasia) - dalam teori – teori lathaif  Sufi, dalam al – Hikmah : Jurnal Studi – studi Islam ,  Bandung : Yayasan Mutahhari, vol VI/1995, h. 57 – 77.

[6]M. Amin al – Kurdi, loc.cit. h. 408.

[7]Penjelasan KH. Zamroji Saerozi, mursyid Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Kediri Jatim. Wawancara, Kediri tanggal 23 Juli 1996. Muh. Amin al-Kurdi, ibid., Mutawali al-Sya’rani, Nihayat al-A’lam,  diterjemahkan oleh Amir Hamzah Farudin dengan judul Rahasia Allah di Balik Hakikat Alam Semesta , Bandung: Pustaka Hidayah, 1994, h. 28.

[8]M. Amin al-Kurdi, loc. cit.

[9]Pendidikan dan pelatihan jiwa ini juga biasa disebut dengan Tazkiyat al-nafsi atau tashfiyat al-qalbi (membersihkan hati). Abd. Barro’ Sa’ad ibn Muhammad al-Takhisi, Tazkiyat al-Nafsi, diterjemah oleh Muqimudin Sholeh dengan Judul Tazkiyatun Nafsi ,Solo:CV. Pustaka Mantiq, 1996, h. 27.

[10]Ibn Qayyim al-Jauziyah mengatakan bahwa, perbedaan antara ruh dan nafs hanya menyangkut sifat-sifatnya bukan zatnya, Syamsudin  Abi Abdillah Ibn Qayyim al-Jauziyah, Al-Ruh fi al-Kalam ala Arwah al-Amwat wa al-Ahya’ , Beirut:Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1992, h. 296.

[11]Nama-nama jiwa ini diberikan berdasarkan sifat-sifatnya, Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Ihya’, op.cit., h. 4.

[12]Bertempat lathifat yang bersifat immaterial ke dalam badan badan jasmani manusia adalah sepenuhnya karena “kuasa” Allah. Allah menciptakan “kendaraan” media bereksistensi bagi ruh dalam diri manusia berupa “ruh kimiawi” atau biolistrik yang oleh al-Dahlawi disebut dengan Nasamah dan ia bersifat barzakhiyah, Syekh Waliyullah Abd. Rahim al-Dahlawi, Hujjat Allah al-Balighah, Jilid I , t.d., h. 38-40.

 

 

[13] Taufiq Pasiak, Revolusi IQ/EQ/SQ, antara Neurosains dan Al-Qur’an,Bandung,Pustaka Mizan, 2005, h.94.

[14] John Dewey, Democracy and Education dikutip oleh Khursyid Ahmad, Prinsip-prinsip Pendidikan Islam (Surabaya: Pustaka Progressif, 1992), h. 15. Baca H.M. Arifin, Pendidikan Islam (Jakarta : Bumi Aksara, 1994), h. 1,3.

[15] Hasan Langgulung, Asas-asas pendidikan Islam (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1988), h. 313.

[16] Ilmu tarekat adalah ilmu yang dipergunakan untuk mengetahui hal ihwal jiwa dan sifat-sifatnya. Mana yang jelek menurut syari’at supaya dijauhi dan mana yang terpuji menurut syara’ untuk dilaksanakan, serta membahas bagaimana cara membersihkan jiwa, hati, dan ruh dari kotoran dan penyakit-penyakitnya. Muslikh Abd. Rahman, al-Futuhat, op. cit., h. 45. Zamroji Saerozi, al-Tazkirat, op. cit, 14. Mir Valiuddin, op. cit, h. 21.

[17] Lihat Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, kimiya’, op. cit., h. 112.

[18] Kimiya’ al-sa’adat dijadikan judul buku oleh Imam al-ghazali dengan pengertian prinsip-prinsip alamiah yang berlaku pada jiwa. Baca Abu Ahmid Muhammad al-Ghazali, Kimiya’ al-Sa’adat dicetak bersama al-Munqid min al-dalal, op. cit., h. 104-133.

[19] Titus Berckhrardt, An Introduction to sufi Doctrin diterjemahkan oleh Azyumardi Azra dengan judul Mengenal Ajaran Kaum Sufi (Jakarta : Dunia Pustaka, 1984), h. 122-123.

[20] Pemahman terhadap jiwa yang demikian ini sejlan dengan filsafat materialism dalam pendidikan, yaitu filsafat yang berpandangan bahwa jiwa dapat turun kedudukannya sebagaimana benda-benda material. Di dalam jiwa terdapat kekuatan ekspresif yang bersifat alamiah seperti panas, dingin, kebasahan dan kekeringan. Serta ada juga keadaan yang dapat membentuk fungsi belerang dan air raksa dalam jiwa. Sementara yang menggebu dalam jiwa berkaitan dengan kutub aktif yang sama dengan belerang, sedangkan semngat yang bertentangan dan semangat pelaratan yang “basah” berhubungan dengan kutub pasif yang disebut air raksa dalam kimia. Proses pembentukan jiwa riyadat al-nafs dengan anologi proses kimiawi dapat dibaca dalam, Titus Bucchardt, op. ,cit. h. 122-126.

[21] Takhalli adalah proses pembersihan, tahalli proses penghiasan dan tajalli merupakan tahpan sebagai hasil dari proses tersebut. Tajalli adalah penampkan Tuhan dalam hati seseorang hamba yang telah cemerlang  karena proses takhalli dan tahalli. Penjelasan KH. Maky Maksoem, wawancara Jombang, 29 Juli 1996. Dapat pula dilihat dalam Mustafa Zuhri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf (Surabaya: Bina Ilmu, 1995), h. 74-89. Ketiga tahapan dalam mencapai tajalliyat Allah atau ma’rifat Allah tersebut ada kesamaannya dengan tradisi gnotisisme, pada umumnya, yaitu purgative, contemplative dan iluminitive. Baca Simuh, Sufisme Jawa: Transpormasi tasawuf Islam ke Mistik Jawa (Yokayakarta: Yayasan Bintang Budaya, 1995), h. 40-43.

[22] Baca praktek zikir pada bab V.

[23] Dalam proses takhalliyat amalan lebih ditekankan pada aspek akhlaq dan menjaga kesucian lahir batin, yang menurut merode suluknya al-Hakim al-Tirmizi terdiri dari tiga akhlaq utama, yaitu : kebenaran anggota tubuh, keadilan hati, kejujuran akal. Baca dalam al-Jayashi M. Ibrahim, al-Hakim al-Tirmizi Muhammad Ibn Ali al-Tirmizi, Dirasat fi Asarihi wa Afkarihi (Kairo: Dar al-Nahdat al-Arabiyah, t.th.), h. 325. Mustafa Zahri, op. cit., h. 74-81.

[24] Analogi yang lain untuk penempaan jiwa adalah dimensi psikoterapi, yang menggambarkan proses takhalliyat sebagai pembersihan jiwa dan proses tahalliyat sebagai pengobatannya. Walaupun tujuan akhir dari psikoterapi dalam arti umum berbeda dengan psikoterapi kaum sufi, tetapi keduanya memiliki proses searah dan objek yang sama. Baca Hanna Djumhana Bustaman, Integrasi Psikologi dengan Islam : Menuju Psikologi Islam (Yokyakrta : Insan al-Kamil Pustaka Pelajar, 1995), h. 130-131.

[25] Prinsip interiorisasi jiwa dalam Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, menggambarkan bahwa semakin ke dalam kesadaran jiwa akan semakin suci bersih, dan cemerlang untuk dapat memantulkan hakikat segala sesuatu (lihat gambar). Al- Ghazali menggambarkan seperti cermin, sehingga semakin bersih cermin hati seseorang akan semakin jelas gambar yang tampak di dalamnya bahkan apa yang  akan dalam lauh mahfuzpun akan  tampak di dalam hati  ini. Lihat al-Ghazali, al-Kimiya’, op. cit., h. 124.

 

[26] Itulah sebabnya sehingga orang awampun banyak yang menggapai kehidupan kesufian dengan melalui tarekat. Dalam terekat yang diajarkan langsung praktek takhaliyat yang berupa dzikir. Sehingga dengan asarnya dzikr tersebut murid dapat membersihkan jiwanya lebih mudah. Dan dzikr ini harus diterima secara mutalaqqiyan. Sahibuddin, Metode mempelajari  ilmu Ilmu Tasawuf Menurut Ulama Sufi (Surabaya: Media Varia Ilmu, 1996), h. 37.

[27] Lima hal ini adalah obatnya hati  yang sangat uatma. Abu Bakar al-Makky, Kifayat al-Atqiya’ wa Minhaj al-Asfiya’ (Surabaya: Sahabat Ilmu, t. th.),

[28] Abu Husain Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, jilid I (Beirut: Dar al-Fikr, 1992), 124.

[29] Annemarie Schimmel, Mystical Dimension of Islam, diterjemahkan oleh S. Djoko Damono, dkk, dengan judul Dimennsi Mistik dalam Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986, h. 104. 242

           [30] Abd. Wahab al-Sya’rani, op. cit., h. 114

       

[31] Muslikh Abdurrahman, al-Futuhat, op. cit., h. 33-39. Bandingkan dengan Abd. Qadir al-Jailani, op. cit., h. 164 – 168.

 

Last Updated ( Monday, 23 August 2010 )
 
< Prev
Sedang Online
HIT COUNTER

Design by Metafisika center team.org | Powered by Metafisika-center.org |