.:: Metafisika Center ::.


Halaman Depan arrow Buku Seri Metafisika
Sunday, 05 September 2010
METAFISIKA CENTER
Halaman Depan
Profil Metafisika Center
Buku Seri Metafisika
Kontak
Kuliah Online
Kajian Tasawuf
TAREKAT
Info Tarekat
Jasa Metafisika
Jasa Metafisika
PESANTREN TERPADU
Profil pesantren
Pesantren Mistiko Informatika
LAZIS YPP D U A
Profil Lazis YPP D U A
Info Lazis
Redaksi Lazis
Formulir Donatur
SETETES RAHASIA IBADAH

KITAB Kifayah Al-Atqiya’ Wa Minhaj Al-Ashfiya’

Karya Sayaid Abi Bakar Ibn Sayyid Muhammad Shata Al-Dimyathi

 

Oleh : M. Dimyathi

NIM : F0540675

 

A. Pendahuluan

 

Segal puji bagi Allah yang telah memberikan pertolongan kepada hambanya yang terpilah sehingga mereka memperoleh kemulyaan, dan yang telah menghilangkan kegelaan dan kecintaan kepada selain Allah di hati mereka. Dan yang telah memberikan kebersihan hati dan ilmu dari segala kotoran-kotoran hati. Rahmat Allah dan keselamatan semoga terlimpahkan kepada hambaNya yang telah menghadap kepadaNya dengan ketenangan jiwa, yang talah menyinari seluruh jagad raya, dan yang mendorong umatnya untuk selalu ta’at kepada Dzat yang maha mulya dan yang melarang hambany untuk mengikuti hawa nafsu, syaitan, dan segala hal yang mengajak kepada kesesatan.

Demikian tadi, apa yang ditulis oleh Sayyid Abu Bakar penulis buku Kifayah Al-Atqiya’  Wa Minhaj Al-Ashfiya’ dalam pembukaan buku tersebut. Dengan segalah kerendahan, penulis menyatakan bahwa atas permintaan masyarakat sekitar, penulis menyusun buku tersebut yang merupakan penjabaran dari buku sya’ir (qahidayah) hidayah Al-atqiya’ Ila Thariq Al-Awliya’ yang ditulis oleh syaikh zain Al-Din Al-Malibari. Dengan tegas disampaikan oleh penulis, bahwa metode yang digunakan adalah mengumpulkan dan mengambil perkataan dan pendapat Ulama-ulama yang memiki wawasan dan pengetahuan batin yang mendalam. Tak lupa, penulis juga menyampaikan kepada siapa saja yang membaca bukunya agar bersikap kritis konstruktif terhadap isi buku, diakui masih banyak kekurangan-kekurangan yang memerlukan pembenahan dengan cara yang baik dan arif pula.

Buku Kifayah Al- Atqiya’  Wa Minhaj Al-Ashfiya’ adalah buku tasawuf yang cukup komperehensif. Sebagaimana buku-buku tasawuf yang lain, buku ini mebicarakan tentang hal-hal yang berhubungan dengan persoalan bagaimana seorang hamba bias dekat dengan Tuhanya. Dunia tasawuf merupakan dunia esoterik, yang menjadi persoalannya adalah hati. Seorang hamba bisa dekat dengan Tuhanya, jika hatinya bersih dari kotoran-kotoran yang menghalangi hubungan batin dengan Tuhan. Untuk wushul kepada Tuhan, hati harus dibersihkan dari kotoran-kotoran untuk kemudian diisi dengan hiasan-hiasan sifat-sifat terpuji. Kotoran-kotoran hati berwujud sifat-sifat tercela yang diantaranya adalah takabur, riya, wara’, qana’ah, dan lain sebagainya.

Secara keseluruhan, buku ini berisi cara atau metode yang bias menghantarkan seorang hamba kepada Tuhan, apa yang pertama kali harus dilakukan sebagai persiapan untuk mencapai maqam yang diinginkan. Untuk mencapai maqam tersebut, penulis buku memberikan wejangan-wejangan yang terangkum dalam suatu wejangan, yaitutTauba, Qana’ah, Zuhud, mencari ilmu agama, menjalankan ibadah sunah, tawakal, ikhlas, uzlah, serta manajemen waktu. Pada prinsipnya, syarat seorang hamba agar bias dekat dalam Tuhanya adalah dengan menjalankan perintah-perintahnya, baik perintah yang wajib maupun perintah yang sunah. Sebagaimana keterangan yang ada, bahwa perintah wajib adalah perintah yang melakukannya mendapakatkan pahala, sebaliknya jika meninggalkanya akan mendapat dosa, sehingga bias dikatakan bahwa perintah wajib merupakan batas minimal ketatan seorang hamba kepada Tuhanya. Adapun perintah sunah dimaksudkan untuk menambal perintah wajib jika ada kekurangan-kekurangan, atau bias juga di artikan bahwa perintah sunah merupakan dari printah wajib sehingga hal yang sempurna akan menjadi lebih sempurna, hal yang baik akan menjadi lebih baik lagi.

Dalam tugas resum ini, yang dibahas secara lebih lebih luas bukanlah sift-sifat terpuji yang menjadi hiasan hati sebagaimana disinggung secara singkat diatas, melainkan satu pembahasan (ditaru dibagian awal buku Kifayah Al- Atqiya’  Wa Minhaj Al-Ashfiya’) yang mengupas tentang hubungan antara syari’ah,thariqah, dan haqiqah. Hal ini, menurut hemat kami, sangat penting seali karena masih banyak sekali kalangan awam yang belum paham tentang thariqah saja atau pun haqiqah saja tanpa mengerti syari’ah sehinggah menyebabkan mereka menjadi sesat jalannya.

 

B. Syari’ah, Thariqah, Dan Haqiqah

 

Tiga hal ini merupakan tahapan-tahapan yang harus dilalui seorang hamba yang ingin dekat dan wuhul kepada TuhaNya, karena nikmat Allah termasuk balasan surga merupakan anugrahNya yang tak bisa ditukar atau diganti dengan sesuatu apapun termasuk amal baik manusia. Sebaliknya, jika ada hamba yang masuk neraka, hal itu merupakan murni keadilan Allah, Allah adalah Dzat yang Maha Kuasa yang tak bisa ditanya tentang apa yang diperbuataNya. Puncak dari tahapan-tahapan itu adalah haqiqat yang merupakan tujuan inti perjalanan seorang hamba menuju kepada tuhaNya. Kalau diibaratkan, syari’at adalah kapal atau perahu, tariqat adalh laut, dan haqiqat diibaratkan seperti intan permata. Seorang hamba yang ingi mendapatkan intan permata, maka ia harus mengurangi laut yang luas menuju ke tengahnya dengan menggunakan perahu atau kapal.

 

1. Syari’at

 

    Syari’at merupakan amlan-amalan seorang hamba yng didasarkan atas perintah dan larangan hamba yang didaarkan atas perintah dan larangan agama. Agama Islam yng dibawa oleh Nabi Muhammad SAW bersikap perintah dan larangan. Perintah biasanya bersikan hal yang wajib dan hal yang sunah, yang kedua-duanya mempunyai implikasi langsung kepada pelakunya. Sedangkan larangan biasanya identik dengan hal yang haram dan hal yang makruh. Baik perintah maupun larangan harus ditaati oleh seorng muslim yng ingin menempuh jalan menuju TuahaNya yang mencerminkan ketaatan kepada syari’at

 

2. Thariqat

 

Thariqat diartikan sebagai menjalankan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari dengan mengambil langka yang paling hati-hati, seperti misalnya berperilaku wara’. Imam Al-Qusyairi mengatakan bahwa wara’ adalah meninggalkan syubhat atau hal-hal yang belum jelas. Sedangkan L-Gazali mengatakan bahwa wara’  memiliki empat tingkatan, yang paling rendah adalah wara’nya orang saleh, yaitu meninggalkan syubhat yang belum jelas antara halal dan haramnya, yang ketiga adalah wara’nya para shiddiqin, yaitu meninggalkan sesuatu yang membawa kepada bahaya atau madlarat.

3. Haqiqat

 

Haqiqat merupakan puncak dari perjalanan panjang seorang hamba atau salik, bisa dikatakan bahwa haqiqat merupakan buah hasil tanaman yang taelah ditanam dengan susah payah. Haiqiqat merupakan titik puncak pencapaian seorang hamba yang tersimbol kedalam hati seorang hamba, dimana hati tersebut, dengan mata batinnya merasakan akan keberadaan TuhaNya yang berakibat kepada lupa akan hal-hal selain Tuhan, sehingga dimana saja dan kapan saja, yang terbesit didalam hatinya adalah keberadaan Tuhan. Itulah yang dimaksud dengan haqiqat sebagaimana yang dialami oleh para Sufi seperti Yazid Al-Hallaj, serta Syuhrawardi Al-Maqtul.

Design by Metafisika center team.org | Powered by Metafisika-center.org |